SUARA UTAMA, Malang – Fenomena sound horeg masih menjadi perhatian masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur. Kegiatan dengan penggunaan sound system berkapasitas besar tersebut antara lain banyak digelar di kawasan Malang Raya dan Blitar Raya.

Pengusaha sound system Team Ngorek Audio asal Singosari Malang, Erik, mengatakan dirinya tidak sepenuhnya mendukung penggunaan volume suara yang terlalu keras, meski juga berkecimpung dalam usaha sound system.
“Walaupun saya juga memiliki sound system, saya tidak mendukung penuh sound horeg dengan volume keras. Sewajarnya saja,” katanya saat diwawancarai melalui telepon oleh Redaksi Suara Utama, Jumat (18/9/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dosen Institut Aisyiyah Sulawesi Selatan, Musafir, mengatakan kegiatan seperti itu tidak ditemukan di daerahnya. Ia menilai penyelenggaraan sound system perlu memperhatikan kemanfaatan dari sisi sosial dan kesehatan serta kondisi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Aisyah Putri, mengaku pernah menyaksikan kegiatan sound horeg di sekitar tempat tinggalnya tepatnya di kecamatan kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia mengatakan merasa terganggu dan menyebut adanya kerusakan properti di depan rumahnya.
“Saya pernah melihat langsung dan terjadi di depan rumah saya sampai properti rusak. Sebaiknya kegiatan seperti ini dievaluasi,” ujar Admin Lembaga AR Learning Center yang juga warga sekitar.
Fenomena tersebut memunculkan beragam tanggapan dari pelaku usaha maupun masyarakat. Pengaturan volume, lokasi, waktu pelaksanaan, serta dampak terhadap lingkungan menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan kegiatan sound system.
Penulis : Andre Hariyanto
Editor : Aisyah Putri Widodo
Sumber Berita: Redaksi Suara Utama











