Penulis: Masaw el Hadis, Komunikolog dan Running Enthusiast
SUARA UTAMA – Dalam dunia lari jarak jauh, ada satu kualitas yang lebih menentukan daripada kecepatan: endurance. Bukan siapa yang paling cepat di kilometer pertama yang menang, tetapi siapa yang mampu menjaga ritme hingga garis akhir.
Maraton bukan perlombaan eksplosif; ia adalah ujian daya tahan fisik, mental, dan strategi energi. Ramadhan pun bekerja dengan prinsip yang sama. Ia bukan sprint spiritual, melainkan maraton jiwa yang menguji spiritual endurance, ketahanan iman dalam ritme yang panjang dan konsisten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap awal Ramadhan, kita seperti pelari yang berdiri di garis start dengan semangat tinggi. Target besar ditetapkan, tilawah dilipatgandakan, doa diperpanjang, sedekah diperbanyak.
Secara psikologis, ini adalah fase motivasi intrinsik yang kuat. Namun dalam psikologi kebiasaan, motivasi bukanlah fondasi utama perubahan jangka panjang. Kebiasaan terbentuk bukan oleh lonjakan energi sesaat, melainkan oleh repetisi stabil yang diulang dalam waktu yang cukup lama.
Seorang pelari maraton yang berlari terlalu cepat di awal justru berisiko “kehabisan napas” sebelum separuh jarak. Demikian pula Ramadhan yang dijalani tanpa pengaturan ritme sering kali berakhir dengan kelelahan spiritual di pertengahan bulan.
Spiritual endurance bukan sekadar kemampuan menahan lapar dan haus, tetapi kemampuan menjaga kualitas ibadah dalam konsistensi. Dalam ilmu olahraga, pelari menjaga pace-kecepatan yang stabil dan terukur. Mereka memahami bahwa tubuh memiliki sistem energi aerobik yang dirancang untuk ketahanan, bukan ledakan.
Ramadhan melatih sistem ruhani yang serupa. Puasa harian membentuk pola disiplin yang berulang: sahur sebagai persiapan energi, puasa sebagai kontrol diri, berbuka sebagai pemulihan, tarawih sebagai penguatan. Siklus ini bukan kebetulan, melainkan desain pembentukan daya tahan jiwa melalui struktur yang konsisten.
Dari perspektif psikologi kebiasaan, Ramadhan menyediakan _cue–routine–reward loop._ Adzan menjadi isyarat, ibadah menjadi rutinitas, dan ketenangan batin menjadi ganjaran. Ketika pola ini dijaga dengan stabil, identitas baru mulai terbentuk. Inilah inti komunikasi perubahan: perubahan yang bertahan bukan sekadar perubahan perilaku, tetapi perubahan identitas.
Seorang pelari maraton tidak lagi sekadar “berlari”, ia melihat dirinya sebagai “pelari”. Begitu pula Ramadhan. Jika seseorang hanya “meningkatkan ibadah selama sebulan”, maka perubahan itu temporer. Tetapi jika ia memaknai dirinya sebagai pribadi yang disiplin, sabar, dan konsisten, maka spiritual endurance mulai tertanam sebagai bagian dari dirinya.
Menariknya, maraton memiliki tiga fase: adaptasi, stabilisasi, dan akselerasi akhir. Ramadhan pun demikian. Hari-hari awal adalah fase adaptasi tubuh dan emosi. Pertengahan bulan adalah fase stabilisasi, ketika semangat awal telah mereda dan konsistensi diuji. Sepuluh malam terakhir adalah fase akselerasi, di mana energi yang tersisa difokuskan pada pencapaian puncak.
Lailatul Qadar ibarat garis akhir yang tidak diberi tanda pasti; ia tersembunyi agar pelari tetap berlari penuh kesadaran hingga akhir.
Dalam teori komunikasi perubahan, keberhasilan transformasi sangat dipengaruhi oleh narasi internal. Jika seseorang memandang Ramadhan sebagai “ujian berat yang harus ditaklukkan di awal”, maka ia cenderung memaksakan intensitas tinggi tanpa perhitungan. Tetapi, jika ia membingkainya sebagai “proses pembentukan endurance”, maka ia akan lebih fokus pada stabilitas daripada spektakel. Narasi ini menentukan kualitas pengalaman spiritual.
Ilmu olahraga juga menunjukkan bahwa ketahanan dibangun melalui akumulasi kecil yang konsisten. Tubuh menjadi kuat bukan karena satu sesi latihan ekstrem, tetapi karena latihan rutin yang terstruktur. Begitu pula jiwa. Satu halaman Al-Qur’an setiap hari yang terjaga lebih membentuk karakter daripada puluhan halaman yang dibaca hanya di awal. Satu sedekah rutin membangun kebiasaan empati lebih kokoh daripada satu kebaikan besar yang lahir dari emosi sesaat.
Spiritual endurance tumbuh dari repetisi yang sabar. Ramadhan, dengan demikian, adalah laboratorium pembentukan daya tahan ruhani. Ia melatih kontrol diri, memperkuat regulasi emosi, dan membangun identitas spiritual melalui pola yang berulang. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu dramatis; sering kali ia sunyi dan bertahap. Seperti pelari maraton yang menjaga napasnya dalam kesenyapan kilometer panjang, seorang mukmin menjaga niat dan ritme ibadahnya dalam konsistensi harian.
Pada akhirnya, keberhasilan Ramadhan tidak diukur dari kecepatan start, tetapi dari kualitas finish. Seorang pelari mungkin memulai perlombaan dengan cepat, tetapi jika ia tidak memiliki endurance, ia akan berhenti sebelum garis akhir. Begitu pula Ramadhan. Spiritualitas yang sejati bukanlah letupan sesaat, melainkan kemampuan menjaga iman dalam perjalanan panjang kehidupan.
Spiritual endurance berarti keluar dari Ramadhan dengan karakter yang lebih stabil, emosi yang lebih terkendali, disiplin yang lebih kuat, dan identitas yang lebih matang. Karena kehidupan setelah Ramadhan jauh lebih panjang daripada tiga puluh hari itu sendiri. Ramadhan hanyalah lintasan latihan. Dan maraton jiwa yang sesungguhnya berlangsung sepanjang hidup.
Editor : Zahwa Qarira Nazhira
Sumber Berita: STAIL Surabaya











