lk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777slot777slot gacorslot gacorslotzonawin777slot thailandslot gacorslot thailandslot thailandslot thailandsitus totositus totozonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4d

Penegakan Hukum Indonesia di Persimpangan Das Sein dan Das Sollen

- Publisher

Rabu, 7 Januari 2026 - 11:59 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, advokat dan konsultan pajak sekaligus Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jawa Timur, menyampaikan pandangan kritis mengenai kesenjangan antara Das Sein dan Das Sollen dalam praktik penegakan hukum di Indonesia.

Adv. Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, advokat dan konsultan pajak sekaligus Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jawa Timur, menyampaikan pandangan kritis mengenai kesenjangan antara Das Sein dan Das Sollen dalam praktik penegakan hukum di Indonesia.

SUARA UTAMA – Surabaya, 7 Januari 2026 — Perdebatan mengenai Das Sein dan Das Sollen kembali menguat dalam wacana penegakan hukum di Indonesia. Dua konsep utama dalam filsafat hukum ini kerap digunakan untuk menjelaskan adanya jurang antara hukum sebagaimana diatur secara normatif dan praktik penegakan hukum yang berlangsung dalam realitas sosial.

Dalam konteks ketatanegaraan Indonesia, Das Sollen tercermin secara jelas dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menegaskan Indonesia sebagai negara hukum, menjunjung asas persamaan di hadapan hukum, serta menjamin kepastian dan keadilan bagi seluruh warga negara. Norma konstitusional tersebut kemudian dipertegas melalui berbagai undang-undang dan peraturan pelaksana sebagai kerangka ideal penyelenggaraan dan penegakan hukum.

Namun demikian, Das Sein kerap menunjukkan wajah yang tidak selalu sejalan dengan norma tersebut. Dalam praktik, masih sering dijumpai ketidakkonsistenan penegakan hukum, perbedaan perlakuan terhadap subjek hukum, serta proses penegakan hukum yang dinilai lamban dan kurang sensitif terhadap rasa keadilan masyarakat. Kondisi ini memperlihatkan adanya jarak antara hukum sebagai norma dan hukum sebagai kenyataan sosial.

Pandangan Teori dan Realitas Nasional

Secara teoretis, pemisahan antara norma dan fakta ditegaskan oleh Hans Kelsen, yang memandang hukum sebagai sistem norma yang mengatur apa yang seharusnya berlaku (Das Sollen), terlepas dari kepatuhan maupun pelanggaran yang terjadi dalam praktik (Das Sein).

Namun, dalam konteks Indonesia, pendekatan normatif tersebut kerap berhadapan dengan realitas sosiologis yang kompleks. Faktor kekuasaan, kepentingan ekonomi, serta budaya hukum dinilai turut memengaruhi jalannya penegakan hukum, sehingga norma yang ideal tidak selalu terwujud secara konsisten dalam praktik.

Pendapat Praktisi Hukum

Menanggapi kondisi tersebut, Advokat Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP sekaligus konsultan pajak yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter Kadin Jawa Timur, berpendapat bahwa kesenjangan antara Das Sein dan Das Sollen merupakan persoalan struktural dalam sistem hukum Indonesia.

Menurut Yulianto, secara normatif Indonesia tidak kekurangan aturan hukum yang baik. Banyak regulasi telah dirancang untuk menjamin keadilan, kepastian, dan kemanfaatan hukum. Namun, persoalan mendasar justru muncul pada tahap implementasi.

BACA JUGA :  Nama 'Tiar' Muncul dalam Sorotan PETI Menggunakan Alat Berat di Desa Pulau Baru

“Dalam banyak kasus, hukum kita sudah ideal di tingkat norma, tetapi pelaksanaannya belum konsisten. Di sinilah Das Sein sering kali tidak mencerminkan Das Sollen yang diharapkan,” ujarnya.

Ia menilai ketidaksinkronan tersebut berpotensi melemahkan kepercayaan publik terhadap hukum.

“Ketika masyarakat melihat adanya perlakuan yang tidak setara atau penegakan hukum yang selektif, maka wibawa hukum akan tergerus. Padahal, legitimasi hukum sangat bergantung pada rasa keadilan yang dirasakan secara nyata,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yulianto menegaskan bahwa pembenahan hukum tidak cukup dilakukan melalui perubahan regulasi semata. Diperlukan penguatan integritas aparatur, independensi penegak hukum, serta sistem pengawasan yang efektif agar nilai-nilai normatif hukum benar-benar dapat diwujudkan dalam praktik.

Contoh Sengketa Pajak: Kepastian Hukum versus Praktik Administratif

Dalam hukum pajak Indonesia, Das Sollen menuntut adanya kepastian hukum, asas keadilan, serta perlindungan terhadap hak wajib pajak sebagaimana diatur dalam undang-undang perpajakan dan prinsip due process of law.

Namun pada tingkat Das Sein, tidak jarang wajib pajak menghadapi berbagai persoalan administratif, antara lain:

  • penetapan pajak yang dipersoalkan secara substantif,
  • perbedaan penafsiran antara fiskus dan wajib pajak,
  • serta proses keberatan dan banding yang memakan waktu relatif panjang.
BACA JUGA :  Peduli Kesehatan di Tengah Kabut Asap, Lapas Bangko Bagikan Masker dan Vitamin kepada Masyarakat

Akibatnya, meskipun norma hukum pajak dirancang untuk memberikan kepastian, praktik administrasi dan penegakan hukum justru kerap menimbulkan ketidakpastian serta beban tambahan bagi wajib pajak.

Tantangan dan Refleksi

Kesenjangan antara Das Sein dan Das Sollen pada akhirnya menjadi tantangan utama dalam pembangunan hukum nasional. Upaya memperkecil jarak tersebut menuntut komitmen bersama antara pembentuk undang-undang, aparat penegak hukum, dan masyarakat sipil.

Sebagai negara hukum, Indonesia dituntut tidak hanya kuat secara normatif, tetapi juga konsisten dalam praktik. Selama perbedaan antara apa yang seharusnya berlaku dan apa yang terjadi di lapangan masih nyata, diskursus Das Sein dan Das Sollen akan tetap relevan sebagai refleksi kritis atas arah penegakan hukum dan keadilan di Indonesia

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Menkum Supratman, AI dan Teknologi Digital Tak Boleh Gerus Nilai Ekonomi Karya Jurnalistik
Satpolairud Polres Lamongan Bantu Evakuasi Jenazah ABK KM Mayangsari II yang Meninggal Dunia di Perairan Masalembo
Anggaran Rp1,55 Miliar untuk Jalan Mampun Baru–Simpang Meranti, Warga Sampaikan Apresiasi
Ketua SRP Dogiyai Tegaskan Swiping Harus Sesuai SOP dan Terpusat di Moanemani
Solidaritas Rakyat Papua: Selamatkan Hutan dan Rawa Dogiyai, Hentikan Kebakaran!
Bupati Dogiyai Kukuhkan Pokja Bunda PAUD 2026
Kepala Suku Besar Meepago Serukan Perlindungan Hutan Adat Papua
Kemenimipas Borong Penghargaan AHI 2026, Perkuat Transparansi dan Kepercayaan Publik
Berita ini 118 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 04:57 WIB

Menkum Supratman, AI dan Teknologi Digital Tak Boleh Gerus Nilai Ekonomi Karya Jurnalistik

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 21:13 WIB

Satpolairud Polres Lamongan Bantu Evakuasi Jenazah ABK KM Mayangsari II yang Meninggal Dunia di Perairan Masalembo

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Anggaran Rp1,55 Miliar untuk Jalan Mampun Baru–Simpang Meranti, Warga Sampaikan Apresiasi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Ketua SRP Dogiyai Tegaskan Swiping Harus Sesuai SOP dan Terpusat di Moanemani

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 13:26 WIB

Solidaritas Rakyat Papua: Selamatkan Hutan dan Rawa Dogiyai, Hentikan Kebakaran!

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/