Tanah untuk Rakyat, Bukan Oligarki : MPR RI Tegaskan Urgensi Pengesahan RUU Masyarakat Adat

- Publisher

Jumat, 24 Juli 2026 - 06:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA, AKARTA – Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI, Taufik Basari, menegaskan bahwa pelaksanaan reforma agraria di Indonesia hingga kini masih belum mampu mewujudkan amanat konstitusi sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa. Menurutnya, pengelolaan agraria nasional masih menghadapi ketimpangan yang menyebabkan hak-hak rakyat, termasuk masyarakat adat, belum terlindungi secara optimal.

Pernyataan tersebut disampaikan Taufik Basari dalam diskusi Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI yang membahas implementasi Pasal 33 dan keterkaitannya dengan Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

“Saat ini bisa dikatakan pengelolaan agraria masih dikuasai oleh korporasi dan oligarki, sehingga rakyat yang memiliki hak kedaulatan justru termarjinalisasi,” ujar Taufik Basari dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2026).

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tujuan reforma agraria sebagai instrumen untuk mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan penguasaan sumber daya alam masih jauh dari harapan. Karena itu, diperlukan langkah nyata dari negara untuk memastikan pengelolaan agraria berpihak kepada rakyat sesuai amanat konstitusi.

Diskusi tersebut dihadiri pimpinan dan anggota Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI dengan menghadirkan tiga narasumber, yakni Guru Besar Universitas Kristen Indonesia (UKI) Aarce Tehupelory, Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Erasmus Cahyadi Terre, serta Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika.

BACA JUGA :  Diduga Alergi Media, Oknum Kakan ATR/BPN Kabupaten Probolinggo Enggan Menjawab Konfirmasi dan Blokir Nomor Whatsap

Dalam forum tersebut, para narasumber mengulas pentingnya sinkronisasi antara pengakuan terhadap masyarakat hukum adat sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 dengan prinsip penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 33 ayat (3).

Taufik Basari menegaskan bahwa kedua ketentuan konstitusi tersebut memiliki keterkaitan yang erat melalui Ketetapan MPR Nomor IX/MPR/2001, yang menjadi landasan dalam mewujudkan pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam yang adil, berkelanjutan, serta menghormati hak-hak masyarakat adat.

BACA JUGA :  Tensi Memanas Jelang Dewata Challenge Persib Bandung Siap Tantang Bali United Malam Ini

“Kita melihat antara Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) memiliki irisan melalui Tap MPR Nomor IX/MPR/2001,” ungkapnya.

Berbagai kalangan menilai pembahasan tersebut semakin menguatkan urgensi percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat sebagai payung hukum yang memberikan kepastian pengakuan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak masyarakat adat di seluruh Indonesia. Pengesahan RUU tersebut juga dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung reforma agraria yang berkeadilan serta memastikan keberadaan hutan adat sebagai wilayah kelola masyarakat adat sesuai amanat konstitusi.

Penulis : Hamsir

Editor : Hamsir

Sumber Berita: Suara Utama

Berita Terkait

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, Founder YSUI Ajak Insan Pers Panjatkan Doa
Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan
Yayasan Suara Utama Indonesia Soroti Polemik Sound Horeg dan Etika, Pernyataan “Goblok” Jadi Sorotan
Yayasan Suara Utama Indonesia Perkuat Kiprah di Dunia Pers
DPC APPRODI Bekasi Raya Periode 2026–2031 Resmi Dilantik pada Ajang Engagement Day 2026
Kolaborasi 30 TBM Kab. Tanggamus Dorong Akselerasi Literasi Berbasis Kearifan Lokal
Resmi Berdiri, Yayasan Suara Utama Indonesia (YSUI) Siap Perkuat Ekosistem Media, Pendidikan, dan Sosial
Dinkes Dogiyai Gelar Pelatihan Pengelola Imunisasi
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 13:24 WIB

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, Founder YSUI Ajak Insan Pers Panjatkan Doa

Jumat, 11 September 2026 - 13:53 WIB

Dedikasi Membuahkan Hasil: Delegasi SMA Ar Rohmah Guncang Panggung Asean Olympiad 2026 dengan Sederet Kemenangan

Kamis, 10 September 2026 - 11:29 WIB

Yayasan Suara Utama Indonesia Soroti Polemik Sound Horeg dan Etika, Pernyataan “Goblok” Jadi Sorotan

Selasa, 8 September 2026 - 10:21 WIB

Yayasan Suara Utama Indonesia Perkuat Kiprah di Dunia Pers

Senin, 7 September 2026 - 15:15 WIB

DPC APPRODI Bekasi Raya Periode 2026–2031 Resmi Dilantik pada Ajang Engagement Day 2026

Berita Terbaru

FOTO: Andre Hariyanto, Pembina Yayasan Suara Utama Indonesia dan Ketua Bidang Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (Dok. Internal)

Artikel

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah

Sabtu, 12 Sep 2026 - 21:11 WIB

https://mancingjitu.com/