Fenomena Demo Bubarkan DPR, Rakyat Indonesia Justru Solid Dukung Eksistensi Legislatif

- Publisher

Kamis, 28 Agustus 2025 - 20:30 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Gedung Aktivitas DPR RI (dpr.go.id)

Gambar Gedung Aktivitas DPR RI (dpr.go.id)

SUARA UTAMA – Aksi demonstrasi pada 25 Agustus 2025 di Jakarta yang menyerukan pembubaran DPR mengemuka di tengah kritik publik terhadap lembaga tersebut. Namun, survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa meski kepercayaan publik hanya sebesar 69%, mayoritas masyarakat tetap menilai DPR memiliki peran penting dalam sistem demokrasi rmollampung.idsuara.com.

Saldo kepercayaan meski rendah, namun stabil, menunjukkan bahwa rakyat masih mengakui fungsi legislatif sebagai pilar demokrasi. Kritik terhadap tidak terbukanya DPR (hanya 55,1% rapat terbuka) serta besarnya tunjangan yang tidak selaras dengan kinerja nyata menambah beban moral terhadap lembaga itu Islami[dot]cormollampung.idINAnews.

Pakar seperti Asrinaldi dan Lucius Karus melihat rendahnya kepercayaan sebagai refleksi buruknya pendidikan politik dan representasi legislator, namun mereka berharap angka 69% dapat menjadi momentum bagi parlemen untuk memperbaiki diri Temposuara.com.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Adi Prayitno menyerukan DPR untuk tampil apa adanya: membuka diri, meningkatkan transparansi, dan memamerkan kinerja konkret melalui media publik INAnews.

Secara historis, pembubaran DPR selalu berakhir dengan distorsi demokrasi, seperti era otoriter di bawah Sukarno dan Gus Dur. Prof. Mahfud MD mengingatkan bahaya wacana ekstrem seperti itu infoaceh.net.

BACA JUGA :  Tarif Nol Rupiah untuk Pencatatan Lagu Mulai Disosialisasikan, DJKI Dorong Perlindungan Hak

Secara kelembagaan, DPR adalah simbol kedaulatan rakyat dan memiliki tugas berat secara hukum dan moral. Sugiatan Santoso menekankan bahwa institusi ini tetap penting, meski kinerjanya masih harus diperbaiki rmollampung.id.

DPR di Pusaran Kritik Publik

Kritik terhadap DPR bukanlah hal baru. Lembaga legislatif kerap menjadi sasaran ketidakpuasan masyarakat, mulai dari isu korupsi, konflik kepentingan, hingga lemahnya fungsi pengawasan. Fenomena aksi demonstrasi yang menyerukan pembubaran DPR adalah bentuk ekstrem dari akumulasi kekecewaan tersebut.

Namun, bila ditelusuri lebih dalam, narasi “bubarkan DPR” sejatinya tidak mewakili aspirasi keseluruhan rakyat Indonesia. Suara mayoritas justru menegaskan bahwa DPR tetap diperlukan sebagai lembaga penyalur aspirasi rakyat, pengawas pemerintah, sekaligus pembuat undang-undang.

Solidaritas Dukungan terhadap Eksistensi Legislatif

Berbagai survei nasional menunjukkan bahwa meski kepercayaan publik terhadap DPR mengalami fluktuasi, mayoritas masyarakat masih menilai lembaga legislatif tak tergantikan dalam sistem demokrasi. Dukungan ini muncul dari kesadaran bahwa tanpa DPR, ruang kontrol terhadap kekuasaan eksekutif akan melemah dan membuka potensi lahirnya otoritarianisme.

BACA JUGA :  Oknum Sekdes Gading Kulon Menghilang Saat ATR/BPN Investigasi Atas Dugaan Sertifikat Cacat Administrasi dan Yuridis

Pakar politik dari Universitas Indonesia, misalnya, menegaskan bahwa “kritik keras terhadap DPR adalah sehat dalam demokrasi, tetapi wacana pembubaran justru membahayakan tatanan demokrasi itu sendiri.” Artinya, rakyat Indonesia bisa marah pada kinerja anggota DPR, tetapi tetap menyadari pentingnya institusi ini.

Legislatif sebagai Pilar Demokrasi

DPR bukan sekadar lembaga formal, tetapi simbol kedaulatan rakyat. Keberadaannya mewakili suara dari seluruh daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Dalam sistem demokrasi modern, eksistensi legislatif adalah jaminan bahwa rakyat memiliki ruang representasi.

Membubarkan DPR sama artinya dengan meniadakan salah satu pilar utama demokrasi: trias politika. Tanpa legislatif, fungsi “check and balance” akan lumpuh. Inilah sebabnya dukungan rakyat terhadap keberlangsungan lembaga legislatif sesungguhnya lebih kuat daripada suara minoritas yang menyerukan pembubaran.

Refleksi dan Rekomendasi

Fenomena aksi demo bubarkan DPR seharusnya dipahami sebagai tanda alarm bahwa lembaga legislatif perlu melakukan introspeksi. Rakyat mendukung eksistensinya, tetapi rakyat juga menuntut perbaikan kinerja, transparansi, dan integritas.

BACA JUGA :  Kolaborasi KKN UMAHA dan Posyandu Karang Tanjung, Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Warga

Oleh karena itu, ada beberapa rekomendasi yang patut diperhatikan:

  1. Reformasi Internal DPR: Peningkatan transparansi, akuntabilitas, serta kode etik yang lebih ketat untuk mencegah praktik korupsi.
  2. Mendekatkan DPR dengan Rakyat: Optimalisasi reses dan komunikasi publik agar aspirasi rakyat tidak sekadar formalitas.
  3. Pendidikan Politik Masyarakat: Agar rakyat memahami perbedaan antara kritik terhadap individu anggota dengan eksistensi lembaga itu sendiri.
  4. Penguatan Fungsi Legislasi dan Pengawasan: DPR harus menunjukkan kerja nyata dalam menghasilkan undang-undang yang pro-rakyat dan mengawasi pemerintah tanpa kompromi.

Penutup : Aksi demonstrasi yang menyerukan pembubaran DPR memang menarik perhatian, tetapi tidak mencerminkan arus besar suara rakyat Indonesia. Justru, rakyat menegaskan dukungannya terhadap eksistensi legislatif, sembari mengingatkan agar wakil rakyat bekerja dengan sungguh-sungguh.

Demokrasi hanya akan kuat bila legislatif, eksekutif, dan yudikatif berjalan beriringan. Maka, bukan pembubaran DPR yang harus diperjuangkan, melainkan perbaikan dan penguatan lembaga legislatif agar benar-benar menjadi rumah aspirasi rakyat Indonesia.

Berita Terkait

Kolaborasi KKN UMAHA dan Posyandu Karang Tanjung, Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Warga
Kolaborasi KKN UMAHA dan Posyandu Karang Tanjung, Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Warga
Koperasi Desa: Kesejahteraan atau Kontrol Negara?
Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab
Sengketa Tambang Barsel: Janji “Hibah” Alat Berat Berujung Penolakan di RDP
BEM STIKES Bina Bangsa Majene Bawa Aspirasi Sulawesi Barat di Pratemu Nasional XV BEM Nusantara 2026
Nitezen Ungkap Dugaan Pungli dan Mafia Tanah, Krisis Kepercayaan Terhadap ATR/BPN kabupaten Probolinggo Nampak Jelas
Warga Sapikerep Menunggu Keajaiban Keadilan, Dugaan Penganiayaan Tersangka Pelaku WNA Belum Ada Kepastian Hukum
Berita ini 115 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:30 WIB

Kolaborasi KKN UMAHA dan Posyandu Karang Tanjung, Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Warga

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:17 WIB

Kolaborasi KKN UMAHA dan Posyandu Karang Tanjung, Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Warga

Kamis, 6 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Koperasi Desa: Kesejahteraan atau Kontrol Negara?

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:28 WIB

Sengketa Tambang Barsel: Janji “Hibah” Alat Berat Berujung Penolakan di RDP

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand