Konflik Venezuela – Amerika Serikat 2025: Cermin Geopolitik Dunia Multipolar dan Bayangan Perang Energi Baru

- Publisher

Jumat, 31 Oktober 2025 - 12:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi dua perahu menuju galangan minyak di Venezuela (Maria Isabella Bernotti/Pexels.com)

Ilustrasi dua perahu menuju galangan minyak di Venezuela (Maria Isabella Bernotti/Pexels.com)

SUARA UTAMA – Ketegangan antara Venezuela dan Amerika Serikat (AS) pada akhir 2025 bukan sekadar konflik bilateral atau perang urat syaraf antara Donald Trump dan Nicolás Maduro.

Di balik retorika “perang melawan narkoba”, tersembunyi dinamika geopolitik yang jauh lebih kompleks, yaitu perebutan pengaruh global dalam sistem dunia multipolar, di mana kekuatan Barat kini menghadapi resistensi dari blok baru yang digerakkan oleh BRICS+ (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan, dengan Venezuela sebagai simpatisan).

Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lain, eskalasi ini bukan isu jauh di Amerika Latin melainkan representasi pergeseran tatanan dunia, dengan implikasi langsung terhadap stabilitas energi, perdagangan global, dan arsitektur keamanan internasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Geopolitik dan Doktrin Monroe

Secara historis, AS selalu menganggap Amerika Latin sebagai “halaman belakangnya” melalui Monroe Doctrine (1823) yang menegaskan bahwa intervensi kekuatan asing di wilayah Barat adalah ancaman bagi keamanan nasional AS (Gilderhus, 2006: 5–16).

Dalam konteks kontemporer, doktrin ini dihidupkan kembali oleh Trump sebagai justifikasi moral dan strategis untuk menekan Venezuela adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi.

Teori Realism Offensive dari John Mearsheimer menjelaskan perilaku ini sebagai dorongan alami negara besar untuk mempertahankan dominasi melalui penguasaan sumber daya dan pengaruh geopolitik (Toft, 2005: 381–408) (Tabak, 2025).

Sehingga operasi “anti-narkotika” hanyalah proxy policy untuk memastikan AS tidak kehilangan hegemoni energi dan kontrol geopolitik di belahan barat.

Venezuela dan Aliansi Timur

Sejak sanksi ekonomi 2018, Venezuela beralih ke poros Timur, yaitu Rusia, Cina, dan Iran untuk bertahan (Arslanian, 2025: 1–22) (Stasevich, 2024).

Dukungan militer Rusia dalam bentuk sistem rudal S-300 dan pesawat tempur Sukhoi menjadi simbol penolakan terhadap dominasi Washington.

Konflik 2025 memperlihatkan strategi kontra-hegemonik BRICS, di mana Rusia dan Cina menentang aksi militer AS melalui Dewan Keamanan PBB. Dalam kerangka World-System Theory dari Immanuel Wallerstein, Venezuela dapat dilihat sebagai bagian dari “semi-periphery” yang mencoba membebaskan diri dari dominasi ekonomi-politik “core state” (AS dan sekutunya) (Goldfrank, 2000: 150–95) (Umruk, 2005).

BACA JUGA :  Website Disdik Jabar Malfungsi Massal, Ribuan Wali Murid Terjebak 'Prank' Pengumuman

Ketegangan ini menandai benturan sistemik antara tatanan unipolar (AS-NATO) dan multipolar (BRICS), yaitu sebuah konflik ideologis tentang siapa yang berhak menentukan aturan global.

Perang Energi dan Narasi Moral

Dengan cadangan minyak mentah mencapai 300 miliar barel, Venezuela bukan sekadar sasaran politik, tetapi juga simbol perang energi global (Wilpert, 2022: 273–89).

Penelitian Morales, W. Q. (1994) menunjukkan bahwa setiap intervensi AS di Amerika Latin pasca-Perang Dingin memiliki korelasi kuat dengan kepentingan energi (Morales, 1994: 77–101).

Trump menggunakan isu “perang melawan narkoba” untuk menciptakan moral justification bagi operasi militer, strategi yang serupa dengan Iraq Invasion 2003 yang dikemas sebagai perang melawan terorisme.

Di sisi lain, Venezuela memainkan kartu “anti-imperialisme” untuk memperoleh simpati global dari negara-negara Selatan yang bosan dengan hegemoni Barat.

Amerika Latin yang Terbelah

Konflik ini juga mengguncang solidaritas Amerika Latin. Kolombia, sekutu lama AS, memihak Washington, sedangkan Kuba, Bolivia, dan Nikaragua menyatakan dukungan terbuka kepada Caracas.

Polarisasi ini menghidupkan kembali legacy Perang Dingin, di mana kawasan Amerika Selatan menjadi ajang proxy conflict antara dua blok ideologis, yaitu kapitalisme liberal versus sosialisme populis.

Menurut kajian Taheri Hosseinkhani, N. (2025), meningkatnya fragmentasi politik di kawasan ini mengancam stabilitas ekonomi regional, termasuk rantai pasok pangan dan energi global yang juga berimbas ke Asia Tenggara (Taheri Hosseinkhani, 2025).

Konflik antara Venezuela dan Amerika Serikat membawa sejumlah konsekuensi strategis yang perlu dicermati, terutama bagi Indonesia dan blok ekonomi BRICS yang tengah berupaya memperkuat posisinya dalam tatanan dunia multipolar.

BACA JUGA :  Menakar Etika Demokrasi Dan Keadilan Pemilu Dalam Bayang Politik Kepentingan

Ketegangan ini telah memicu guncangan pada rantai pasok energi global, yang secara langsung berdampak pada negara-negara importir minyak seperti Indonesia.

Lonjakan harga minyak mentah dan ketidakpastian pasokan memperlihatkan betapa rapuhnya sistem energi dunia yang masih berpusat pada dominasi dolar Amerika Serikat.

Dalam hal ini, BRICS melihat peluang untuk mempercepat pembentukan sistem perdagangan energi alternatif berbasis mata uang lokal, seperti inisiatif BRICS Pay, guna menantang hegemoni finansial AS dan menciptakan mekanisme ekonomi yang lebih otonom di antara negara-negara berkembang.

Dukungan Rusia dan Cina terhadap Venezuela juga memperlihatkan semakin kuatnya konsolidasi politik di dalam tubuh BRICS.

Aksi solidaritas ini tidak semata bersifat ideologis, melainkan juga strategis, karena Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia yang jika digabungkan dengan sumber daya energi negara anggota BRICS lainnya, dapat menguasai lebih dari 45 persen pasokan minyak global.

Hal ini berpotensi mengubah peta kekuatan energi dunia, menantang dominasi OPEC dan Amerika Serikat, serta memperkuat posisi tawar blok Timur dalam ekonomi global.

Dengan demikian, konflik Venezuela–AS menjadi momentum penting bagi BRICS untuk mempercepat integrasi dan memperluas keanggotaannya dalam rangka menyeimbangkan pengaruh geopolitik Barat.

Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat akan pentingnya mempertahankan dan menyesuaikan politik luar negeri bebas-aktif di tengah perubahan tatanan global.

Indonesia berada pada posisi strategis antara dua kutub kepentingan besar, bahwa Amerika Serikat sebagai mitra ekonomi tradisional, dan BRICS sebagai poros ekonomi dan energi baru yang semakin berpengaruh.

Oleh karena itu, kebijakan luar negeri Indonesia harus bersifat adaptif, pragmatis, dan berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tekanan geopolitik global.

Pengalaman Venezuela memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia tentang bahaya ketergantungan berlebihan terhadap ekspor komoditas energi tanpa diversifikasi industri yang memadai.

BACA JUGA :  Pekerja dan Manajemen PT Berau Karetindo Lestari, Mencapai puncaknya. Dewan Pengurus Cabang Serikat Buruh Sejahtera Indonesia DPC (SBSI) 1992

Krisis ekonomi dan politik di Venezuela sebagian besar disebabkan oleh struktur ekonomi yang terlalu bergantung pada minyak, menjadikan negara tersebut rentan terhadap fluktuasi harga dan tekanan eksternal.

Indonesia, yang juga kaya sumber daya alam, perlu memastikan bahwa transisi menuju ekonomi berkelanjutan dan berdaya saing global tidak hanya berfokus pada sektor energi, tetapi juga pada penguatan teknologi, industri manufaktur, dan kemandirian pangan.

Referensi

Arslanian, Ferdinand. (2025). “US Sanctions and Cooperation among Targets: The Case of Cooperation between Iran and Venezuela.” Middle East Critique, Taylor & Francis, 1–22.

Gilderhus, Mark T. (2006). “The Monroe doctrine: meanings and implications.” Presidential Studies Quarterly, 36(1), 5–16.

Goldfrank, Walter L. (2000). “Paradigm Regained? The Rules Of Wallerstein? s World-System Method.” Journal of world-systems research, 150–95.

Morales, Waltraud Queiser. (1994). “US Intervention and the New World Order: Lessons from Cold War and post‐Cold War Cases.” Third World Quarterly, 15(1), 77–101.

Stasevich, Stanislav. (2024). China’s riskisation: China’s Approaches to Sanctioned Petrostates, Cases of Russia, Iran and.

Tabak, Mehmet. (2025). “John J. Mearsheimer’s Offensive Realism.” Dalam Realism in International Relations: The Making of a Disarrayed Tradition.

Taheri Hosseinkhani, Nima. (2025). “Geopolitical Turmoil, Supply-Chain Realignment, and Inflation: Commodity Shocks, Trade Fragmentation, and Policy Responses.” Supply-Chain Realignment, and Inflation: Commodity Shocks, Trade Fragmentation, and Policy Responses.

Toft, Peter. (2005). “John J. Mearsheimer: an offensive realist between geopolitics and power.” Journal of International Relations and Development, 8(4), 381–408.

Umruk, Okan. (2005). World-Systems Analysis: Toward a New Epistemology. Marmara Universitesi (Turkey).

Wilpert, Gregory. (2022). “The US War on Venezuela.” Sanctions as War. Anti-Imperialist Perspectives on American Geo-Economic Strategy, 273–89.

Penulis : Ruben Cornelius Siagian

Editor : Nurana Prasari

Sumber Berita: Berbagai Jurnal Ilmiah

Berita Terkait

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh
Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Perselisihan di Warung Mentawak Berujung Pemukulan, YL Lapor ke Polres Merangin  
Silatnas dan Milad 2026 Perkuat Ukhuwah, Komitmen, dan Kompetensi Anggota AR Learning Center serta Suara Utama
Raker Ma’had Ar-Rohmah Bogor Perkuat Mutu Pendidikan dan Prestasi Santri
PDI Perjuangan Makassar Lantik Pengurus Anak Cabang se-Kota Makassar
Berita ini 107 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:17 WIB

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:45 WIB

Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:45 WIB

Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:11 WIB

Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Senin, 22 Juni 2026 - 18:48 WIB

Perselisihan di Warung Mentawak Berujung Pemukulan, YL Lapor ke Polres Merangin  

Berita Terbaru

Berita Utama

Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:43 WIB