SUARA UTAMA, Jakarta – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang baru dalam transformasi pembelajaran di perguruan tinggi. Menjawab tantangan tersebut, Tim Peneliti Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (FBS UNJ) berhasil mengembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI-Assisted Learning dengan Pendekatan Deep Learning bagi Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Arab.

Penelitian yang dilaksanakan sepanjang tahun 2026 ini didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Jakarta melalui Program Hibah Penelitian Internal Tahun 2026, sebagai upaya mendukung pengembangan inovasi pembelajaran berbasis kecerdasan buatan di lingkungan perguruan tinggi.

Penelitian dipimpin oleh Rifda Haniefa, M.Pd. sebagai ketua peneliti bersama Siti Masyitoh, S.Hum., M.A., Dr. Samsi Setiadi, M.Pd., Dr. Muhammad Kamal bin Abdul Hakim, M.A., Dr. Puti Zulharby, M.Pd., dan Hendrawanto Ch., M.Pd., M.A. Tim penelitian juga melibatkan dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, yaitu Siti Yuhanza Ibtizah dan Syahira Banu Ahmad, dalam proses pengembangan modul digital interaktif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Laporan yang diterima redaksi Suara Utama, Kamis (6/8/2026), Penelitian dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta, berangkat dari hasil analisis kebutuhan yang menunjukkan bahwa mahasiswa masih mengalami berbagai kendala dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab (maharah al-kalām). Kesulitan tersebut meliputi keterbatasan penguasaan kosakata, pelafalan yang belum optimal, rendahnya kepercayaan diri dalam berbicara, serta minimnya kesempatan untuk berlatih komunikasi secara aktif. Selain itu, bahan ajar yang digunakan masih didominasi oleh modul konvensional yang belum mampu mengintegrasikan teknologi digital secara pedagogis.
Ketua peneliti, Rifda Haniefa, menjelaskan bahwa pengembangan modul ini tidak hanya bertujuan menghadirkan teknologi ke dalam kelas, tetapi juga membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna melalui desain pembelajaran yang sistematis.
“Artificial Intelligence tidak kami posisikan sebagai pengganti dosen, melainkan sebagai learning partner yang mendampingi mahasiswa selama proses belajar. AI memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berlatih berbicara kapan saja, memperoleh umpan balik secara langsung, serta melakukan refleksi terhadap kemampuan berbicara mereka secara mandiri. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga belajar secara lebih aktif, kontekstual, dan bermakna,” jelas Rifda.
Keunggulan modul yang dikembangkan terletak pada integrasi AI-Assisted Learning dengan pendekatan Deep Learning dalam satu desain pembelajaran yang utuh. Pendekatan Deep Learning diterapkan melalui tahapan Understanding, Applying, dan Reflecting, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam komunikasi nyata dan melakukan refleksi terhadap proses belajarnya. Sementara itu, AI berperan sebagai Speaking Partner, Pronunciation Coach, Vocabulary Assistant, Formative Feedback, dan Reflection Partner, sehingga mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih personal, adaptif, dan interaktif.
Keunikan lain dari modul ini adalah penerapan Story-Based Learning yang menghubungkan seluruh materi pembelajaran melalui satu alur cerita yang berkesinambungan. Setiap topik menjadi bagian dari perjalanan tokoh dalam berbagai situasi kehidupan sehingga mahasiswa mempelajari kosakata, ungkapan, dan keterampilan berbicara dalam konteks komunikasi yang autentik. Dengan pendekatan tersebut, proses belajar tidak lagi sekadar menghafal dialog atau struktur bahasa, tetapi mendorong mahasiswa menggunakan bahasa Arab secara lebih alami sesuai konteks.
Dalam pengembangannya, tim peneliti menggunakan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Tahap analisis dilakukan melalui angket, observasi, wawancara, dan analisis dokumen untuk mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran. Selanjutnya, tim menyusun desain instruksional, mengembangkan modul digital interaktif, melakukan validasi oleh para ahli, mengimplementasikan modul pada pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Arab, serta mengevaluasi hasil implementasi sebagai dasar penyempurnaan produk.
Melalui penelitian ini diharapkan lahir sebuah inovasi pembelajaran yang mampu mendukung transformasi pendidikan bahasa Arab di era kecerdasan buatan. Modul digital interaktif yang dikembangkan tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga menjadi model implementasi AI yang terintegrasi dengan prinsip-prinsip pedagogis sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang lebih personal, kontekstual, reflektif, dan berpusat pada mahasiswa. Tim peneliti juga berharap hasil penelitian ini dapat menjadi referensi bagi dosen, pengembang pembelajaran, maupun institusi pendidikan dalam mengembangkan pembelajaran bahasa berbasis AI yang relevan dengan tuntutan pendidikan abad ke-21.
Tulisan Kiriman: Siti Yuhanza Ibtizah
Penulis : Siti Yuhanza Ibtizah
Editor : Andre Hariyanto
Sumber Berita: Universitas Negeri Jakarta











