Lapak Baca Nabire Gelar Diskusi Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua

- Writer

Minggu, 22 Februari 2026 - 15:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAUTAMA,Nabire- Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire kembali menggelar pada Sabtu, 21 Februari 2026, pukul 14.30 WIT hingga selesai. Kegiatan yang berlangsung di Asrama Intan Jaya Kalibobo, Nabire Papua Tengah.

Lapak Baca Nabire dan Diskusi Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua ini mengangkat tema “Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua”.

Dalam diskusi tersebut menjadi ruang refleksi bersama atas perjalanan panjang situasi kemanusiaan di Papua yang dinilai belum menemukan penyelesaian menyeluruh.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Lapak Baca Nabire Gelar Diskusi Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Moderator diskusi, Mepa segeni menyampaikan bahwa krisis kemanusiaan di Papua tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik sejak 1961. Menurutnya, sejak periode itu berbagai persoalan kekerasan, konflik, dan ketertinggalan pembangunan mulai mengakar dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat adat Papua.

Ia menegaskan bahwa persoalan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi di Papua tidak dapat dipisahkan dari konteks politik dan konflik yang berkepanjangan.

“Pendidikan, kesehatan, dan ekonomi orang Papua tertinggal karena sumber masalahnya sejak awal adalah politik dan konflik,” ujarnya.

Pembicara Yosua dalam paparannya menyebut krisis kemanusiaan saat ini sebagai akumulasi dari sejarah panjang kolonialisme dan kebijakan pembangunan yang dinilai belum berpihak sepenuhnya kepada masyarakat adat Papua.

Ia menyoroti kondisi di wilayah pegunungan dan pedalaman yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Selain itu, ia juga menyinggung dampak kehadiran aparat keamanan di sejumlah wilayah yang menurutnya memunculkan rasa trauma dan pengungsian warga sipil di Papua.

BACA JUGA :  PERMA 3/2025 Dinilai Perkuat Kepastian Hukum Penindakan Kejahatan Pajak

“Krisis ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal rasa aman dan martabat manusia Papua,” ungkapnya.

Dalam diskusi, peserta turut menyinggung pentingnya perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka merujuk pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menjamin hak hidup, hak atas pendidikan, kesehatan, dan rasa aman bagi setiap warga negara.

Pembicara Usel Selegani Punup juga menekankan pentingnya menjaga tanah dan hutan adat sebagai sumber kehidupan masyarakat Papua.

“Karena ada alam, kita bisa hidup. Kalau tidak ada alam, kita tidak bisa hidup. Kami tidak mau hutan adat kami dirusak,” tegasnya.

Papua dalam situasi darurat kemanusiaan maka Diskusi ditutup dengan ajakan kepada masyarakat sipil, gereja, mahasiswa, dan pemerintah daerah untuk membuka ruang dialog yang lebih jujur dan inklusif terkait kondisi Papua saat ini.

Peserta menilai bahwa pembangunan yang berjalan tanpa menghormati hak-hak dasar manusia Papua hanya akan memperdalam luka dan ketidakadilan di bumi Papua.

Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire ini komitmennya untuk terus menghadirkan ruang diskusi kritis dan membangun solidaritas demi terwujudnya kehidupan yang lebih adil dan manusiawi bagi masyarakat Papua.

Berita Terkait

Melebar, Serkel Kayu Desa Klenang Kidul Selain Diduga Ilegal, Diduga Pula Menggunakan BBM Bersubsidi 
Camat Girian Bitung Turun Langsung dampingi Pemakaman Warga, Paparkan Program Pemerintah Kota Bitung,
Menjaga Marwah Kemanusiaan Melalui Respons Kritis PMII UMAHA Sidoarjo Terhadap Kasus Anggota Brimob dalam Kekerasan di Tual
Dua Dapur Serta Isinya Ludes di Lalap si Jago Merah, Forpimcam Tiris Serahkan Bantuan 
Dapur MaMa Ajaib Berbagi Takjil di Taman Soekarno Kotaagung, Wujud Kepedulian di Bulan Ramadhan
Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Saleh Asnawi–Agus Suranto, Pemkab Tanggamus Gelar Tasyakuran dan Buka Puasa Bersama
Mahasiswa Papua Tengah Gelar Mimbar Bebas, 18 Tuntutan Disuarakan
Diduga Serkel Kayu Ilegal Yang Berpotensi Ancaman Penjara dan Denda, Pakopak Ikut Angkat Bicara 
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 22 Februari 2026 - 15:04 WIB

Lapak Baca Nabire Gelar Diskusi Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua

Minggu, 22 Februari 2026 - 10:03 WIB

Melebar, Serkel Kayu Desa Klenang Kidul Selain Diduga Ilegal, Diduga Pula Menggunakan BBM Bersubsidi 

Minggu, 22 Februari 2026 - 08:53 WIB

Camat Girian Bitung Turun Langsung dampingi Pemakaman Warga, Paparkan Program Pemerintah Kota Bitung,

Sabtu, 21 Februari 2026 - 23:47 WIB

Menjaga Marwah Kemanusiaan Melalui Respons Kritis PMII UMAHA Sidoarjo Terhadap Kasus Anggota Brimob dalam Kekerasan di Tual

Sabtu, 21 Februari 2026 - 12:49 WIB

Dua Dapur Serta Isinya Ludes di Lalap si Jago Merah, Forpimcam Tiris Serahkan Bantuan 

Berita Terbaru

Berita Utama

Lapak Baca Nabire Gelar Diskusi Krisis Kemanusiaan di Tanah Papua

Minggu, 22 Feb 2026 - 15:04 WIB