Global March to Gaza: Ketika Nurani Dunia Bersatu untuk Palestina

- Publisher

Kamis, 12 Juni 2025 - 15:38 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Utama, ID.- Sejak pecahnya konflik terbaru di Jalur Gaza, dunia kembali menyaksikan gelombang solidaritas global yang luar biasa. Di berbagai kota besar dunia—dari Jakarta, Istanbul, London, hingga Cape Town—jutaan orang turun ke jalan dalam aksi yang dikenal sebagai Global March to Gaza. Gerakan ini tidak hanya menggambarkan dukungan terhadap rakyat Palestina, tetapi juga memperlihatkan kebangkitan nurani kolektif umat manusia terhadap penderitaan yang berkepanjangan.

Solidaritas dari Timur ke Barat

Aksi ini bukan hanya inisiatif lokal, melainkan merupakan koordinasi lintas negara dan lintas agama yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Dari aktivis HAM, pemuka agama, hingga selebritas dan politisi dunia, semua bersatu menyuarakan seruan yang sama: hentikan kekerasan di Gaza.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam orasinya di depan Parlemen Inggris, Jeremy Corbyn, mantan pemimpin Partai Buruh, mengatakan:

“Kita tidak boleh diam saat kejahatan kemanusiaan terjadi di depan mata kita. Gaza bukan hanya isu Palestina—ini adalah isu kemanusiaan global.”

“Solidaritas global bukan simbolik. Ini adalah kekuatan nyata melawan penindasan.”

Di sisi lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dalam pidatonya di Istanbul saat aksi solidaritas berlangsung, menyatakan: “Kita melihat kebungkaman dunia atas penderitaan anak-anak Gaza. Tapi hari ini, rakyat dunia yang adil telah bangkit untuk menunjukkan bahwa nurani belum mati.”

Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya saat membuka 19th Session of Conference of PUIC dan  Related Meetings di Jakarta, menyerukan: Persatuan Dunia Islam dan Tindakan nyata dukung Palestina, sudah tiba waktunya, jangan kita sekedar  berdiskusi , jangan Menyusun resolusi-resolusi lagi, rakyat palestina terlalu lama menjadi korban, rakyat palestina membutuhkan suatu keberpihakan, suatu Tindakan nyata

BACA JUGA :  DJKI Sesuaikan Tarif Pendaftaran Merek Mulai 1 Agustus, UMK Tetap Nikmati Tarif Khusus Rp500 Ribu

Noam Chomsky (Intelektual AS)
“Gerakan rakyat lintas negara seperti ini memberi tekanan moral yang nyata. Itu penting.”

Aksi Rakyat Melampaui Diplomasi Formal

BACA JUGA :  Suara Masyarakat Jadi Prioritas, Bapelkum Bitung Ikut Forum Nasional "Pasti Ada Solusi"

Banyak pengamat menyebut Global March to Gaza sebagai bentuk “diplomasi rakyat” yang efektif, ketika jalur-jalur diplomasi formal gagal menekan agresi dan pelanggaran HAM. Ribuan organisasi masyarakat sipil berperan aktif dalam menggalang donasi, menyebarkan informasi, serta menekan pemerintah mereka untuk bertindak.

Noam Chomsky, intelektual asal Amerika Serikat, dalam wawancara dengan media independen mengatakan:

“Kekuatan rakyat biasa jauh lebih besar dari yang kita sadari. Aksi-aksi seperti ini memberi tekanan moral yang sangat kuat, bahkan kepada negara-negara besar.”

Dukungan dari Dunia Islam dan Barat

Uniknya, Global March to Gaza tidak terbatas pada negara-negara mayoritas Muslim. Ribuan warga Yahudi progresif dan Kristen humanis di Eropa dan Amerika ikut dalam pawai solidaritas. Di New York, organisasi Yahudi seperti Jewish Voice for Peace membawa poster bertuliskan “Not in our name”.

Ilhan Omar, anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, menyampaikan:

BACA JUGA :  Tomas Tiris Angkat Bicara, Sopir Elf Meminta Pihak Pihak Terkait Bertanggung Jawab Atas Pemasangan Portal Desa Segaran 

“Membela Gaza bukan berarti memusuhi siapa pun. Ini soal menolak ketidakadilan dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal.”

Kesimpulan: Nurani yang Bangkit, Harapan yang Menyala

Global March to Gaza adalah simbol kebangkitan nurani global. Di tengah polarisasi geopolitik dan media yang sering bias, gerakan ini mengingatkan bahwa nilai keadilan dan kemanusiaan masih hidup. Ia adalah panggilan bagi dunia—bukan untuk memilih pihak secara sempit—tetapi untuk berdiri tegak di sisi kemanusiaan.

Global March to Gaza membuktikan bahwa meski dunia terpecah dalam banyak hal, suara keadilan bisa mempersatukan umat manusia. Gerakan ini bukan sekadar respons emosional, tetapi representasi nyata dari rakyat dunia yang menolak tunduk pada ketidakadilan dan kekerasan struktural.(*)

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Koperasi Desa: Kesejahteraan atau Kontrol Negara?
Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab
Sengketa Tambang Barsel: Janji “Hibah” Alat Berat Berujung Penolakan di RDP
BEM STIKES Bina Bangsa Majene Bawa Aspirasi Sulawesi Barat di Pratemu Nasional XV BEM Nusantara 2026
Nitezen Ungkap Dugaan Pungli dan Mafia Tanah, Krisis Kepercayaan Terhadap ATR/BPN kabupaten Probolinggo Nampak Jelas
Warga Sapikerep Menunggu Keajaiban Keadilan, Dugaan Penganiayaan Tersangka Pelaku WNA Belum Ada Kepastian Hukum
Dua Pendaki Gunung Piramid Bondowoso Meninggal, Persatuan Kelana Alam Indonesia Ingatkan Pentingnya Keselamatan
Saudi Edu Expo 2026 Sukses Digelar, Antusiasme Pengunjung Melonjak Tiga Kali Lipat
Berita ini 184 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Koperasi Desa: Kesejahteraan atau Kontrol Negara?

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab

Rabu, 5 Agustus 2026 - 22:28 WIB

Sengketa Tambang Barsel: Janji “Hibah” Alat Berat Berujung Penolakan di RDP

Rabu, 5 Agustus 2026 - 21:21 WIB

BEM STIKES Bina Bangsa Majene Bawa Aspirasi Sulawesi Barat di Pratemu Nasional XV BEM Nusantara 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 - 15:06 WIB

Nitezen Ungkap Dugaan Pungli dan Mafia Tanah, Krisis Kepercayaan Terhadap ATR/BPN kabupaten Probolinggo Nampak Jelas

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand