Antara Citra, Realita dan Harapan Sekolah Kecil

Sabtu, 5 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Mengajar Kelas 
|| suarautama.id

Ilustrasi Mengajar Kelas || suarautama.id

SUARA UTAMA, Tulang Bawang– “Guru adalah pelita, penerang dalam gulita. Tapi bagaimana jika pelita itu harus menyala di ruang yang tak lagi percaya?”

Kalimat itu bukan sekadar perenungan, melainkan gambaran nyata perjuangan para guru di sekolah kecil seperti SMPN Satu Atap 1 Rawajitu Timur. Sekolah negeri sederhana yang terletak di ujung timur Kabupaten Tulang Bawang ini dihuni oleh guru-guru bersertifikasi, sebagian besar di antaranya telah menjadi ASN PPPK.

Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana, para pendidik di sana tetap teguh berdiri, menjalankan peran penting dalam mendidik anak-anak bangsa. Namun, realita tak selalu berpihak. Bahkan saat sekolah ini berhasil meraih peringkat ketiga Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) tingkat Kabupaten Tulang Bawang tahun 2024, apresiasi justru digantikan dengan cibiran.

“Sekolah kayak gitu kok terbaik?”

“Cuma guru satap aja, gaya doang lebih.”

“Ngapain bikin kegiatan, buang-buang biaya.”

Komentar-komentar semacam ini sering kami dengar. Kata-kata itu lebih tajam dari ujung pena yang kami gunakan untuk menyusun rencana pembelajaran. Menjadi ironi, ketika semangat memberi justru dibalas dengan sinisme.

Tantangan Tak Selalu dari Luar

Yang lebih menyakitkan, tantangan terkadang lahir dari dalam. Budaya kerja yang kurang sehat seperti saling tunjuk, saling menggantungkan tugas, dan minimnya profesionalisme menjadi batu sandungan tersendiri. Ketika ada guru yang tulus membantu, tak jarang justru dimanfaatkan. Sementara yang bersuara dianggap mengganggu kenyamanan.

“Kita ini guru, seperti artis. Setiap gerak-gerik kita disaksikan publik. Kalau kita sendiri tak saling menghormati, bagaimana orang tua dan siswa bisa menghormati kita?” ujar penulis kepada rekan-rekannya.

Namun, suara seperti itu kerap tenggelam dalam dinamika yang lebih memilih aman, diam, dan nyaman.

Mengapa Wibawa Guru Kian Terkikis?

Setidaknya ada beberapa alasan yang menjadi penyebab merosotnya wibawa guru, terutama di sekolah kecil:

1. Bias terhadap sekolah kecil

Banyak yang mengira mutu hanya milik sekolah besar. Padahal, di sekolah kecil justru terjadi relasi emosional yang lebih kuat antara guru dan siswa.

BACA JUGA :  Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku

2. Media sosial dan figur viral tanpa nilai edukatif

Keteladanan guru kini bersaing dengan selebritas instan yang kerap tak mendidik tapi dielu-elukan.

3. Budaya kerja internal yang tidak sehat

Ketika sesama guru tak saling menguatkan, martabat profesi ini perlahan terkikis dari dalam.

4. Kurangnya regenerasi etos kerja

Guru-guru muda tidak dibimbing dalam budaya kerja positif. Mereka akhirnya terjebak dalam rutinitas tanpa semangat tumbuh.

Menjaga Api, Menolak Padam

Meski dalam kondisi penuh tantangan, bukan berarti semuanya suram. Ada harapan dan langkah-langkah sederhana yang bisa ditempuh untuk menjaga wibawa guru tetap menyala.

1. Menanamkan kembali semangat profesi

Mengajar bukan hanya rutinitas, tapi panggilan jiwa. Wibawa tumbuh dari integritas, bukan semata status.

2. Tampilkan hasil nyata, bukan seremoni

Disiplin, prestasi, dan perubahan karakter siswa adalah bukti paling kuat untuk menumbuhkan kepercayaan publik.

3. Bangun budaya kerja tim

Bekerja kolektif, saling menghargai tugas, dan membagi beban secara adil dapat menciptakan iklim kerja yang sehat.

4. Aktif menyuarakan citra positif sekolah

Media sosial, mading, dan media lokal bisa menjadi ruang untuk mengabarkan kisah positif dari sekolah kecil.

Di Sekolah Kecil, Tumbuh Harapan Besar

Menjadi guru di sekolah kecil bukanlah kekurangan, melainkan bentuk panggilan untuk menciptakan perubahan dari tempat yang sering dilupakan. Di sinilah nilai-nilai luhur pendidikan tumbuh: dari kedekatan, kesederhanaan, dan ketulusan.

Mungkin kita belum bisa mengubah cara pandang semua orang. Tapi satu hal yang bisa kita jaga adalah harga diri dan wibawa sebagai pendidik. Teruslah menjadi pelita, meski kecil, karena satu cahaya cukup untuk mengusir gelap.

“Guru bukan dewa yang tak pernah lelah, tapi manusia yang tetap berdiri, walau tak selalu dihormati.”

Jika hari ini kamu merasa sendiri dalam perjuangan ini, percayalah—masih banyak guru di luar sana yang diam-diam sedang menyala. Mari kita terus bersuara, terus bekerja, dan terus menyinari mimpi-mimpi anak negeri.

 

Penulis : Yoni Wahyu Sampurna, S.Pd.Gr. (Guru Bahasa Indonesia SMPN Satu Atap 1 Rawajitu Timur Kabupaten Tulang Bawang)

Editor : Nafian Faiz

Berita Terkait

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan
Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus
Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW
Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles
Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku
Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu
Mengapa Penulisan Berita Tidak Dianjurkan Mencantumkan Gelar Nama

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Senin, 26 Januari 2026 - 15:19

PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan

Kamis, 22 Januari 2026 - 21:16

Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus

Senin, 19 Januari 2026 - 16:36

Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:47

Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Sabtu, 3 Januari 2026 - 23:45

Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku

Jumat, 2 Januari 2026 - 16:11

Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu

Selasa, 30 Desember 2025 - 14:10

Mengapa Penulisan Berita Tidak Dianjurkan Mencantumkan Gelar Nama

Berita Terbaru