Perawan Tua Menunggu Hujan Reda
Cerpen oleh: Dands Mann Diamonds
SUARA UTAMA. Langit menumpahkan rahmat, tangisan sedih dan gembira beriringan.
Puspasari duduk di kursi ruang tamu. Hujan mengguyur deras. Di balik kaca jendela, butiran air meniti perlahan menuju bumi, seolah mengijabahi doa-doa yang telah melangit. Aroma tanah basah memenuhi ruangan, menenangkan dan menggugah rasa sendu.
“Lama menunggu hujan reda. Ah, seperti hidupku saja,” gumamnya lirih. Kalimat itu bukan hanya sekadar gumaman, melainkan cerminan pergulatan batin yang dalam.
Hujan terus mendera kesunyian. Label “perawan tua” yang menempel tanpa diminta, terasa seperti hujatan. Usianya telah melewati banyak musim. Hatinya masih setia menunggu harapan.
Puspasari gadis sederhana. Percaya setiap hal indah datang pada waktunya. Namun diam-diam mulai bertanya, apakah doa tanpa langkah tetap bisa menjemput takdir yang ditunggu?
Baginya, pendidikan adalah jalan untuk memuliakan hidup. Gelar sarjana diraihnya dengan perjuangan dan pengorbanan.
Sayangnya masyarakat menilai beda. “Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi? Akhirnya menjalani tiga ‘M’: macak, masak, manak.” Peran domestik yang sering diibaratkan “kasur, dapur, dan sumur” masih mengekang ruang gerak perempuan di masyarakat pendalungan.
*
Bulan lalu, dalam sebuah pengajian akbar, Puspasari mendengar kisah yang mengguncang hatinya: “The Parable of the Drowning Man”, kisah klasik tentang lelaki yang tenggelam.
Kisah dimulai dari suara kentongan dan sirine bersahutan. Banjir bakal terjadi. Evakuasi dilakukan. Warga berbondong-bondong mengungsi ke daerah yang lebih aman.
“Sebentar lagi daerah ini banjir. Semua orang mengungsi. Ayo mas, ikut mengungsi” Keluarga lelaki yang disapa mas ini pun ikut mengungsi. Tinggal lelaki yang terkenal rajin beribadah, tetap bertahan.
Lelaki itu menjawab dengan tenang, “Tidak, Tuhan yang akan menolong dan menyelamatkanku!”
Mereka pun meninggalkannya sendiri. Tak lama, sebuah truk datang. “Ayo, cepat naik! Air sudah merata, tinggal sampean!” Namun lelaki itu tetap menolak dengan alasan yang sama.
Air makin naik. Lelaki itu berpindah ke lantai dua. Perahu penyelamat pun datang menghampiri. “Cepat naik! Kami akan membawamu ke tempat aman!”
Lagi-lagi, lelaki itu menolak, mengulang keyakinannya, “Tuhan pasti akan menolongku.”
Air bertambah meninggi. Lelaki itu naik ke atap rumah. Datang helikopter, dan seseorang berteriak, “Pegang tali ini, cepat naik!”
Namun lelaki ini gigih menolak, “Tuhan pasti akan menolongku!” Banjir pun menelan rumah bersama lelaki itu.
Di negeri akhirat, ia protes. “Tuhan, aku percaya padamu, mengapa engkau tidak menolong dan menyelamatkanku?”
Malaikat berkata, “Kamu ini bagaimana, warga mengajak mengungsi, kamu tidak serta. Datang penolong membawa truk, perahu dan helikopter kamu pun menolaknya”
Penceramah berhenti sejenak, suaranya kalem, “Kadang kita terlalu sibuk menunggu keajaiban sampai lupa bahwa pertolongan Tuhan hadir melalui tanda-tanda yang tidak kita sadari”
*
Kisah itu menancap kuat di hati Puspasari, seperti akar yang menghujam dalam tanah. Ia lebih peka melihat tanda.
Langit masih gerimis. Entah mengapa, hati teriris dan bergetar.
“Apakah aku seperti lelaki itu? Menunggu jodoh dari Tuhan, tetapi menolak setiap orang yang datang?”
Babak baru baginya dimulai. Puspasari melihat hidup dengan cara berbeda. Hati terasa hangat, ada secercah harapan kembali menyala padanya. Bersamaan hujan turun dirinya merasa didekati oleh rahmat Tuhan.
Gerimis belum reda, memberi jeda pada renungan batin. Sebuah kehangatan yang menenangkan jiwanya. Sabar menunggu hujan reda dan lebih sabar menanti takdir yang telah digariskan.
Hujan pada musim hujan, tak mengenal waktu. Siang itu, seusai pengajian bulanan, hujan kembali turun deras. Jamaah yang membawa payung satu per satu pulang, sementara Puspasari masih menunggu bersama beberapa jamaah perempuan, yang tertahan di tempat parkir.
Motor dan mobil satu persatu telah meninggalkan tempat parkir.
Tinggal satu mobil berwarna putih yang tersisa. Seorang lelaki paruh baya, Renan David bersama seorang perempuan muda bernama Lily masuk ke dalam mobil. Sekilas mereka seperti pasangan suami istri beda usia yang kelihatan bahagia.
Mobil bergerak sambil membunyikan klakson, seakan pamitan. Lalu, mendadak berhenti sebelum keluar dari area parkiran.
Tidak lama kemudian, Lily turun membawa payung. “Mbak ini payung, dipakai saja,” katanya ramah.
Puspasari ingin menolak, lidahnya hampir refleks berkata, “Tidak perlu, rumahku tidak jauh dari sini. Aku menunggu hujan reda”.
Kisah lelaki yang tenggelam kembali menyapanya. Apakah ini salah satu bentuk pertolongan yang tidak boleh diabaikannya?
Betapa tidak baiknya menolak kebaikan orang. Puspasari tersenyum lembut, menerima payung dari seorang perempuan yang tulus dan baik hati.
Pengajian demi pengajian berlalu. Payung disimpan rapi di lemari dan dibawah ke pengajian tatkala hujan. Berharap bertemu Lily, ingin mengucapkan terima kasih dan mengembalikan payungnya.
Bulan berikutnya Renan dan Lily kembali datang. Selepas pengajian, Puspasari memberanikan diri menghampiri Lily. “Mbak, terima kasih banyak untuk payungnya. Saya jadi merepotkan,” ucap Puspasari dengan senyum tulus.
Lily tersenyum, “Tidak merepotkan sama sekali. Saya senang bisa membantu.”
Lily telah memastikan kabar bahwa Puspasari belum menikah. “Mbak saya lihat sering sendiri, masih lajang ya?”
Puspasari tersenyum canggung, tidak menjawabnya.
*
Pengajian di akhir musim penghujan kali ini rasanya beda. Bersamaan dirinya datang dari kejauhan mobil putih menuju lokasi parkir. Jamaah masih sepi.
Usai mobil di parkir. Perlahan Lily melangkah mendekat dan duduk disampingnya. Tak lama kemudian, Lily berbisik lirih, “Apakah mbak bersedia menjadi istri, sembari menunjuk Renan yang baru keluar dari memarkir mobilnya”
Puspasari kaget, mendengar permintaan yang tidak terduga.
“Aku melamar mbak untuk ayahku?” Lily kemudian menceritakan kalau Ibunya telah wafat.
Puspasari bingung, jantungnya berdegup kencang. Tidak saling kenal, tidak ada kata cinta. Putrinya melamar untuk ayahnya. Bagaimana cinta dapat tumbuh?
Memori lama muncul, sebelum dan selepas kuliah, pinangan demi pinangan datang menghampiri. Semua berujung pada penolakan dengan seribu satu alasan demi pendidikan.
Lily menatapnya penuh harap. “Aku ingin ayah bahagia, menyempurnakan nilai ibadah,” katanya lirih.
Haru dan terdiam. Puspasari menyadari tanda ini, seolah kehangatan dari hati Lily dan Renan menyalur melalui payung yang datang membawakan teduh dalam hidupnya.
Tak ada kata, hanya keheningan yang lembut berputar di antara mereka, seperti waktu yang akhirnya rela berpihak pada hati yang saling mengerti.
Dalam hening itu, Lily mendekat. Ia mencium punggung tangan Puspasari dengan takzim, seperti sungkem seorang anak kepada ibunya, lalu lirih memanggilnya, “Ibu!”
Air mata Puspasari luruh pelan; dalam satu panggilan itu, seolah seluruh kesepiannya menemukan tempat pulang.
*
Beberapa kali pertemuan berlangsung dalam kehangatan dan saling pengertian. Lily selalu menyertai mereka, seperti benang halus yang menjahit dua hati sunyi, menemukan gema di ruang yang dulu hanya berisi doa dan kenangan.
Seiring berjalannya waktu, Puspasari yakin pada takdir yang menuntunnya. Hakikat pernikahan sesungguhnya bukan sekadar penyatuan, melainkan ibadah yang menenangkan jiwa.
Renan mengakui, sejak pertama melihatnya, ada damai yang tak bisa dijelaskan, seolah hujan hari itu diturunkan untuk mempertemukan mereka.
Renan yang meminta Lily menyerahkan payung, bukan sekadar pelindung dari hujan, melainkan tanda kecil yang diam-diam tumbuh dari kekaguman.
Renan juga tahu, di balik senyum Lily, putri semata wayang, tersimpan ruang rapuh semenjak kepergian mendiang ibunya. Karena itu, setiap langkah dia jaga dengan hati-hati. Tidak ingin kebahagiaannya justru menyisakan luka di hati putri tersayangnya.
Perlahan melalui diskusi panjang akhirnya Lily setuju dengan pilihan ayahnya. Bahkan Lily yang meminta izin untuk melamarnya sendiri.
Payung itu kini menjadi peneduh bagi tiga hati yang mendamba keceriaan. Puspasari dan Renan mengikat janji suci, sementara Lily menjadi jembatan kasih di antara mereka. Akad nikah digelar dan seketika sindiran tentang perawan tua pun reda.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penulis : DANDS MANN DIAMONDS
Editor : Didik PW
Sumber Berita: Wartawan Suara Utama











