Tertangkap Tangan dan OTT dalam Konteks Hukum Pemberantasan Korupsi

- Publisher

Jumat, 22 Agustus 2025 - 09:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, seorang praktisi pajak dan hukum, memberikan penjelasan mengenai Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK. Meskipun tidak selalu memenuhi kriteria dalam KUHAP, KPK memiliki kewenangan untuk melaksanakan OTT guna menanggulangi tindak pidana korupsi. Penjelasan ini disampaikan dalam diskusi mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia.

Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, seorang praktisi pajak dan hukum, memberikan penjelasan mengenai Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK. Meskipun tidak selalu memenuhi kriteria dalam KUHAP, KPK memiliki kewenangan untuk melaksanakan OTT guna menanggulangi tindak pidana korupsi. Penjelasan ini disampaikan dalam diskusi mengenai pemberantasan korupsi di Indonesia.

Oleh: Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP – Praktisi Pajak dan Hukum

SUARA UTAMA – 22 Agustus 2025 Dalam hukum pidana Indonesia, istilah tertangkap tangan sering digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang ditangkap saat atau segera setelah melakukan tindak pidana. Namun, hal ini berbeda dengan konsep Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Seseorang yang ditangkap melalui OTT oleh KPK, meskipun masih dalam konteks percobaan dan tanpa memenuhi empat keadaan yang diatur dalam Pasal 1 angka 19 KUHAP, tetap dapat dikategorikan mengalami tertangkap tangan.

Seiring berjalannya waktu, beberapa pernyataan tentang keefektifan OTT dalam pemberantasan korupsi menuai pro dan kontra. Beberapa pihak mengkritik tindakan OTT karena dianggap sebagai tradisi yang tidak selalu sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Kritik tersebut lebih ditujukan pada kenyataan bahwa OTT dilakukan berdasarkan bukti permulaan yang sudah terkumpul sebelumnya, sementara dalam hukum acara pidana Indonesia, tertangkap tangan seharusnya merujuk pada penangkapan yang dilakukan saat atau segera setelah tindak pidana dilakukan, tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, pandangan ini hanya melihat dari sudut definisi yang tertuang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), sementara pemberantasan korupsi membutuhkan pendekatan yang lebih luas dan sistematis. Oleh karena itu, meskipun konsep tertangkap tangan dalam KUHAP tidak sepenuhnya sesuai dengan praktik OTT yang dilakukan KPK, hal ini tidak mengurangi keabsahan tindakan OTT dalam konteks pemberantasan tindak pidana korupsi.

Tertangkap Tangan vs. OTT

Tertangkap tangan (delictum flagrans) adalah istilah yang sudah ada sejak zaman Romawi, dan konsep ini diterima secara luas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam Pasal 1 angka 19 KUHAP, tertangkap tangan diartikan sebagai keadaan di mana seseorang tertangkap saat sedang melakukan tindak pidana atau segera setelah tindak pidana dilakukan. KUHAP merumuskan empat keadaan dalam tertangkap tangan, yaitu:

  1. Tertangkapnya seseorang pada waktu sedang melakukan tindak pidana;
  2. Tertangkapnya seseorang segera setelah tindak pidana dilakukan;
  3. Seseorang yang diserukan oleh khalayak ramai sebagai pelaku tindak pidana;
  4. Tertangkapnya seseorang karena ditemukan benda yang menunjukkan keterlibatannya dalam tindak pidana.
BACA JUGA :  Nitezen Ungkap Dugaan Pungli dan Mafia Tanah, Krisis Kepercayaan Terhadap ATR/BPN kabupaten Probolinggo Nampak Jelas

Namun, dalam prakteknya, tidak semua operasi yang dilakukan oleh KPK dapat langsung dihubungkan dengan empat keadaan tersebut. OTT yang dilakukan oleh KPK seringkali melibatkan penyadapan dan bukti permulaan yang dikumpulkan sebelumnya, sehingga tidak selalu sesuai dengan pengertian tradisional tertangkap tangan menurut KUHAP.

Sebagai contoh, dalam kasus Immanuel Ebenezer, Wakil Menteri Ketenagakerjaan yang tertangkap dalam OTT oleh KPK pada Agustus 2025, terjadi saat penyelidikan terkait dugaan pemerasan terhadap beberapa perusahaan yang sedang mengurus sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pada saat OTT dilakukan, transaksi suap yang melibatkan pemberi dan penerima suap belum sepenuhnya selesai, sehingga tidak memenuhi kriteria tertangkap tangan yang ditentukan dalam KUHAP. Meskipun demikian, tindakan OTT tetap sah karena bukti permulaan yang cukup telah terkumpul sebelumnya melalui penyadapan dan informasi yang diperoleh. Dalam hal ini, OTT dilakukan untuk mengamankan barang bukti dan menangkap pelaku kejahatan sebelum bukti-bukti tersebut hilang atau disembunyikan lebih lanjut.

BACA JUGA :  Predator Koruptor Kelahiran Wilayah Yang di Juluki Surga Yang Hilang,Terpilih Menjadi Presiden LSM LIRA

Pembuktian dalam Tindak Pidana Korupsi

Tindak pidana korupsi, khususnya suap, sering kali dilakukan dengan cara yang tersembunyi, sehingga sulit untuk memperoleh bukti yang cukup tanpa menggunakan metode khusus seperti OTT. Dalam hal ini, KPK sering mengandalkan bukti permulaan yang diperoleh melalui penyadapan untuk memastikan bahwa tindak pidana korupsi benar-benar terjadi.

Menurut prinsip hukum pidana “beyond reasonable doubt“, dalam setiap perkara pidana, bukti-bukti yang ada harus cukup kuat dan tidak menimbulkan keraguan bagi hakim. Dalam konteks tindak pidana korupsi, di mana pelakunya seringkali berusaha menghapus jejak kejahatannya, OTT menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mendapatkan bukti yang sah dan kuat.

Perlu dicatat bahwa dalam hukum pidana Indonesia, percobaan melakukan tindak pidana korupsi (seperti percakapan suap yang belum selesai) dianggap setara dengan tindak pidana yang telah selesai. Hal ini sesuai dengan Pasal 15 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2021 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor), yang mengatur bahwa percobaan melakukan tindak pidana korupsi dipersamakan dengan perbuatan pidana korupsi yang telah selesai. Oleh karena itu, meskipun dalam OTT tidak selalu ada keadaan yang memenuhi kriteria dalam Pasal 1 angka 19 KUHAP, tindakan tersebut tetap sah dan dapat dijadikan dasar untuk melanjutkan proses hukum lebih lanjut.

Kewenangan KPK dalam Melakukan OTT

KPK memiliki kewenangan yang jelas dalam melakukan penyadapan sesuai dengan Pasal 12, Pasal 12B, dan Pasal 12C UU KPK. Kewenangan ini memberikan dasar hukum bagi KPK untuk melakukan tindakan OTT sebagai bagian dari upaya untuk memastikan bahwa bukti permulaan yang terkumpul dapat dijadikan bukti yang sah dalam proses hukum lebih lanjut.

BACA JUGA :  AMAN Majene Dorong Penetapan Hutan Adat, Tiga Komunitas Adat Resmi Ajukan Usulan ke Kementerian Kehutanan

Penyadapan yang dilakukan oleh KPK dilakukan dengan persetujuan Dewan Pengawas dan menjadi salah satu langkah awal dalam proses penyelidikan, untuk memastikan bahwa tindak pidana korupsi benar-benar terjadi. Setelah bukti yang cukup terkumpul, OTT dilakukan untuk mengamankan barang bukti dan menangkap pelaku tindak pidana korupsi sebelum kejahatan tersebut dapat disembunyikan lebih lanjut.

Dalam konteks ini, meskipun OTT tidak selalu memenuhi definisi tertangkap tangan menurut KUHAP, langkah tersebut tetap sah dan memiliki dasar hukum yang kuat. Dalam pemberantasan tindak pidana korupsi, KPK memiliki kewenangan untuk menggunakan langkah-langkah luar biasa guna menanggulangi kejahatan luar biasa yang sistemik dan terstruktur ini.

Kesimpulan

Meskipun ada perbedaan antara konsep tertangkap tangan menurut KUHAP dan praktik OTT yang dilakukan KPK, keduanya tetap berfungsi untuk tujuan yang sama: pemberantasan tindak pidana. KPK dapat melakukan OTT meskipun tidak seluruhnya memenuhi kriteria tertangkap tangan menurut KUHAP, karena tindakan tersebut didasarkan pada bukti permulaan yang cukup dan sah. Kewenangan KPK dalam melakukan OTT, yang didukung dengan penyadapan dan bukti permulaan, membuat tindakan ini sah secara hukum dalam rangka pemberantasan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, meskipun ada perdebatan tentang praktik OTT, hal ini harus dilihat dalam konteks pemberantasan kejahatan luar biasa yang membutuhkan langkah-langkah yang tidak biasa.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Bupati Yudas Tebai Turun Langsung ke RSUD Dogiyai, Dengarkan Keluhan Nakes
Tensi Memanas Jelang Dewata Challenge Persib Bandung Siap Tantang Bali United Malam Ini
Pamit di Podium Kemerdekaan ​Momen Perpisahan dan Tugas Terakhir
Sertijab Camat Gunung Bintang Awai: Apresiasi ASN untuk Armadi, Sambut Indra Yudi
Dana Pensiun Indonesia: Dari Paham Menjadi Punya
Korban PRONA dan PTSL Belum Merdeka Secara Utuh, Oknum Kepala ATR/BPN Kabupaten Probolinggo Diduga  Bersembunyi di Bawah Ketiak
Resmob Polres Bitung Gulung Dua Spesialis Curanmor Girian
KKN UMAHA Hadir untuk UMKM Desa KarangTanjung melalui Pendampingan Penerbitan NIB
Berita ini 142 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 22:41 WIB

Bupati Yudas Tebai Turun Langsung ke RSUD Dogiyai, Dengarkan Keluhan Nakes

Selasa, 18 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Tensi Memanas Jelang Dewata Challenge Persib Bandung Siap Tantang Bali United Malam Ini

Senin, 17 Agustus 2026 - 20:14 WIB

Pamit di Podium Kemerdekaan ​Momen Perpisahan dan Tugas Terakhir

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:20 WIB

Sertijab Camat Gunung Bintang Awai: Apresiasi ASN untuk Armadi, Sambut Indra Yudi

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:22 WIB

Korban PRONA dan PTSL Belum Merdeka Secara Utuh, Oknum Kepala ATR/BPN Kabupaten Probolinggo Diduga  Bersembunyi di Bawah Ketiak

Berita Terbaru

Berita Utama

Pamit di Podium Kemerdekaan ​Momen Perpisahan dan Tugas Terakhir

Senin, 17 Agu 2026 - 20:14 WIB

mancingjitu slot thailand slot thailand https://www.marcopolodijon.com/