SUARA UTAMA – Investor legendaris Ray Dalio, pendiri firma investasi raksasa Bridgewater Associates, kembali mengirimkan sinyal waspada kepada dunia. Dalam analisis terbarunya, Dalio menyatakan bahwa peradaban global sedang memasuki masa kegelapan yang serupa dengan krisis besar yang terjadi setiap 80 tahun sekali. Pola sejarah itu, kata Dalio, tengah berulang — dan kali ini dunia mungkin tidak siap menghadapinya.
“Musim Dingin” Peradaban Sedang Datang
Menurut Dalio, sejarah tidak bergerak secara linear, melainkan berputar dalam siklus panjang yang terdiri dari fase kemakmuran, stagnasi, krisis, lalu rekonstruksi. Fase ini, katanya, berulang kira-kira setiap delapan dekade.
“Jika Anda melihat sejarah dengan jujur, Anda akan menemukan pola yang konsisten. Setelah masa puncak kekuatan, negara-negara besar akan menghadapi pelemahan internal, konflik sosial, dan pertarungan kekuasaan global. Itulah musim dingin dari tatanan dunia — dan kita sedang memasukinya sekarang,” ujar Ray Dalio dalam wawancara dengan CNBC.
Ia mencontohkan bagaimana Perang Dunia II pecah sekitar 80 tahun setelah Perang Napoleon dan Perang Saudara Amerika. Kini, sekitar delapan dekade pasca Perang Dunia II, Dalio melihat tanda-tanda siklus kehancuran itu kembali menguat.
Empat Indikator Menuju Krisis Besar
Dalio menyebut ada empat indikator utama yang menunjukkan dunia berada di ujung siklus:
- Krisis Ekonomi dan Utang
Dunia menghadapi inflasi tinggi, utang publik membengkak, dan mata uang utama seperti dolar AS melemah.
“Ini adalah kombinasi klasik sebelum krisis besar. Situasinya sangat mirip dengan akhir 1930-an,” kata Dalio.
2. Polarisasi Sosial-Politik
Ketimpangan ekonomi yang ekstrem dan meningkatnya ekstremisme politik membuat stabilitas domestik rapuh. Di Amerika, misalnya, tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga negara berada di titik terendah dalam sejarah modern.
3.Ketegangan Geopolitik
Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kini menjadi pusat dinamika global, seperti halnya rivalitas AS–Uni Soviet pada masa Perang Dingin.
“Sejarah menunjukkan, ketika kekuatan yang sedang naik menantang kekuatan yang mapan, perang sering kali menjadi hasil akhirnya,” tulis Dalio dalam bukunya The Changing World Order.
4. Perubahan Tatanan Global
Dunia sedang bergerak dari sistem unipolar menuju multipolar. Perubahan besar ini jarang berlangsung damai.
Resonansi di Kalangan Pengamat dan Media
Pandangan Dalio mendapat perhatian luas dari para pengamat global. Sejarawan ekonomi Niall Ferguson mengatakan bahwa analisis tersebut “tidak hanya tepat secara historis, tetapi juga sangat relevan secara politis.”
“Ketika Dalio berbicara tentang siklus 80 tahun, ia sebenarnya mengingatkan kita bahwa masa stabilitas pascaperang telah berakhir. Kita sekarang berada dalam fase yang bisa memicu perang besar atau transformasi tatanan dunia,” ujar Ferguson dalam wawancara dengan Bloomberg.
Media internasional juga menyoroti hal yang sama:
- Majalah The Economist menyebut dekade 2020-an sebagai “the most dangerous decade since the 1930s” — dekade paling berbahaya sejak masa sebelum Perang Dunia II.
- Financial Times menulis bahwa “era globalisasi tanpa gesekan telah berakhir,” dan dunia kini memasuki era proteksionisme serta blok ekonomi baru.
Peringatan yang Tak Boleh Diabaikan
Banyak ekonom melihat peringatan Dalio bukan sekadar ramalan pesimistis, melainkan ajakan untuk melakukan koreksi arah. Profesor hubungan internasional Joseph Nye menilai dunia masih memiliki peluang untuk menghindari benturan besar, jika para pemimpin global mampu mengelola transisi kekuasaan dengan kepala dingin.
“Sejarah tidak harus berulang persis sama. Tetapi jika kita mengabaikan pelajarannya, kita hampir pasti akan mengulang kesalahan yang sama,” ujar Nye.
Refleksi Penulis: Antara Krisis dan Kesempatan
Peringatan Ray Dalio adalah panggilan bangun bagi peradaban. Dunia kini berdiri di persimpangan: apakah akan terjerumus dalam siklus kehancuran seperti masa lalu, atau berani menempuh jalan baru yang lebih damai?
Krisis besar dalam sejarah memang menyakitkan, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya tatanan baru. Seperti hancurnya kekaisaran lama yang melahirkan lembaga-lembaga internasional pasca Perang Dunia II, masa sulit hari ini bisa menjadi awal dari dunia yang lebih seimbang — jika kita mau belajar, beradaptasi, dan bertindak lebih bijak dari generasi sebelumnya.






