Ketika Pendidikan, Kesehatan, dan Listrik Jadi Kemewahan di Ujung Bumi Dipasena Abadi, Tulang Bawang

- Publisher

Rabu, 26 Februari 2025 - 10:07 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Pendidikan di wilayah 3T Tulang Bawang|| Nafian Faiz

Potret Pendidikan di wilayah 3T Tulang Bawang|| Nafian Faiz

SUARA UTAMA, Tulang Bawang —
Sekira pukul 14.00, kami meninggalkan Dusun Teluk Gedung, tempat kepala sekolah SDN se-Rawajitu Timur mengadakan silaturahmi di SDN 2 Bumi Dipasena Abadi. Satu per satu peserta melangkah hati-hati meniti jembatan kayu sempit yang menghubungkan rumah-rumah panggung, kembali ke klotok masing-masing untuk pulang ke Kampung Bumi Dipasena Abadi, akses darat terakhir tempat kendaraan kami terparkir sejak pagi.

Dusun Teluk Gedung adalah pemukiman terakhir masyarakat di ujung Kuala Sungai Mesuji. Rumah-rumah warga berdiri di atas tonggak nibung, beratap asbes, dan berlantai papan kayu, saling terhubung dengan jembatan kayu sederhana — rumah di atas air.

Di teras rumah, tampak ikan-ikan kecil dijemur beralas waring hitam, sementara beberapa warga menjual ikan segar dan ikan asap untuk menyambung hidup. Sebagian besar penduduk di sini adalah nelayan yang bertarung dengan ketidakpastian alam demi mengisi perut keluarga mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjalanan kembali ke kampung induk Kampung Bumi Dipasena Abadi ditempuh dengan klotok, seperti saat berangkat tadi pagi. Kendaraan air sederhana ini menjadi kendaraan mewah sebagai sarana transportasi.

Jarak antar dusun — Teluk Gedung, Kuala Dalam, dan Minak Jebi — sebenarnya bisa ditempuh dalam 30 menit. Namun, jika melawan arus sungai, waktu tempuh bisa bertambah hingga lebih dari satu jam.

BACA JUGA :  Yayasan Nurul Hasanain Desa Wedusan Terindikasi Melanggar Tausyiah MUI, Kemenag di Minta Investigasi Lebih Mendalam

Angin, hujan, atau terik matahari langsung menyapu tubuh karena klotok yang kami tumpangi tanpa atap. Perjalanan ini serasa panjang dan semakin lambat, terlebih saat rasa penat mulai merayapi badan.

Setibanya di Kuala Dalam, dulu disebut Kuala Mesuji, kami singgah ke rumah warga dan menyaksikan bekas bangunan sekolah yang kini hanya tersisa kerangkanya. Papan nama sekolah masih menempel, tapi atap, dinding, dan lantainya sudah lama runtuh.

Yusup, salah satu tokoh masyarakat setempat, menceritakan bahwa sekolah itu awalnya dibangun secara swadaya oleh keluarganya, kemudian dilanjutkan oleh Pemkab Mesuji setelah Mesuji mekar dari Tulang Bawang waktu itu. Namun, sekitar lima tahun lalu, bangunan itu roboh karena tiang dari pohon nibung yang lapuk dan kurangnya perawatan.

Sejak saat itu, anak-anak dari Dusun Minak Jebi dan Kuala Dalam tidak lagi memiliki sekolah. Mereka terpaksa belajar di rumah-rumah guru SDN 2 Bumi Dipasena Abadi yang ada di dusun itu, tentu dengan fasilitas seadanya. Jika ada ujian atau ulangan, barulah mereka berlayar ke sekolah utama yang berada di Teluk Gedung.

Aidin Bakhtiar, Kepala SDN 2 Bumi Dipasena Abadi, mengisahkan bagaimana anak-anak itu harus berjuang untuk sekadar mendapatkan hak pendidikan dasar. Jarak jauh, minimnya akses darat, dan bahaya perjalanan sungai menjadi tantangan yang terus mengintai.

BACA JUGA :  Publik Meminta Kemenag Kabupaten Probolinggo Intropeksi, Pakopak Sebut Ada Potensi Pelanggaran Hak Konstitusional Pegawai

Aidin sendiri bukan penduduk asli dusun itu, melainkan warga Kampung Bumi Dipasena Abadi yang ditugaskan oleh pemerintah sejak 2019. Ia harus mendayung, atau bahkan menarik sampannya saat air surut, dengan waktu tempuh paling cepat satu jam untuk mengajar.

Perjalanan itu pun penuh risiko — dari hujan, arus deras, hingga kemungkinan bertemu binatang buas seperti buaya yang mengintai di sungai.

“Setiap berangkat mengajar, semua doa saya baca. Saya harus siap lahir batin. Kalau saya mundur, siapa lagi yang akan mengajar anak-anak ini?” ucap Aidin, matanya berkaca-kaca, Selasa (25/2).

Menurut Aidin kalau dirinya menggunakan kendaraan air dan menelusuri Sungai Mesuji, jarak tempuhnya bertambah lama, dan biayanya pun mahal. Setidaknya harus merogoh kocek Rp300 ribu, itupun masih harus berjuang mencari carteran klotok. Kalau menggunakan Speedboat akan lebih mahal lagi.

Di luar pendidikan, warga juga kesulitan mengakses layanan kesehatan dan infrastruktur dasar. Ketika ada warga sakit, mereka harus bertaruh nyawa melawan arus sungai untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat. Ibu hamil yang hendak melahirkan pun hanya bisa berdoa agar bayi mereka selamat sampai tujuan.

Hingga kini, di Dusun Kuala Dalam, listrik pun belum menjangkau rumah-rumah warga, membuat mereka bergantung pada lampu minyak atau genset seadanya.

Menurut Pak Yusup, masyarakat tidak peduli masuk wilayah administratif mana, yang mereka butuhkan adalah perhatian nyata dari pemerintah. “Yang penting ada yang mau memperhatikan kami. Kami butuh listrik, sekolah, layanan kesehatan, dan akses jalan darat. Itu saja,” ujarnya lirih.

BACA JUGA :  SMSI dan Mahkamah Agung Bersinergi Cetak Mediator Bersertifikat di Seluruh Indonesia

Konflik tapal batas dan tarik-menarik kewenangan telah menjadikan dusun-dusun ini seperti wilayah yang terabaikan. Padahal, mereka adalah bagian dari anak bangsa yang hak-haknya dilindungi konstitusi.

Anak-anak Teluk Gedung, Kuala Dalam, dan Minak Jebi berhak atas sekolah yang layak. Para nelayan berhak atas fasilitas kesehatan yang memadai. Dan seluruh warga berhak merasakan pembangunan yang merata, sama seperti saudara-saudara mereka di daratan.

Setelah mampir juga di Dusun Minak Jebi, dan ketika klotok kami melaju kembali menuju kampung induk, ada beban berat yang tersisa di hati.

Bukan hanya karena perjalanan yang melelahkan, tetapi karena menyadari bahwa di sudut negeri ini, masih ada masyarakat yang harus berjuang sendirian untuk mendapatkan hak-hak dasar yang seharusnya sudah menjadi kewajiban negara.

Mungkin sudah saatnya para pemangku kebijakan datang, bukan sekadar melihat, tapi merasakan dan bergerak. Karena bagi masyarakat Teluk Gedung,Kuala Dalam dan Minak Jebi hidup terus berjalan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik tak akan pernah surut — meski harus melawan arus sungai setiap hari.

Penulis : Nafian faiz : Jurnalis, tinggal di Lampung

Berita Terkait

BEMNUS Sulawesi Barat Soroti Rencana Pengangkatan Kembali Nakes PPPK di Mamuju : “Jangan Jadikan Tenaga Kesehatan Korban Kebijakan Anggaran
Bapelkum Bitung Dorong Pelayanan Hukum Makin Dekat dengan Masyarakat
Jam Pelayanan Masih Berlangsung, BEMNUS Sulbar Soroti Kosongnya Loket Layanan Disdikpora Majene
Semangat Pengayoman Menggelora, Bapelkum Bitung Meriahkan Fun Walk Sambut HUT RI ke-81
Semarak HUT RI ke-81, Lapas Kelas IIB Bangko Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Binaan, Keluarga dan Masyarakat
Perjuangan Siswa KIP Berprestasi Arya
Bapelkum Bitung Tebar Kepedulian, Bagikan Sembako untuk Security dan TAD Sambut HUT RI ke-81
Bapelkum Bitung dan BNNK Perkuat Sinergi Sambut HUT RI ke-81
Berita ini 1,851 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 15:24 WIB

BEMNUS Sulawesi Barat Soroti Rencana Pengangkatan Kembali Nakes PPPK di Mamuju : “Jangan Jadikan Tenaga Kesehatan Korban Kebijakan Anggaran

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:19 WIB

Bapelkum Bitung Dorong Pelayanan Hukum Makin Dekat dengan Masyarakat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 00:07 WIB

Jam Pelayanan Masih Berlangsung, BEMNUS Sulbar Soroti Kosongnya Loket Layanan Disdikpora Majene

Jumat, 7 Agustus 2026 - 19:47 WIB

Semangat Pengayoman Menggelora, Bapelkum Bitung Meriahkan Fun Walk Sambut HUT RI ke-81

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:39 WIB

Semarak HUT RI ke-81, Lapas Kelas IIB Bangko Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Warga Binaan, Keluarga dan Masyarakat

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand