Mengungkap Makna filosofis “Cahaya di Atas Cahaya”

Jumat, 11 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suara Utama.- Judul “Cahaya di Atas Cahaya” bukan sekadar rangkaian kata puitis, melainkan mengandung makna filosofis yang dalam, terutama dalam konteks spiritualitas dan pencarian makna hidup. ini berakar dari ayat suci Al-Qur’an, yakni Surat An-Nur ayat 35:

“Allah adalah cahaya langit dan bumi….. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki……”

yang menggambarkan Allah sebagai pemberi cahaya bagi langit dan bumi. Ayat ini sering ditafsirkan sebagai perumpamaan tentang petunjuk dan ilmu yang diberikan Allah kepada hamba-Nya, di mana cahaya iman dan ilmu saling melengkapi, menghasilkan pencerahan spiritual yang mendalam.

Dalam ayat tersebut, “cahaya” melambangkan petunjuk, ilmu, dan iman. Maka, “cahaya di atas cahaya” adalah simbol dari lapisan-lapisan pencerahan—sebuah kondisi ketika kebenaran datang bukan hanya satu kali, tetapi terus-menerus memperkuat dan menyempurnakan pemahaman seseorang terhadap kehidupan dan keberadaan.

Dalam konteks lain, ini juga digunakan untuk menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai “cahaya di atas cahaya,” menekankan perannya sebagai pembawa cahaya petunjuk bagi umat manusia.

Secara filosofis mencerminkan:

  1. Pencerahan Bertingkat

Seperti cahaya yang menerangi kegelapan, kebenaran dan hikmah yang datang silih berganti membentuk pemahaman yang lebih utuh. Ketika seseorang memperoleh ilmu, lalu mengiringinya dengan keimanan, itulah cahaya yang ditumpuk di atas cahaya.

“Cahaya di Atas Cahaya” mengandung makna mendalam tentang proses pencerahan yang tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan-tahapan bertingkat. Dalam filsafat dan spiritualitas, pencapaian pemahaman yang utuh tidak hadir sekaligus, tetapi dibangun dari satu lapis kesadaran ke lapis berikutnya.

“Cahaya pertama” bisa dipahami sebagai kilasan pertama dari kesadaran—mungkin berupa pengalaman batin, kejadian yang menyentuh hati, atau pemahaman awal tentang makna hidup. Namun pencerahan sejati tidak berhenti di sana. Ia terus tumbuh melalui refleksi, pembelajaran, dan pengalaman hidup yang mendalam. Inilah “cahaya kedua”, ketiga, dan seterusnya—sebuah proses berkelanjutan dalam menemukan kebenaran, memperdalam iman, dan memperluas wawasan jiwa.

Makna ini juga selaras dengan perkembangan spiritual seseorang. Di awal, cahaya iman hadir sebagai keyakinan dasar. Seiring waktu, jika ditopang oleh ilmu, keikhlasan, dan pengalaman rohani, cahaya itu akan bertambah terang, menuntun pada kebijaksanaan yang lebih dalam. Dalam Islam, ini disebut nurul yaqin—keyakinan yang disinari oleh pemahaman dan kedekatan dengan Tuhan.

Dengan kata lain, pencerahan bukan satu titik, melainkan perjalanan bertahap menuju kedalaman makna. Dan setiap lapis cahaya memperkuat lapis sebelumnya, menjadikan hati lebih kuat, lebih terang, dan lebih jernih dalam melihat hakikat hidup.

  1. Kedalaman Spiritual

Dalam sufisme dan filsafat Islam, “cahaya” sering dimaknai sebagai eksistensi atau manifestasi dari Tuhan. Maka “cahaya di atas cahaya” mengisyaratkan tingkatan spiritual tertinggi, di mana hati manusia bersinar karena kedekatannya dengan Tuhan.

BACA JUGA :  Debat Publik Calon Bupati Mesuji: Ajang Adu Visi dan Gagasan

Makna “Cahaya di Atas Cahaya” juga merujuk pada kedalaman spiritual, di mana seseorang tidak hanya hidup dalam keimanan yang bersifat formal, tetapi mengalami kehadiran ilahi secara personal dan nyata dalam hidupnya. Ini bukan sekadar mengetahui, tetapi mengalami—sebuah keadaan di mana hati benar-benar dipenuhi oleh kesadaran akan Tuhan.

Dalam konteks ini, “cahaya” bukan hanya simbol pencerahan intelektual, tetapi juga simbol iluminasi batin—kesadaran ruhani yang lahir dari keikhlasan, ketundukan, dan kecintaan yang mendalam kepada Sang Pencipta. Ketika seseorang telah melewati banyak tahapan dalam pencarian makna hidup, dan ia menemukan Tuhan dalam setiap denyut kehidupan, di situlah cahaya spiritual benar-benar bersinar.

Frasa ini juga sering digunakan dalam tradisi tasawuf untuk menggambarkan kondisi para wali dan orang-orang yang dekat dengan Allah—mereka yang hatinya tidak hanya terang, tetapi menjadi sumber cahaya bagi orang lain. Cahaya pertama adalah petunjuk, cahaya kedua adalah cinta, dan lapis-lapis selanjutnya adalah kebijaksanaan, kesabaran, dan kebeningan jiwa.

Lebih dari sekadar simbol keimanan, “cahaya di atas cahaya” adalah manifestasi dari Tuhan yang terus menerangi hati manusia, selama manusia itu terus berserah, belajar, dan mendekat. Dalam kondisi ini, spiritualitas tidak lagi menjadi bagian dari hidup—ia menjadi inti dari hidup itu sendiri.

  1. Optimisme dan Harapan

Di tengah dunia yang kerap gelap oleh kebencian, kebodohan, dan ketidakadilan, judul ini menyiratkan bahwa selalu ada terang yang menyusul terang, harapan yang menyusul harapan. Ini mengajarkan bahwa tidak ada kegelapan yang abadi.

Di tengah realitas hidup yang penuh tantangan, konflik, dan ketidakpastian, “Cahaya di Atas Cahaya” menjadi gambaran bahwa harapan tidak pernah padam, bahkan ketika segala sesuatu tampak gelap. Filosofi ini mengajarkan bahwa setiap kegelapan pasti menyimpan potensi cahaya, dan setiap ujian menyimpan peluang untuk tumbuh dan bangkit.

“Cahaya pertama” bisa dimaknai sebagai bentuk harapan awal—doa, niat baik, atau langkah kecil menuju perubahan. Sementara “cahaya kedua” dan seterusnya adalah dorongan tambahan: keteguhan hati, keikhlasan, atau pertolongan tak terduga yang memperkuat langkah tersebut. Maka, cahaya tidak hadir sendirian. Ia bertumpuk, bertumbuh, dan terus menyinari, selama seseorang tidak menyerah pada kegelapan.

Dalam makna yang lebih luas,  ini juga mencerminkan optimisme kolektif: bahwa ketika satu hati bersinar, ia bisa menyalakan hati yang lain. Dalam masyarakat, ini menjadi simbol solidaritas, saling menguatkan, dan keberanian untuk memperjuangkan kebaikan bersama.

Dengan demikian, “Cahaya di Atas Cahaya” bukan hanya tentang pencerahan pribadi, melainkan juga tentang warisan harapan yang bisa menyinari banyak jiwa—bahwa dari satu lentera kecil, bisa lahir cahaya yang tak terpadamkan.

Penulis : Tonny Rivani

Berita Terkait

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka
AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026
Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:04

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:15

AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:13

Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:41

P3N Desa Lubuk Birah M. Aidil Fitra Diduga Gelapkan Uang Adminitrasi Nikah  

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Berita Terbaru