Tips Mengenal Wartawan Bodrex dan Wartawan Profesional

- Publisher

Minggu, 15 Februari 2026 - 15:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

FOTO: Tips Mengenal Wartawan Bodrex dan Wartawan Profesional (Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)

FOTO: Tips Mengenal Wartawan Bodrex dan Wartawan Profesional (Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)

Penulis oleh: Andre Hariyanto, CIJ, CPW, CAHNR, CNW, CT.ALC, 
Jurnalis Redaksi Media Suara Utama
Master Trainer Lembaga AR Learning Center

SUARA UTAMA – Di era keterbukaan informasi saat ini, masyarakat semakin mudah mengakses berbagai berita dari beragam media. Namun, di tengah derasnya arus informasi tersebut, muncul pula oknum yang mengaku sebagai wartawan tetapi tidak menjalankan tugas jurnalistik secara profesional. Fenomena ini sering dikenal dengan istilah “wartawan bodrex” atau wartawan abal-abal.

FOTO: Mengenal Ciri-Ciri Wartawan Resmi dan Oknum yang Mengatasnamakan Pers (Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)
FOTO: Mengenal Ciri-Ciri Wartawan Resmi dan Oknum yang Mengatasnamakan Pers (Andre Hariyanto/SUARA UTAMA)

Kondisi ini tentu merugikan banyak pihak dan mencoreng nama baik profesi jurnalis yang sejatinya memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan kebenaran kepada publik. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara wartawan abal-abal dan wartawan profesional.

Ciri-Ciri Wartawan Bodrex/Abal-Abal

Pertama, tidak jelas asal medianya. Wartawan profesional selalu bekerja di bawah naungan media yang jelas identitasnya, memiliki alamat redaksi, serta dapat diverifikasi. Sebaliknya, wartawan abal-abal sering kali tidak dapat menunjukkan legalitas medianya.

Kedua, datang hanya saat ada “proyek” atau kasus tertentu. Mereka biasanya muncul ketika ada isu sensitif, permasalahan hukum, atau momen tertentu yang berpotensi menghasilkan keuntungan pribadi.

Ketiga, meminta uang, “amplop”, atau keuntungan pribadi. Praktik ini jelas melanggar etika jurnalistik. Tugas jurnalis adalah mencari dan menyampaikan informasi, bukan meminta imbalan untuk memberitakan atau menahan berita.

Keempat, tidak mampu menunjukkan bukti pemberitaan. Wartawan profesional dapat memperlihatkan karya tulis atau liputan yang telah dipublikasikan, sedangkan oknum abal-abal sering kali tidak memiliki rekam jejak yang jelas.

BACA JUGA :  PUI-PT CPHI Unud Gelar PERNAS JPHIV 2026, Dorong Layanan HIV Bermutu dan Berkeadilan

Ciri-Ciri Wartawan Profesional

Sebaliknya, wartawan profesional memiliki standar kerja yang jelas.

Pertama, memiliki ID pers resmi dari media tempatnya bekerja. Identitas ini bisa diverifikasi dan biasanya dilengkapi surat tugas saat melakukan peliputan.

Kedua, mematuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Kode etik menjadi pedoman utama dalam menjalankan tugas agar tetap independen, berimbang, dan tidak memihak.

Ketiga, tulisannya jelas, faktual, dan dapat dipertanggungjawabkan. Berita yang disajikan berdasarkan data, konfirmasi, dan prinsip keberimbangan.

Keempat, kompeten dan berpengalaman. Wartawan profesional terus meningkatkan kapasitas diri melalui pelatihan, uji kompetensi, serta pengalaman lapangan.

BACA JUGA :  Yayasan Suara Utama Indonesia Perkuat Kiprah di Dunia Pers

Pentingnya Literasi Media bagi Masyarakat

Masyarakat perlu memiliki literasi media yang baik agar tidak mudah terintimidasi atau tertipu oleh oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan. Jika ada pihak yang mengaku wartawan namun meminta imbalan tertentu atau bersikap mengancam, masyarakat berhak menolak dan meminta klarifikasi identitas serta legalitas medianya.

Profesi jurnalis adalah profesi mulia. Tugas utamanya adalah mengabarkan kebenaran, memberikan edukasi, serta menjadi kontrol sosial, bukan menakut-nakuti atau mencari keuntungan pribadi.

Media yang sehat akan membangun peradaban yang sehat pula. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga marwah profesi jurnalistik dengan menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, dan etika.

Ingat, jurnalis sejati hadir untuk menyampaikan kebenaran, bukan untuk mencari keuntungan pribadi.

Penulis : Andre Hariyanto

Editor : Zahwa Qarira Nazhira

Sumber Berita: Redaksi Suara Utama

Berita Terkait

Ketua Dewan Pakar SUARA UTAMA Kolonel (Purn) Oktovianus Karundeng Berdiskusi dengan Staf Khusus Menteri Agama
Selain Dugaan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif, Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terindikasi Melanggar Kode Etik dan Disiplin ASN
Puncak Acara Hari Tani: Pelantikan 7 Juta Relawan Tani Indonesia
Sikap Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terbongkar, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Segera Akan Melakukan Koordinasi 
Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan
Pasca Pemberitaan Pabrik PT Sasa Inti Gending Bersihkan Sampah di Area Irigasi, Petani Meminta OPD melakukan Investigasi
BBM Jenis Pertalite Hilang di Pasaran Pengecer, Pedagang Keliling Sebut Urat Nadi Masyarakat Pegunungan Hilang 
Kebakaran Gunung Arjuno – Welirang, Founder Persatuan Kelana Alam Indonesia Ajak Masyarakat Berdoa dan Turun Hujan
Berita ini 311 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Ketua Dewan Pakar SUARA UTAMA Kolonel (Purn) Oktovianus Karundeng Berdiskusi dengan Staf Khusus Menteri Agama

Senin, 26 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Selain Dugaan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif, Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terindikasi Melanggar Kode Etik dan Disiplin ASN

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:24 WIB

Puncak Acara Hari Tani: Pelantikan 7 Juta Relawan Tani Indonesia

Minggu, 25 Oktober 2026 - 20:23 WIB

Sikap Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terbongkar, Disdikdaya Kabupaten Probolinggo Segera Akan Melakukan Koordinasi 

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp