lk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777slot777slot gacorslot gacorslotzonawin777slot thailandslot gacorslot thailandslot thailandslot thailandsitus totositus totozonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4d

Acai Diduga Kendalikan 5 Ekskavator PETI di Air Liki, Warga Tantang Penegak Hukum Bertindak

- Publisher

Rabu, 19 November 2025 - 09:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA,Merangin – Aktivitas penambangan emas ilegal (PETI) di wilayah Kecamatan Tabir Barat, khususnya di Desa Air Liki, kembali menjadi sorotan tajam publik. Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di lapangan, diduga terdapat lima unit alat berat ekskavator yang beroperasi dan memporak-porandakan kawasan yang dikenal sebagai bumi tali undang tambang teliti tersebut. Alat-alat berat itu disebut-sebut dikendalikan oleh Acai bersama adiknya, Andi.

Sejumlah warga yang ditemui media ini mengaku geram dengan semakin brutalnya aktivitas tersebut. Mereka mengatakan bahwa Acai bukanlah pemain baru dalam dunia tambang emas ilegal di Kabupaten Merangin.

“Iya, bang… itu pemain lama. Sudah bertahun-tahun dia geluti PETI di wilayah Air Liki,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Informasi yang ditelusuri menyebutkan bahwa lima unit ekskavator itu bekerja di wilayah Air Liki dan meluas hingga ke jalur Melapis arah sungai. Kawasan yang sebelumnya merupakan lahan produktif dan jalur aliran air kini berubah menjadi cekungan-cekungan besar dan galian yang tak beraturan.

Warga menilai kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sudah berada pada tahap yang sangat mengkhawatirkan dan berpotensi memicu bencana ekologis di masa mendatang.

Warga serta sejumlah aktivis menantang aparat penegak hukum untuk tidak tebang pilih dalam melakukan penindakan terhadap aktivitas ilegal tersebut. Mereka mempertanyakan mengapa hingga saat ini aktivitas PETI di Air Liki tetap berjalan leluasa meskipun sudah ramai diperbincangkan publik.

BACA JUGA :  Polres Bitung Gagalkan Peredaran Ratusan Obat Keras Ilegal, Satu Pelaku Ditangkap.

“Kami minta Polres Merangin cek langsung ke lapangan. Viral lima alat berat itu bukan tanpa alasan. Kalau ini tidak direspons, jelas akan ada laporan resmi ke Polda Jambi,” tegas salah satu aktivis lingkungan yang ditemui media ini.

Menurut mereka, kehadiran alat berat dalam jumlah besar bukanlah operasi kecil-kecilan. Aktivitas semacam ini dianggap mustahil berlangsung tanpa ada pihak yang mengetahui ataupun menutup mata.

Sejumlah tokoh masyarakat mengkritik keras minimnya tindakan konkret dari penegak hukum. Mereka menilai aparat tidak boleh hanya bergerak ketika kasus sudah viral atau ketika tekanan publik memuncak.

“Kalau masyarakat kecil, cepat ditangkap. Tapi kalau sudah pakai alat berat besar, kenapa seolah banyak alasan? Kami tidak mau aparat tebang pilih,” kata warga lainnya.

BACA JUGA :  Lahan Sawit Rusak Tertimbun Limbah Tambang, Advokat Dampingi Warga Samarinda Menuntut Keadilan

Mereka juga menegaskan bahwa aktivitas tambang ilegal yang menggunakan ekskavator merupakan pelanggaran serius yang seharusnya menjadi prioritas penertiban, bukan dibiarkan merajalela hingga merusak wilayah hukum Kabupaten Merangin.

Jika benar adanya keterlibatan lima unit ekskavator milik Acai dan adiknya dalam aktivitas PETI di Air Liki, maka penegak hukum memiliki pekerjaan rumah besar untuk menertibkan dan menindak tegas. Masyarakat menuntut komitmen nyata dari aparat untuk menjaga kelestarian alam serta menegakkan hukum tanpa pandang bulu.

Situasi ini sekaligus menjadi ujian bagi aparat penegak hukum di Merangin, apakah mereka benar-benar hadir untuk menjaga keadilan dan lingkungan atau justru membiarkan kerusakan terus berlanjut tanpa kendali.

Penulis : Ady Lubis

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Banding JPU Dikabulkan, Terdakwa Kasus Renah Alai Divonis 6 Bulan; Kejari Siapkan Eksekusi ke Lapas Bangko
Merasa Dianiaya Saat Menagih Barang, Jawariah Laporkan Safrizal ke Polsek Tabir
Irjen Pol Dekananto Eko Purwono Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Jawa Timur
PPA APSI Kaltim Batch 2 Tahun 2026: Fardy Iskandar Paparkan Teknik Penyelesaian Sengketa Persaingan Usaha
Sengketa Pemilu Kerap Kalah di Tenggat, Roszi Krissandi Bekali Calon Advokat di PPA APSI
Vonis Ringan Terhadap Terdakwa Pemalsuan SK ASN di Gresik
Bapelkum Bitung Kupas KUHP Nasional, dari Kohabitasi hingga Tujuan Pemidanaan
Usai Ambuon Ardiansyah Ditangkap, Korban Modus Lelang Kendaraan Kembali Bermunculan
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:10 WIB

Banding JPU Dikabulkan, Terdakwa Kasus Renah Alai Divonis 6 Bulan; Kejari Siapkan Eksekusi ke Lapas Bangko

Minggu, 4 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Merasa Dianiaya Saat Menagih Barang, Jawariah Laporkan Safrizal ke Polsek Tabir

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Irjen Pol Dekananto Eko Purwono Resmi Ditunjuk Jadi Kapolda Jawa Timur

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:07 WIB

PPA APSI Kaltim Batch 2 Tahun 2026: Fardy Iskandar Paparkan Teknik Penyelesaian Sengketa Persaingan Usaha

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Sengketa Pemilu Kerap Kalah di Tenggat, Roszi Krissandi Bekali Calon Advokat di PPA APSI

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/