Ketika Amerika Tak Lagi Dunia: Trump dan Retorika Anti-Global

- Publisher

Selasa, 8 April 2025 - 08:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Utama.- Sejak Perang Dunia II, Amerika Serikat menempatkan dirinya sebagai simbol dan pelopor globalisasi—baik melalui perdagangan bebas, penyebaran nilai-nilai demokrasi, maupun dominasi budaya pop. Namun, fenomena politik Donald Trump menghadirkan sebuah ironi: Amerika yang dulu menjadi lokomotif globalisasi kini justru hadir sebagai penentangnya. Trump tampil dengan retorika keras, nasionalistik, dan seringkali proteksionis—menawarkan narasi tandingan terhadap dunia yang saling terhubung. Melalui slogan populernya, “Make America Great Again”, ia menyodorkan sebuah janji: membawa Amerika kembali pada kejayaannya yang “murni”, tanpa beban keterikatan internasional.

Tulisan ini akan mengupas bagaimana retorika anti-global Donald Trump bukan hanya sebatas strategi politik, melainkan manifestasi dari keresahan struktural dalam masyarakat Amerika—yang lelah menjadi bagian dari “dunia”, dan mulai memimpikan batas-batas yang lebih jelas.

Globalisasi yang Diromantisasi dan Dicurigai

Globalisasi selama puluhan tahun dianggap sebagai keniscayaan. Namun di balik narasi kemajuan dan keterbukaan, banyak kelompok masyarakat di negara-negara maju—termasuk Amerika Serikat—merasakan keterpinggiran. Pabrik-pabrik ditutup, lapangan kerja berpindah ke luar negeri, dan nilai-nilai tradisional tergilas oleh arus budaya global. Sentimen ini menjadi tanah subur bagi retorika Trump.

Trump menangkap keresahan ini dan membungkusnya dalam narasi sederhana: globalisasi merugikan Amerika. Ia menyalahkan perjanjian perdagangan seperti NAFTA, menuduh China “mencuri” pekerjaan, dan meremehkan multilateralisme sebagai bentuk “penindasan” terhadap kepentingan nasional AS.

Trump sebagai Simbol Politik Anti-Global

Retorika Trump bukan hanya retorika. Dalam praktik kebijakannya, diantaranya:

  • Menarik AS dari Perjanjian Paris tentang perubahan iklim, menunjukkan ketidakpercayaan terhadap komitmen global bersama.
  • Menolak multilateralisme dengan mendiskreditkan WHO dan PBB.
  • Mendorong perang dagang dengan China, menghidupkan kembali proteksionisme yang lama ditinggalkan.
  • Menguatkan politik imigrasi yang ketat, dengan membangun tembok perbatasan dan membatasi visa.

Semua ini berakar pada pandangan dunia yang sangat realistis, di mana negara harus memprioritaskan kepentingannya sendiri, bahkan dengan mengorbankan konsensus internasional.

BACA JUGA :  Bau Akram Dai Hadiri Puncak Adat Limboro Rambu-Rambu

Kebangkitan Nasionalisme dan Perubahan Arah Amerika

Fenomena Trump tidak berdiri sendiri. Ia bagian dari gelombang populisme global yang juga tampak di Brexit, kemenangan sayap kanan di Eropa, dan kemunculan tokoh-tokoh otoriter di berbagai belahan dunia. Namun, dalam konteks Amerika, Trump adalah titik balik yang radikal. Ia menjadikan nasionalisme bukan sekadar nilai konservatif, tapi ideologi pengganti bagi internasionalisme liberal yang selama ini dipegang Amerika.

Retorika “America First” memposisikan Amerika sebagai entitas tertutup, fokus pada domestik, dan enggan memikul beban sebagai “polisi dunia”. Dalam arti tertentu, ini adalah bentuk dekonstruksi terhadap peran hegemonik AS dalam tatanan global pasca-Perang Dunia II.

Paradoks: Globalisasi Tak Pernah Benar-Benar Mati

Meskipun Trump mencoba menjauh dari dunia, realitas global tetap merasuk. Ekonomi Amerika tetap sangat bergantung pada pasar global. Teknologi dan informasi terus menembus batas negara. Bahkan dalam masa pandemi, keterkaitan antarnegara menjadi sangat jelas.

BACA JUGA :  Bapelkum Bitung Pastikan Pelatihan Berdampak Nyata, Evaluasi Kompetensi ASN di Kanwil Kemenkum Sulsel

Trump mungkin berhasil mengubah arah wacana publik, tetapi ia tidak bisa sepenuhnya memutuskan jaringan global. Ini menciptakan sebuah paradoks: Amerika menolak globalisasi, tetapi tak bisa hidup tanpanya.

Kesimpulan : Fenomena Donald Trump adalah gejala zaman sebagai suatu bentuk perlawanan terhadap dunia yang serba terhubung, kompleks, dan seringkali tidak adil bagi sebagian orang. Retorika anti-globalnya merefleksikan keresahan identitas dan ketidakpuasan ekonomi yang dirasakan jutaan rakyat Amerika. Namun, dalam upayanya membatasi dan memisahkan diri, Trump juga memperlihatkan betapa sulitnya membalik arus globalisasi yang telah mengakar dalam setiap aspek kehidupan modern.

Ketika Amerika tak lagi menjadi “dunia”, mungkin dunia pun harus belajar hidup tanpa Amerika—atau setidaknya, tanpa Amerika yang dulu. Hal ini juga bisa merujuk Pemikiran  Samuel P. Huntington “Who Are We? The Challenges to America’s National Identity” (2004) – tentang krisis identitas nasional Amerika, sangat relevan untuk retorika Trump.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Sinema Kajang Lako Dorong Sineas Muda Jambi Menggali Cerita dari Warisan Budaya
Sertifikat Agunan Diambil Tanpa Izin, Muncul Dugaan Kerja Sama Tidak Sehat di Lingkungan BRI Unit Merangin
BPN Merangin Jadi Sorotan, Efektivitas Pelayanan dan Disiplin Pegawai Dipertanyakan
Jongguk Sirait Desak Kejelasan BRI Unit Merangin, Sertifikat Agunan Diduga Diambil Orang dengan Tanda Tangan Palsu
Ahmad Fahmi Soroti PKS “Nakal” di Merangin, Desak Pemkab Bertindak Tegas Perjuangkan Harga TBS Sawit
Diduga Tak Sesuai RAB, Proyek Bronjong Pengaman Jalan Muara Siau–Lubuk Beringin Senilai Rp400 Juta Disorot Warga
Korban PTSL Mendesak Selesaikan Semua Permasalahan, ATR/BPN Kabupaten Probolinggo Jangan Kejar Terget PTSL 2026
Menkum Terima Langsung Aduan Dugaan Pelanggaran Notaris, Pastikan Proses Sesuai Hukum*
Berita ini 114 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 14:19 WIB

Sinema Kajang Lako Dorong Sineas Muda Jambi Menggali Cerita dari Warisan Budaya

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:43 WIB

Sertifikat Agunan Diambil Tanpa Izin, Muncul Dugaan Kerja Sama Tidak Sehat di Lingkungan BRI Unit Merangin

Minggu, 2 Agustus 2026 - 12:01 WIB

BPN Merangin Jadi Sorotan, Efektivitas Pelayanan dan Disiplin Pegawai Dipertanyakan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:53 WIB

Jongguk Sirait Desak Kejelasan BRI Unit Merangin, Sertifikat Agunan Diduga Diambil Orang dengan Tanda Tangan Palsu

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 19:09 WIB

Ahmad Fahmi Soroti PKS “Nakal” di Merangin, Desak Pemkab Bertindak Tegas Perjuangkan Harga TBS Sawit

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand