Pasar Saham AS Diprediksi Naik Moderat di 2025, Didukung Pertumbuhan Laba dan Inovasi AI

- Publisher

Kamis, 6 November 2025 - 09:45 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP memberikan analisis tentang arah pasar saham global dan strategi investasi 2025. Menurutnya, investor perlu berhati-hati menghadapi volatilitas pasar dengan tetap fokus pada fundamental dan diversifikasi portofolio.

Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP memberikan analisis tentang arah pasar saham global dan strategi investasi 2025. Menurutnya, investor perlu berhati-hati menghadapi volatilitas pasar dengan tetap fokus pada fundamental dan diversifikasi portofolio.

SUARA UTAMA – Surabaya, 6 November 2025 – Pasar saham Amerika Serikat diperkirakan masih akan mencatatkan pertumbuhan pada tahun 2025, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan dua tahun terakhir. Sejumlah analis dari lembaga keuangan besar seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs menilai bahwa kenaikan indeks seperti S&P 500 akan lebih ditopang oleh peningkatan laba perusahaan dan dorongan inovasi teknologi, bukan hanya euforia investor.

 

Optimisme Berlanjut, Namun Tidak Euforia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut laporan Morgan Stanley Insights, tren pertumbuhan laba perusahaan mulai meluas di luar perusahaan raksasa teknologi, menandakan pasar yang lebih seimbang. “Kenaikan tahun depan kemungkinan tidak akan sebesar 2023–2024, tetapi lebih sehat dan berkelanjutan,” tulis analis utama Morgan Stanley.
Sementara itu, Goldman Sachs menegaskan bahwa investor sebaiknya tetap bertahan di pasar. “Fundamental ekonomi AS tetap kuat, terutama dengan dorongan produktivitas dari sektor kecerdasan buatan (AI),” ungkap laporan yang dikutip MarketWatch.

 

Risiko Tetap Mengintai

Meski prospeknya positif, para analis memperingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat menekan pasar. Valuasi saham yang sudah tinggi, perlambatan ekonomi global, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga dan tarif perdagangan menjadi tiga faktor utama yang dapat memicu volatilitas.
“Pasar saat ini sudah priced in untuk kabar baik. Jika ada kejutan negatif, ruang koreksi cukup terbuka,” ujar analis Morningstar dalam laporan triwulanannya.

 

Komentar Pakar: Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP

Pakar ekonomi dan perpajakan, Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, menilai bahwa arah pasar saham AS pada 2025 akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan The Fed dan stabilitas global.

“Investor harus memahami bahwa pasar AS kini berada pada fase maturity cycle. Kenaikan masih mungkin terjadi, tetapi tidak lagi seagresif dua tahun lalu. Fokuslah pada fundamental dan hindari spekulasi jangka pendek,” ujar Yulianto.

Beliau juga menekankan pentingnya diversifikasi aset lintas negara, termasuk pasar Asia dan komoditas seperti emas, untuk mengimbangi potensi koreksi di pasar AS.

“Ketika valuasi di AS sudah tinggi, investor bijak akan mencari keseimbangan portofolio dengan aset defensif. Ini bukan soal mengejar keuntungan cepat, melainkan menjaga keberlanjutan investasi,” tambahnya.

BACA JUGA :  Polres Merangin Ungkap Curanmor, Satu Pelaku Ditangkap dan Satu Masih DPO

 

Proyeksi dan Strategi Investor

Berdasarkan proyeksi Finance Yahoo, target kenaikan indeks S&P 500 untuk tahun 2025 berada di kisaran 5–10 %, tergantung pada arah inflasi dan kebijakan moneter Federal Reserve.
Investor disarankan untuk lebih selektif, mengalihkan sebagian portofolio ke sektor bernilai (value stocks) atau industri yang masih undervalued seperti energi dan keuangan.

“2025 adalah tahun bagi disiplin investasi, bukan euforia,” tulis Business Insider dalam artikelnya. “Diversifikasi lintas sektor dan wilayah akan menjadi kunci menghadapi fluktuasi global.”

 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, sentimen pasar saham AS tetap positif, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, inovasi teknologi, dan optimisme terhadap produktivitas baru dari AI. Namun, para analis dan pakar seperti Yulianto Kiswocahyono mengingatkan bahwa potensi koreksi tetap ada, sehingga investor perlu menyeimbangkan antara peluang dan kehati-hatian.

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Terkesan Tidak Percaya Pemerintah, Aktivis Sebut Tidak Lazim dan Mendesak Bank Jatim Cabang Kraksaan Segera Penuhi Janjinya 
Andre Hariyanto Kantongi Sertifikat UKW Harian Kompas, Resmi Kompeten sebagai Wartawan Dewan Pers
Aparatur Desa Tagih Janji Bank Jatim Cabang Kraksaan, Pimpinan Sibuk Full Hingga 10 Hari Kerja Tidak Bisa Temui Media
Oknum Kepala SDN Sumberagung Memilih Diam, Ketua DPC Projamin Geram Atas Dugaan Praktek Pungli dan Penjualan LKS
Jokowi Perlihatkan Ijazah SD hingga S1 dalam Persidangan Kasus Polemik Ijazah
Budpar Dogiyai Matangkan Persiapan Pekan Kreasi Daerah II
Pemimpin Redaksi Suara Utama, Andre Hariyanto Soroti Dugaan Penyadapan Presiden hingga Media
Terindikasi Borong Pelanggaran, Oknum di SDN Tamansari lll Diduga Menarik Iuran Perminggu, Perbulan dan Penjualan LKS
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 09:51 WIB

Terkesan Tidak Percaya Pemerintah, Aktivis Sebut Tidak Lazim dan Mendesak Bank Jatim Cabang Kraksaan Segera Penuhi Janjinya 

Sabtu, 7 November 2026 - 10:45 WIB

Andre Hariyanto Kantongi Sertifikat UKW Harian Kompas, Resmi Kompeten sebagai Wartawan Dewan Pers

Jumat, 6 November 2026 - 09:51 WIB

Aparatur Desa Tagih Janji Bank Jatim Cabang Kraksaan, Pimpinan Sibuk Full Hingga 10 Hari Kerja Tidak Bisa Temui Media

Kamis, 5 November 2026 - 19:09 WIB

Oknum Kepala SDN Sumberagung Memilih Diam, Ketua DPC Projamin Geram Atas Dugaan Praktek Pungli dan Penjualan LKS

Kamis, 5 November 2026 - 18:13 WIB

Jokowi Perlihatkan Ijazah SD hingga S1 dalam Persidangan Kasus Polemik Ijazah

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp