PWI Dituntut Konsisten, Jangan Terjebak Seolah Oposisi Pemerintah

- Publisher

Selasa, 30 September 2025 - 11:42 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta, 30 September 2025 –
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai organisasi wartawan tertua di tanah air kembali menjadi sorotan publik. Hal ini karena PWI kerap dianggap lebih sering melontarkan kritik tajam terhadap pemerintah dibandingkan memberi solusi konstruktif. Kritik yang dimaksud sering muncul dalam bentuk pernyataan resmi pengurus pusat maupun daerah, terutama menyangkut isu kebebasan pers, kriminalisasi jurnalis, dan pelayanan publik.

Sebagai organisasi profesi, PWI memang memiliki peran penting sebagai penjaga independensi dan kebebasan pers. Namun, ketika pernyataan-pernyataan yang keluar lebih bernuansa “menjelekkan” hasil kerja pemerintah tanpa diiringi gagasan yang membangun, PWI berisiko kehilangan wibawa dan kredibilitas. Publik dapat menilai PWI bukan lagi mitra kritis yang konstruktif, melainkan sekadar kelompok oposisi yang bersembunyi di balik bendera pers.

Di sisi lain, muncul pula manuver politik PWI yang memperkuat keraguan terhadap netralitasnya. Beberapa contoh yang menonjol antara lain:

Dialog eksklusif dengan Anies Baswedan yang digelar PWI Pusat, di mana Anies diberi ruang luas untuk menyampaikan visi politiknya. Publik menilai forum itu tidak sekadar diskusi jurnalistik, tetapi lebih menyerupai panggung politik terselubung.

Pemberian “PWI Jaya Award” kepada Anies Baswedan ketika menjabat Gubernur DKI, yang ditafsirkan sebagian kalangan sebagai bentuk endorsement politik halus.

Keterlibatan dalam usulan Hari Pers Nasional (HPN) di Jakarta yang diterima Anies, memunculkan kesan bahwa PWI memainkan kedekatan dengan pejabat tertentu demi legitimasi politik.

BACA JUGA :  Dinas PUPR Dogiyai Bangun Bronjong di Kali Wani

Pernyataan pengurus daerah yang keras menyerang kepala daerah atau pejabat yang tidak sejalan, sementara melunak pada pihak yang dianggap dekat dengan kepengurusan.

Kontradiksi antara kritik keras terhadap pemerintah di satu sisi, dan manuver politik yang menguntungkan tokoh tertentu di sisi lain, menimbulkan pertanyaan serius: apakah PWI benar-benar netral, atau hanya memainkan sikap ganda sesuai momentum dan kepentingan?

Kami menegaskan empat langkah mendesak agar PWI kembali ke jalur profesional:

1. Kritik harus berbasis data dan solusi. Jangan berhenti pada kecaman, tapi sertai dengan rekomendasi kebijakan yang membangun.

BACA JUGA :  Cendekia Academy Cetak Generasi Pemimpin Berwawasan Maritim di Atas Geladak KRI Dewaruci

2. Konsistensi sikap. Jika mengaku netral, PWI harus menjauhkan diri dari panggung politik praktis.

3. Bersihkan manuver politik internal. Organisasi profesi tidak boleh menjadi arena perebutan pengaruh politik atau alat pencitraan kandidat.

4. Fokus pada peningkatan profesionalisme wartawan. Agenda utama organisasi mestinya membekali anggota dengan etika dan keterampilan jurnalistik, bukan sekadar menjadi corong kritik atau alat legitimasi politik.

PWI masih memiliki posisi strategis di dunia pers Indonesia. Namun, agar dipercaya publik, PWI harus mampu menampilkan wajah organisasi yang independen, netral, kritis sekaligus solutif, bukan sekadar dikenal karena manuver politik dan kebiasaannya menjelekkan hasil kerja pemerintah.

Penulis : Tim wartawan

Editor : Tim wartawan

Sumber Berita: DPP Aliansi Cyber Pers Indonesia

Berita Terkait

Dorong Ekraf dan UMKM, Pemkot Pangkalpinang Gelar Festival Gema Ekraf II 2026
Hampir Rp6 Miliar Digelontorkan, Depo Arsip Berau Masih Jadi Struktur Beton: PUPR dan Kontraktor Wajib Buka-bukaan‎
Kalapas Bangko Ajak WBP Jaga Kamtib dan Manfaatkan Masa Pembinaan
Guyup Rukun, Warga Tempel Sukoharjo Sukses Gelar Rangkaian HUT RI ke-81
Tekankan Pentingnya Stabilitas, Tokoh Adat Wondama Dorong Kewaspadaan Kolektif
Ruri Jumar Saef Ketua Team Nawacita -Astacita Presiden RI, Segera Tindak Tegas Pelaku Penganiayaan Suarni Tengger Probolinggo   
Kasus Dugaan Penganiayaan Suarni Mendapat Perhatian Ketua Team Astacita -Astacita Presiden Republik Indonesia 
Dugaan Pelanggaran Hukum Proyek Jalan Rp25,2 Miliar di Berau, Tembus Kawasan Hutan Tanpa Izin hingga Ancaman Laporan ke Kejagung
Berita ini 100 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:02 WIB

Dorong Ekraf dan UMKM, Pemkot Pangkalpinang Gelar Festival Gema Ekraf II 2026

Senin, 24 Agustus 2026 - 20:02 WIB

Hampir Rp6 Miliar Digelontorkan, Depo Arsip Berau Masih Jadi Struktur Beton: PUPR dan Kontraktor Wajib Buka-bukaan‎

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:39 WIB

Kalapas Bangko Ajak WBP Jaga Kamtib dan Manfaatkan Masa Pembinaan

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Guyup Rukun, Warga Tempel Sukoharjo Sukses Gelar Rangkaian HUT RI ke-81

Senin, 24 Agustus 2026 - 07:50 WIB

Tekankan Pentingnya Stabilitas, Tokoh Adat Wondama Dorong Kewaspadaan Kolektif

Berita Terbaru

Oplus_131072

Berita Utama

Kalapas Bangko Ajak WBP Jaga Kamtib dan Manfaatkan Masa Pembinaan

Senin, 24 Agu 2026 - 15:39 WIB

mancingjitu slot thailand slot thailand https://www.marcopolodijon.com/