Mengapa Rindu kepada Tuhan Menjadi Kebutuhan Spiritual Manusia?

Selasa, 10 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Utama ID.- Dalam kesibukan aktifitas kehidupan dunia, manusia kerap kali merasa hampa meski dikelilingi oleh kemewahan, pencapaian, atau relasi sosial. Hampa itu bukan sekadar rasa kosong biasa—ia adalah isyarat terdalam dari jiwa bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi yang sedang dirindukan: Sang Pencipta. Rindu kepada Tuhan bukan hanya perasaan emosional, melainkan kebutuhan spiritual yang melekat dalam fitrah manusia.

  1. Fitrah Manusia yang Berorientasi pada Tuhan

Sejak awal penciptaannya, manusia diciptakan dengan membawa fitrah ketuhanan. Dalam banyak tradisi keagamaan, diyakini bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengenal dan mendekat kepada Tuhan. Dalam Islam, konsep ini dikenal sebagai fitrah, yakni kondisi jiwa yang suci dan siap menerima kebenaran ilahiah. Maka ketika manusia jauh dari Tuhan, jiwanya akan merasa gelisah, karena telah menyimpang dari kodrat sejatinya.

  1. Kekosongan Spiritual Tak Terisi oleh Dunia

Banyak yang mencoba mengisi kekosongan batin dengan hal-hal duniawi: karier, harta, hiburan, atau relasi. Namun, semua itu bersifat fana dan terbatas. Seiring waktu, manusia sadar bahwa kedamaian yang sejati tak ditemukan dalam pencapaian eksternal, melainkan dalam koneksi dengan Yang Maha Abadi. Rindu kepada Tuhan muncul sebagai respons jiwa yang haus akan makna sejati dan ketenangan abadi.

  1. Rindu sebagai Jalan Menuju Kedekatan

Rasa rindu bukan sekadar perasaan yang pasif. Ia adalah panggilan untuk kembali. Rindu kepada Tuhan mendorong manusia untuk beribadah, berdoa, merenung, dan memperbaiki diri. Dari rindu, tumbuhlah cinta. Dari cinta, tumbuhlah kepasrahan, dan dari kepasrahan lahirlah ketenangan yang tidak bisa ditawarkan oleh dunia. Kedekatan dengan Tuhan menjadi tujuan akhir dari setiap langkah spiritual.

  1. Rindu sebagai Penawar Luka Batin
BACA JUGA :  Kepatuhan Pajak di Tangan Algoritma: Solusi atau Ancaman?

Saat manusia mengalami luka—baik karena kehilangan, kesedihan, atau kegagalan—jiwa cenderung mencari tempat bersandar. Tuhan menjadi satu-satunya yang tidak pernah ingkar, tidak berubah, dan selalu menerima. Dalam rindu kepada-Nya, manusia menemukan harapan, kekuatan, dan makna dalam penderitaan. Rindu kepada Tuhan menjadi seperti pelukan yang menenangkan jiwa yang terluka.

  1. Rindu kepada Tuhan Menguatkan Moral dan Etika

Kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hati membuat manusia lebih terjaga dalam sikap dan perilaku. Rindu kepada-Nya menciptakan rasa malu untuk berbuat dosa dan dorongan kuat untuk hidup sesuai nilai-nilai luhur. Ini bukan semata-mata karena takut akan hukuman, tetapi karena cinta dan kerinduan untuk tetap dekat dengan-Nya.

Penutup: Kembali kepada Yang Maha Mengasihi

Rindu kepada Tuhan adalah bahasa jiwa yang mengingatkan kita bahwa kita bukan sekadar tubuh yang hidup di dunia ini. Kita adalah makhluk spiritual yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Sang Pencipta. Maka janganlah rindu itu dipadamkan. Peliharalah ia dalam doa, dalam dzikir, dalam kebaikan. Sebab di sanalah letak kedamaian sejati.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Dan di ayat lain, Dia menyampaikan panggilan cinta-Nya:

“Maka kembalilah kepada Tuhanmu, dengan hati yang ridho dan diridhoi. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS. Al-Fajr: 28–30)

Semoga rindu kita kepada-Nya menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah, hingga kelak kita benar-benar kembali dalam pelukan kasih-Nya yang abadi.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

PETI di Desa Bukit Bungkul Mengamuk, Aparat Diam: Ada Beking Kuat di Balik Ponidi?
Diduga Lalai Dalam Menjalankan Tugas, Oknum Petugas Jalan PU Ruas Jalan Pekalen -Klenang Jadi Sorotan 
Pembangunan Jembatan di Desa Lubuk Birah Mangkrak, Warga Keluhkan Janji Tak Tepat Waktu: Kades Bungkam
Hari Pers Nasional 2026, Suara Utama Konsisten Mengabarkan Kebenaran untuk Publik
Kayu Sengon Ditebang, Oknum Petugas DPUPR Ruas Jalan Pekalen -Klenang Terindikasi Gagal Dalam Penegakan Hukum
Pemuda Pancasila Tanggamus Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Ketua dan Sekretaris DPW PPP Lampung
Solar Jadi Nyawa PETI Tabir Barat: Penyuplai BBM Diduga Bebas Berkeliaran, Aparat Seolah Tutup Mata
Mungkinkah Tangisan Masyarakat Dapat Terobati Dengan Hasil Pemeriksaan BK DPRD kabupaten Probolinggo 

Berita Terkait

Selasa, 10 Februari 2026 - 06:38

PETI di Desa Bukit Bungkul Mengamuk, Aparat Diam: Ada Beking Kuat di Balik Ponidi?

Senin, 9 Februari 2026 - 18:30

Diduga Lalai Dalam Menjalankan Tugas, Oknum Petugas Jalan PU Ruas Jalan Pekalen -Klenang Jadi Sorotan 

Senin, 9 Februari 2026 - 07:31

Pembangunan Jembatan di Desa Lubuk Birah Mangkrak, Warga Keluhkan Janji Tak Tepat Waktu: Kades Bungkam

Minggu, 8 Februari 2026 - 20:02

Hari Pers Nasional 2026, Suara Utama Konsisten Mengabarkan Kebenaran untuk Publik

Minggu, 8 Februari 2026 - 19:19

Kayu Sengon Ditebang, Oknum Petugas DPUPR Ruas Jalan Pekalen -Klenang Terindikasi Gagal Dalam Penegakan Hukum

Minggu, 8 Februari 2026 - 17:56

Solar Jadi Nyawa PETI Tabir Barat: Penyuplai BBM Diduga Bebas Berkeliaran, Aparat Seolah Tutup Mata

Minggu, 8 Februari 2026 - 10:50

Mungkinkah Tangisan Masyarakat Dapat Terobati Dengan Hasil Pemeriksaan BK DPRD kabupaten Probolinggo 

Minggu, 8 Februari 2026 - 10:35

Ruang GTK, BCKS, dan Tantangan Kepemimpinan Sekolah

Berita Terbaru