Kaleidoskop 2025: Bukan Sekadar Bencana Alam, tetapi Bencana Tata Kelola

- Publisher

Sabtu, 13 Desember 2025 - 11:11 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi Kaleidoskop 2025

Gambar Ilustrasi Kaleidoskop 2025

SUARA UTAMA – Sepanjang 2025, Indonesia kembali dihadapkan pada rangkaian bencana alam yang terjadi hampir tanpa jeda. Banjir, longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan muncul silih berganti di berbagai wilayah, sering kali di lokasi yang sama dan dengan pola yang berulang. Fakta ini menunjukkan bahwa bencana tidak lagi dapat dipahami semata sebagai peristiwa alamiah, melainkan sebagai indikasi kegagalan tata kelola lingkungan dan pembangunan yang belum dibenahi secara mendasar.

Bencana yang Menjadi Pola

Bencana alam pada 2025 tidak berdiri sebagai peristiwa luar biasa, tetapi telah membentuk pola tahunan. Setiap musim hujan, wilayah rawan banjir kembali terdampak. Setiap kemarau, kekeringan dan kebakaran lahan muncul dengan skala yang tidak jauh berbeda. Pola berulang ini mengisyaratkan bahwa risiko telah dikenali, tetapi belum dikelola secara efektif.

Ketika bencana dapat diprediksi namun tetap terjadi, persoalannya bukan lagi pada ketidakpastian alam, melainkan pada kesiapan kebijakan.

Antara Iklim dan Kebijakan

Perubahan iklim global memang berkontribusi pada meningkatnya cuaca ekstrem. Namun, dampaknya menjadi lebih serius ketika bertemu dengan kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia. Deforestasi, alih fungsi lahan, penyempitan daerah resapan air, serta pembangunan di kawasan rawan bencana memperbesar risiko yang seharusnya dapat dikendalikan.

Dalam konteks ini, bencana alam merupakan akumulasi dari pilihan kebijakan jangka panjang yang mengabaikan daya dukung lingkungan.

Pembangunan yang Memperbesar Kerentanan

Pembangunan adalah keniscayaan, tetapi ia menuntut kehati-hatian. Sepanjang 2025, terlihat bahwa pertumbuhan belum sepenuhnya disertai pengelolaan risiko yang memadai. Dokumen tata ruang dan analisis dampak lingkungan sering kali tidak menjadi rujukan utama dalam pengambilan keputusan.

Akibatnya, pembangunan yang diharapkan meningkatkan kesejahteraan justru memperbesar kerentanan masyarakat terhadap bencana.

BACA JUGA :  Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan

Negara dan Orientasi Penanganan

Penanganan bencana masih didominasi pendekatan darurat. Negara hadir ketika bencana telah terjadi, menyalurkan bantuan, dan melakukan pemulihan sementara. Namun, investasi pada mitigasi, rehabilitasi ekosistem, dan penegakan hukum lingkungan belum menjadi arus utama kebijakan.

Padahal, pencegahan merupakan bentuk kehadiran negara yang paling strategis dan berkelanjutan.

Bencana sebagai Ukuran Tata Kelola

Dalam perspektif kebijakan publik, bencana alam adalah indikator kualitas tata kelola. Ia mencerminkan sejauh mana pembangunan dirancang dengan prinsip kehati-hatian, keberlanjutan, dan keadilan antargenerasi. Ketika risiko terus meningkat, pertanyaan yang relevan bukan hanya tentang cuaca, tetapi tentang arah dan konsistensi kebijakan.

Penutup: Kaleidoskop 2025 seharusnya tidak berhenti pada pencatatan jumlah bencana dan korban. Ia perlu dibaca sebagai peringatan bahwa masalah utama terletak pada tata kelola. Bencana alam memang tidak dapat dihindari sepenuhnya, tetapi dampaknya sangat ditentukan oleh keputusan yang diambil jauh sebelum bencana terjadi.

BACA JUGA :  Sertijab Camat Gunung Bintang Awai: Apresiasi ASN untuk Armadi, Sambut Indra Yudi

Menutup 2025, rangkaian bencana alam seharusnya dibaca bukan sekadar sebagai catatan peristiwa, melainkan sebagai cermin arah pembangunan yang sedang ditempuh. Alam telah memberi sinyal berulang, dengan cara yang kian keras dan mahal biayanya. Jika sinyal ini kembali diabaikan, maka bencana di masa depan tidak lagi dapat diposisikan sebagai musibah yang tak terelakkan, melainkan sebagai konsekuensi dari pilihan tata kelola yang terus dibiarkan. Di titik inilah, kaleidoskop 2025 menuntut lebih dari sekadar simpati—ia menuntut koreksi kebijakan dan keberanian untuk berubah.

Jika pelajaran ini tidak segera ditindaklanjuti, maka bencana di masa depan tidak lagi dapat disebut sebagai musibah semata, melainkan sebagai konsekuensi dari kegagalan mengelola ruang hidup bersama.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk
Pemimpin Redaksi Suara Utama Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam UKW bersama KG Media
UKW Kompas, KG Media dan Google Digelar di Surabaya, Diikuti 45 Peserta
Alhamdulillah, Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam Uji Kompetensi Wartawan
Team Ngorek Audio: Sebaiknya Volume Sound Horeg Sewajarnya
Persebaya Optimis Juara di Musim Menuju Usia 100 Tahun
Kebakaran Gunung Kawi-Butak hingga Arjuno, Yayasan Suara Utama Indonesia Serukan Kepedulian
5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, Founder YSUI Ajak Insan Pers Panjatkan Doa
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:38 WIB

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk

Senin, 21 September 2026 - 21:28 WIB

Pemimpin Redaksi Suara Utama Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam UKW bersama KG Media

Minggu, 20 September 2026 - 00:50 WIB

UKW Kompas, KG Media dan Google Digelar di Surabaya, Diikuti 45 Peserta

Sabtu, 19 September 2026 - 20:11 WIB

Alhamdulillah, Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam Uji Kompetensi Wartawan

Jumat, 18 September 2026 - 16:52 WIB

Team Ngorek Audio: Sebaiknya Volume Sound Horeg Sewajarnya

Berita Terbaru

FOTO: Penulis Mendekatkan Buku kepada Pembacanya

Berita Utama

Mendekatkan Buku Kepada Pembacanya

Selasa, 22 Sep 2026 - 20:25 WIB

https://mancingjitu.com/