Sepeda Motor Itu Hilang Saat Aku Sujud

- Publisher

Jumat, 20 Juni 2025 - 17:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

GAMBAR : Ilustrasi Subuh dan Seorang Laki-laki (Nafian Faiz/SUARA UTAMA)

GAMBAR : Ilustrasi Subuh dan Seorang Laki-laki (Nafian Faiz/SUARA UTAMA)

SUARA UTAMA –  Subuh itu, Rabu pagi (18/06/2025), saya bangun tepat saat adzan berkumandang. Terburu-buru. Tak seperti biasanya, saya naik sepeda motor ke mushola yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah. Takut tertinggal jamaah.

Motor itu satu-satunya kendaraan yang saya punya – hadiah dari kantor saat pensiun.

Saya sempat salat sunnah dua rakaat, lalu iqamah dikumandangkan. Kami pun berdiri menunaikan salat Subuh. Tak ada firasat apa pun. Namun, baru saja saya mengucap salam, seorang jamaah menepuk bahu saya dan bertanya pelan, “Bapak bawa motor? Parkirnya di mana?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya menoleh ke jendela samping. Ruang parkir di luar gelap, kosong. Motor saya tak ada. Hilang. Digondol maling ketika saya sedang sujud menghadap Allah.

Saya gontai pulang. Hati campur aduk. Rasanya tak percaya. Sepeda motor Vario 125 tahun 2019 itu bukan sekadar kendaraan. Ia teman perjalanan: dari Natar ke Dipasena, ke Kota Agung, ke Lampung Utara, ke masjid, ke rumah saudara. Bahkan pernah sampai Tangerang, Banten. Ia saksi bisu atas puluhan perjalanan penuh cerita. Dan kini, ia raib—di saat saya sedang berupaya untuk berbuat taat kepada-Nya.

BACA JUGA :  Dosen PBA UNJ Tingkatkan Kompetensi Guru Desa Muktiwari melalui Pembelajaran Digital Berbasis StudyStack

Saya manusia biasa. Saya ingin marah. Ingin menangis. Ingin bertanya, “Ya Allah, mengapa di saat aku datang menyembah-Mu, justru ini yang terjadi?”

Kehilangan ini bukan sekadar soal materi. Yang lebih menyakitkan adalah rasa aman yang tercabik, harga diri yang terguncang, dan keimanan yang diuji. Tapi di situlah saya sadar: bukan pencuri yang paling berat saya hadapi, melainkan pertarungan batin saya sendiri. Antara rasa syukur dan amarah.
Antara kecewa dan tawakal.

Saya memilih berdamai—agar hati lebih tenang dan tak gundah gulana. Saya belajar menyelami:

1. Kesedihan itu wajar. Tapi jangan terlalu lama mengikatnya. Saya izinkan diri menangis, tapi tidak untuk tumbang.

BACA JUGA :  Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru

2. Saya tidak sendiri. Saya berbagi, dan justru menemukan banyak orang mengalami kehilangan yang lebih berat. Saya jadi lebih kuat karena cerita mereka.

3. Saya berhenti bertanya “mengapa aku” dan mulai bertanya “untuk apa ini.” Dan pelan-pelan, saya sadar: Allah sedang memperhalus hati saya.

4. Saya belajar berbicara lembut kepada diri sendiri. Saya katakan, “Ini bukan hukuman, ini latihan.”

Kini saya harus berjalan kaki. Saat membuat laporan ke kantor polisi kemarin, saya beruntung dipinjamkan sepeda motor oleh salah satu jamaah rutin musala. Mobilitas saya memang terhambat. Tapi bisa jadi ini jalan saya untuk lebih banyak merenung, lebih banyak berdzikir, agar lebih menghayati makna kalimat-kalimat yang dulu saya lafalkan:
“Hasbunallahu wa ni’mal wakil” — Cukuplah Allah, sebaik-baik pelindung.

Dari cerita warga, kehilangan sepeda motor di kampung ini sering terjadi. Subuh itu pun, ada warga lain yang sepeda motornya dicuri saat diparkir di teras rumah sepulang dari pasar. Tiga Subuh sebelumnya, juga ada motor jamaah yang dicuri saat salat Subuh.

BACA JUGA :  Polres Bitung Perkuat Soliditas Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Tekankan Pengabdian untuk Masyarakat

Apakah ini peringatan sosial bagi kita semua?
Mungkin kita perlu lebih dari sekadar rajin berjamaah—kita juga harus saling menjaga. Membangun sistem keamanan yang kolektif, dan memastikan ibadah kita berdampak pada lingkungan.

Saya memang kehilangan sepeda motor, tapi saya tidak ingin kehilangan arah. Saya belajar bahwa taat bukanlah jalan tanpa rintangan. Justru ujianlah yang membuktikan kemurnian niat.

Bagi siapa saja yang sedang kehilangan—apa pun bentuknya—izinkan saya berbagi:

Kehilangan memang melukai. Tapi ia juga bisa membuka ruang tumbuh.
Tumbuh menjadi pribadi yang lebih sadar, lebih ikhlas, dan lebih bergantung kepada Yang Tak Pernah Hilang: Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penulis : Nafian Faiz, jurnalis tinggal di Lampung.

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

RSUD Jaraga Sasameh Verifikasi Data Rujukan Ditengah Transisi RME
Ahmad Fahmi Suarakan Aspirasi Petani Sawit, Menteri Pertanian Langsung Respons Keluhan PKS Nakal
SUARA UTAMA Buka Rekrutmen Redaksi Nasional dan Internasional, Siapkan Jurnalis Profesional Berintegritas
TPA Langling Diduga Tak Terkelola Maksimal, Jalan Warga Tertutup Sampah, DLH Merangin Disorot
Hari Bhayangkara ke-80, Polres Merangin Teguhkan Komitmen Wujudkan Polri Presisi untuk Masyarakat
Dukung Validitas Data Pemilih, Lapas Bangko Hadiri Rapat Pleno Terbuka KPU Merangin
Hadiri HUT Bhayangkara ke-80, Wabup A. Khafidh Apresiasi Kinerja Polres Merangin
Ancaman Konstitusional Pasal 50A UU P2SK terhadap Sistem Anti Pencucian Uang Nasional

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 00:33 WIB

RSUD Jaraga Sasameh Verifikasi Data Rujukan Ditengah Transisi RME

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:37 WIB

Ahmad Fahmi Suarakan Aspirasi Petani Sawit, Menteri Pertanian Langsung Respons Keluhan PKS Nakal

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:05 WIB

SUARA UTAMA Buka Rekrutmen Redaksi Nasional dan Internasional, Siapkan Jurnalis Profesional Berintegritas

Rabu, 1 Juli 2026 - 21:07 WIB

TPA Langling Diduga Tak Terkelola Maksimal, Jalan Warga Tertutup Sampah, DLH Merangin Disorot

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:18 WIB

Hari Bhayangkara ke-80, Polres Merangin Teguhkan Komitmen Wujudkan Polri Presisi untuk Masyarakat

Berita Terbaru

Berita Utama

RSUD Jaraga Sasameh Verifikasi Data Rujukan Ditengah Transisi RME

Kamis, 2 Jul 2026 - 00:33 WIB