Solidaritas Rakyat Bersama Presiden Prabowo dalam Perang terhadap Kapitalisme Oportunistik dan Korupsi

Sabtu, 30 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy


Foto-Ilustrasi-Rakyat-Indonesia-Bersama-Presiden-Prabowo-Melawan-Sarakahnomics

Foto-Ilustrasi-Rakyat-Indonesia-Bersama-Presiden-Prabowo-Melawan-Sarakahnomics

SUARA UTAMA – Perjalanan bangsa Indonesia selalu diwarnai oleh pertarungan ide dan kepentingan. Di satu sisi, ada semangat rakyat untuk membangun kemandirian ekonomi, keadilan sosial, dan persatuan nasional. Di sisi lain, terdapat praktik kapitalisme oportunistik yang bersekutu dengan jaringan koruptor dan mafia. Kapitalisme model ini tidak hanya mengeksploitasi sumber daya ekonomi bangsa, tetapi juga memperlemah sendi-sendi demokrasi, merusak tatanan politik, dan menciptakan ketimpangan sosial yang semakin lebar.

Dalam situasi inilah, muncul figur Prabowo Subianto sebagai presiden yang membawa pesan tegas: membangun Indonesia yang berdaulat, bersih, dan berkeadilan. Rakyat yang mendukungnya melihat peluang besar untuk mengakhiri dominasi ekonomi predatoris yang selama ini membelenggu pembangunan nasional.

Kapitalisme Oportunistik: Ancaman Bagi Kedaulatan Ekonomi

Kapitalisme pada dasarnya adalah sistem ekonomi yang mengedepankan pasar. Namun, ketika ia bertransformasi menjadi kapitalisme oportunistik, yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek dengan mengorbankan kepentingan nasional, ia menjadi ancaman serius.

Prof. Faisal Basri, ekonom senior UI, pernah menegaskan bahwa “jika negara membiarkan pasar dikuasai oligarki, maka pembangunan ekonomi hanya akan memperkaya segelintir orang, sementara rakyat luas justru semakin tertinggal.” Pandangan ini memperkuat urgensi perlunya arah baru yang lebih berkeadilan.

Kompas dalam tajuk rencananya pernah menegaskan bahwa “ketika ekonomi lebih berpihak pada kelompok pemilik modal daripada rakyat banyak, maka tujuan pembangunan nasional telah melenceng dari cita-cita konstitusi.” Pandangan ini senada dengan kritik ekonom senior Faisal Basri yang menilai oligarki kerap menguasai sumber daya vital bangsa.

Korupsi dan Mafia: Musuh Bersama Rakyat

Korupsi bukan hanya soal pencurian uang negara. Ia adalah akar dari keterpurukan sistemik yang melanggengkan kesenjangan sosial dan menutup kesempatan bagi rakyat kecil. Mafia ekonomi yang beroperasi di balik layar birokrasi membuat kebijakan publik kehilangan makna kerakyatan.

Menurut Dr. Refly Harun, pakar hukum tata negara, “korupsi dan mafia adalah virus yang melemahkan demokrasi. Tanpa komitmen kepemimpinan yang kuat, pemberantasan korupsi hanya akan berhenti pada slogan.” Inilah sebabnya rakyat menaruh harapan besar kepada Prabowo agar perang melawan korupsi tidak berhenti di tataran retorika.

BACA JUGA :  Peningkatan Kemampuan Bahasa Anak Melalui Media Kartu Huruf di  Kelompok B TK ABA 30 Kecamatan Sepanjang Kota Sidoarjo -Semester I Tahun Ajaran 2021/2022

Solidaritas Rakyat: Basis Kekuatan Perubahan

Tidak ada pemimpin yang bisa berjuang sendirian. Solidaritas rakyat menjadi fondasi utama dalam perang melawan kapitalisme oportunistik dan korupsi. Dukungan rakyat tercermin dalam konsistensi menjaga moralitas politik, mengawasi jalannya pemerintahan, serta berani menolak praktik ekonomi yang merugikan bangsa.

Prof. Azyumardi Azra (alm.), cendekiawan Muslim, pernah mengingatkan bahwa “kekuatan rakyat dalam menjaga moralitas bangsa adalah benteng utama melawan mafia politik dan ekonomi.” Pandangan ini relevan, karena rakyat yang bersatu dengan pemimpinnya dapat menjadi penentu arah perubahan.

Jalan Menuju Indonesia Bersih dan Berdaulat

Perang melawan kapitalisme oportunistik dan korupsi bukanlah perkara sehari dua hari. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, keberanian, dan komitmen nasional. Prabowo dan rakyat perlu menempuh beberapa langkah strategis:

  1. Reformasi struktural ekonomi – memperkuat sektor riil, mendorong industrialisasi berbasis sumber daya dalam negeri, dan melindungi UMKM.
  2. Penguatan hukum dan pemberantasan korupsi – memperkuat KPK, kejaksaan, dan pengadilan agar bebas dari intervensi politik.
  3. Pemberantasan mafia ekonomi – menutup celah impor pangan ilegal, mafia tambang, hingga kartel energi yang merugikan rakyat.
  4. Membangun etika politik baru – menumbuhkan budaya politik bersih, anti-transaksional, dan berpihak pada rakyat kecil.
  5. Mobilisasi solidaritas rakyat – melalui pendidikan politik, gerakan masyarakat sipil, serta partisipasi aktif dalam pengawasan kebijakan publik.

Seperti dikatakan oleh pengamat politik Prof. Salim Said, “Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang berani menabrak kepentingan oligarki demi membangun negara yang lebih adil.” Hal ini menunjukkan bahwa tanpa keberanian politik, mafia ekonomi akan terus bercokol.

Penutup : Solidaritas rakyat bersama Prabowo adalah momentum penting bagi Indonesia untuk menegakkan kedaulatan ekonomi dan keadilan sosial. Perang melawan kapitalisme oportunistik, korupsi, dan mafia bukan sekadar agenda politik, tetapi tugas sejarah.

Jika konsistensi dijaga, maka Indonesia berpeluang besar menjadi bangsa yang mandiri, adil, dan berwibawa di mata dunia. Sejarah akan mencatat bahwa rakyat dan pemimpinnya pernah berdiri tegak, bahu-membahu, melawan kekuatan gelap yang mengancam masa depan republik.

Berita Terkait

Bahlil : Menteri yang Amankan Kedaulatan Rakyat
Indonesia, Negara Hukum di Persimpangan Jalan
Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles
Kebijakan Penghangusan Kuota Internet Digugat ke MK
Demokrasi Indonesia Dalam Cengkeraman Elit
Penegakan Hukum Indonesia di Persimpangan Das Sein dan Das Sollen
PMK 111/2025 Perkuat Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak Mulai Berlaku 2026
PERMA 3/2025 Dinilai Perkuat Kepastian Hukum Penindakan Kejahatan Pajak

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 06:27

Bahlil : Menteri yang Amankan Kedaulatan Rakyat

Selasa, 20 Januari 2026 - 14:38

Indonesia, Negara Hukum di Persimpangan Jalan

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:47

Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Rabu, 7 Januari 2026 - 16:28

Kebijakan Penghangusan Kuota Internet Digugat ke MK

Rabu, 7 Januari 2026 - 16:03

Demokrasi Indonesia Dalam Cengkeraman Elit

Rabu, 7 Januari 2026 - 11:59

Penegakan Hukum Indonesia di Persimpangan Das Sein dan Das Sollen

Selasa, 6 Januari 2026 - 16:04

PMK 111/2025 Perkuat Pengawasan Kepatuhan Wajib Pajak Mulai Berlaku 2026

Selasa, 6 Januari 2026 - 14:59

PERMA 3/2025 Dinilai Perkuat Kepastian Hukum Penindakan Kejahatan Pajak

Berita Terbaru