Teknokrat Anak Bangsa yang disia-siakan

Senin, 9 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO : Ricky Elson sang ahli pembuat motor listrik pertama di Indonesia

FOTO : Ricky Elson sang ahli pembuat motor listrik pertama di Indonesia

SUARA UTAMA.Ricky Elson adalah sosok teknokrat Indonesia yang namanya sempat mencuat saat ia memutuskan pulang ke tanah air setelah lebih dari satu dekade berkarier di Jepang. Di negeri Sakura, Ricky bekerja di sebuah perusahaan ternama, dimana ia terlibat langsung dalam pengembangan motor listrik berkecepatan tinggi, salah satu teknologi inti dalam kendaraan listrik. Keahliannya membuatnya disegani di dunia teknologi Jepang, namun hatinya tetap terpaut pada tanah kelahiran. Ia pulang dengan harapan bisa berkontribusi nyata untuk Indonesia, khususnya dalam membangun kemandirian teknologi di bidang transportasi ramah lingkungan.

Sepulangnya ke Indonesia, Ricky tidak memilih jalur nyaman seperti menjadi konsultan industri atau pejabat perusahaan besar. Ia lebih memilih membangun Pabrik Mikrohidro dan bengkel teknologi di daerah Sumatera Barat, tempat ia bisa mendidik anak-anak muda, melatih mereka mengembangkan teknologi sendiri. Di sana, ia mengembangkan motor listrik lokal dan bahkan sempat meluncurkan prototipe mobil listrik hasil karya anak bangsa. Mimpi besarnya adalah menciptakan kendaraan listrik nasional yang benar-benar dibuat dan dikuasai teknologinya oleh bangsa Indonesia sendiri.

Namun jalan Ricky tidak mulus. Ketika mobil listrik nasional Garuda dan Selo dipamerkan pada era awal 2010-an, proyek itu sempat mendapatkan sorotan besar dari publik dan pemerintah. Sayangnya, dukungan nyata tidak datang sepenuhnya. Alih-alih diberi ruang dan perlindungan sebagai proyek strategis nasional, kendaraan listrik karya Ricky malah tersandung masalah legalitas karena urusan regulasi dan uji tipe. Pemerintah terkesan enggan memberi karpet merah, seolah enggan mengambil risiko terhadap inovasi anak bangsa yang belum masuk dalam jalur industri besar.

BACA JUGA :  Kenapa Gairah Seks Pria Mulai Menurun di Usia 30-40 Tahun ke Atas?

Padahal, di banyak negara maju, teknokrat seperti Ricky menjadi tulang punggung arah kebijakan teknologi. Di Indonesia, ia justru terkesan jalan sendiri, tanpa dukungan penuh dari lembaga riset negara, industri, maupun regulasi yang progresif. Alih-alih menjadi mitra strategis, Ricky justru lebih sering diberi pujian simbolis namun minim dukungan sistematis. Harapan akan adanya kolaborasi antara negara dan anak bangsa seperti dirinya hanya menjadi wacana yang mengambang.

Meski begitu, Ricky tidak berhenti. Ia tetap konsisten di jalur pendidikan dan pemberdayaan teknologi. Lewat kegiatan di daerah, ia mencetak generasi muda yang tidak hanya mengerti teori, tetapi juga mampu menciptakan sendiri alat dan teknologi. Ia percaya bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan dari kota besar atau keputusan pejabat, tapi dari akar rumput, dari desa-desa yang diberdayakan dengan ilmu dan teknologi.

Kisah Ricky Elson menjadi cermin bagaimana Indonesia sering kali kurang peka dalam mengelola potensi terbaik anak bangsanya. Di saat dunia berlomba mengembangkan kendaraan listrik dan teknologi hijau, kita justru membiarkan teknokrat handal seperti Ricky berjuang sendirian. Tidak ada kebijakan besar yang sungguh-sungguh memayungi inisiatif seperti milik Ricky agar bisa menjadi bagian dari strategi nasional.

Kini, banyak pihak menyesali minimnya perhatian terhadap kiprah Ricky. Namun penyesalan tidak cukup. Indonesia membutuhkan keberanian untuk membangun ekosistem teknologi yang berpihak pada inovator lokal. Kisah Ricky Elson seharusnya menjadi pelajaran: bahwa talenta anak bangsa bukan untuk disia-siakan, tapi harus dirangkul, diberi ruang, dan dijadikan tulang punggung pembangunan teknologi negeri ini.

 

Penulis : Ilham Akbar

Berita Terkait

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah
Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah
‎Proyek Jalan Setapak Beton Kelurahan Sungai Nibung Banyak yang Rusak, Lurah: Nanti Kita Perbaiki
Diduga Milik Jayak, Dua Excavator PETI Bebas Beroperasi di Pamenang Selatan, Warga Tantang Aparat Bertindak
Aman Beroperasi, Ateng Diduga Jadi Penampung dan Pembakar Emas PETI di Desa Langling

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:41

P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Kamis, 29 Januari 2026 - 10:54

Diduga Milik Jayak, Dua Excavator PETI Bebas Beroperasi di Pamenang Selatan, Warga Tantang Aparat Bertindak

Kamis, 29 Januari 2026 - 07:26

Aman Beroperasi, Ateng Diduga Jadi Penampung dan Pembakar Emas PETI di Desa Langling

Rabu, 28 Januari 2026 - 23:08

Media Suara Utama Buka Kesempatan Bergabung bagi Jurnalis dan Kontributor di Seluruh Indonesia

Berita Terbaru

Fhoto saat kegiatan peringatan 1 abad hari lahir Nahdalatul Ulama Tanggamus

Berita Utama

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Jan 2026 - 20:20