SUARA UTAMA, Malang – Warga mengeluhkan dampak proyek penggalian pipa yang menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari, mulai dari terhentinya aliran air hingga gangguan akses jalan. Proyek tersebut berlangsung di Dusun Tempur, Desa Kemiri, RT 15 RW 4, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Senin (6/4/2026).

Salah satu warga RT 15 Dusun Tempur, Bambang Prasetyo, menyampaikan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak menolak adanya proyek penggalian pipa tersebut. Namun, ia menilai dampak sosial yang ditimbulkan perlu menjadi perhatian serius bagi pihak kontraktor, konsultan, maupun pelaksana.
“Kami sangat terganggu. Pada prinsipnya kami tidak menghalangi proyek tersebut, tetapi setiap pengerjaan pasti memiliki dampak sosial yang seharusnya diperhatikan,” ujarnya saat diwawancarai redaksi Suara Utama melalui wartawan Andre Hariyanto.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Bambang yang juga seorang dosen, sejumlah dampak yang dirasakan warga antara lain terhentinya aliran air PDAM hingga menjelang waktu magrib bahkan malam hari. Ia berharap pihak kontraktor dapat lebih berhati-hati agar pengerjaan tidak merusak jaringan pipa yang mengalir ke rumah warga.
Selain itu, aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut terdampak. Sejumlah warung kecil dan toko kelontong mengalami penurunan pembeli karena akses jalan terganggu dan arus lalu lintas menjadi lambat. Bahkan, kendaraan roda empat dilaporkan kesulitan melintas di lokasi proyek.
Tidak hanya itu, kondisi jalan yang licin akibat tanah galian dan pasir, ditambah hujan, juga menyebabkan beberapa warga terjatuh.
“Kami mohon kepada kontraktor dan pelaksana agar memperhatikan kembali pengerjaan proyek ini. Jangan sampai mengganggu infrastruktur warga, terutama aliran air PDAM yang sangat dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari,” tambahnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Aisyah Putri Widodo, warga asal Palembang, Sumatera Selatan, yang saat ini tinggal di lokasi tersebut. Ia mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga karena air tidak mengalir hingga malam hari.
“Saya memiliki bayi yang baru lahir, namun tidak bisa memandikan karena air tidak mengalir. Selain itu, kurang baik juga jika harus mandi malam hari untuk kesehatan. Kami juga kesulitan memasak karena tidak ada air,” ungkap staf Lembaga pendidikan dan pelatihan AR Learning Center.
Warga berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek agar dampak yang dirasakan masyarakat dapat diminimalisir, tanpa menghambat pembangunan yang sedang berjalan.

Penulis : Andre Hariyanto
Editor : Zahwa Qarira Nazhira
Sumber Berita: Redaksi Suara Utama










