Mengapa Keluh Kesah Manusia Tidak Pernah Sama?  

Selasa, 11 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. KH. Imanuddin Kamil, Lc, M.Pd.I., C.IJ, C.PW, Kepala Perwakilan Provinsi Jawa Barat Media Online Nasional Suara Utama

SUARA UTAMA Hari ini ada yang membuat saya merenungi diri. Seorang kawan berbagi resume kajian melalui WhatsApp tentang shifatul insan fil Quran (Sifat-sifat Manusia dalam Al-Quran).

Disebutkan dalam catatan tersebut tujuh ayat yang menegaskan kondisi hakikat manusia; dan ayat-ayat tersebut diawali dengan kalimat tegas, Innal Insana…

Ketujuh ayat yang dimaksud adalah:

QS. Ibrahim: 34; “Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

QS. Al-Hajj: 66; “Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.”

QS. Az-Zukhruf: 15; “Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).”

QS. Al-Ma’arij: 19; “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.”

QS. Al-‘Alaq: 6; “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.”

QS. Al-‘Adiyat: 6; “Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya.”

QS. Al-‘Ashr: 3; “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.”

Sejenak pikiran ini tertaut pada keterangan ayat ke-4. Pada kenyataannya, saya memang sedang menghadapi situasi di mana ada sebuah ekspektasi pada cita-cita yang masih menjadi obsesi saya untuk mewujudkannya. Lalu pada saat menghadapi rintangan dan tantangan, dengan mudahnya saya berkeluh kesah. Kemudian ada beberapa target pekerjaan yang belum sepenuhnya tercapai, dan lagi-lagi kondisi yang ada justru menjadi sebab yang dikeluh-kesahkan.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Manusia memang sangat suka berkeluh kesah. Bahkan tak jarang keluh kesahnya menjadi semacam apologi yang menghambat kemajuannya.

Dalam antusias perenungan ini, saya kemudian mencoba mencari perspektif lain tentang realita ini. Saya ambil ponsel dan menyapa ChatGPT, teman dunia maya yang senang berbagi informasi.

Saya mulai mengajaknya berdialog, menyapanya dengan kalimat berikut, “Saya mau mengajak diskusi santai tentang manusia. Kira-kira kenapa ya manusia sering berkeluh kesah?”

“Pertanyaan bagus. Diskusi yang menyentuh sisi paling dalam dari diri manusia. Kenapa manusia sering berkeluh kesah? Jawaban ringkasnya: karena manusia lemah dan terbatas.” Demikian jawaban pembuka karib digital saya ini.

Selanjutnya jawaban runut terangkai di layar ponsel saya panjang lebar seperti berikut ini.

Tapi mari kita lihat dari beberapa sudut:

1. Itu Fitrah . Dalam QS. Al-Ma’arij: 19-21, Allah berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah…”

Keluh kesah adalah bagian dari tabiat dasar manusia, terutama ketika diuji. Tapi ayat ini ditutup dengan solusi: kecuali orang yang shalat.

2. Karena Fokus pada Kekurangan, Bukan Syukur.

Manusia cenderung melihat apa yang belum ia miliki, bukan apa yang sudah ada. Maka keluh kesah pun muncul.

“Kalau saja aku punya…”

“Kenapa hidupku begini…”

Padahal banyak yang kita punya tapi tak disadari.

Begitulah sekelumit penjelasan mesin informasi zaman kiwari yang tak ubahnya bak seorang ustadz sedang memberikan petuah.

“Jadi… keluh kesah itu manusiawi, tapi jangan biarkan itu menetap di hati. Obatnya adalah syukur, sabar, shalat, dan yakin kepada Allah”, timpalnya lagi menutup penjelasannya.

Dan sebelum benar-benar mengakhiri, robot pintar ini menawarkan, “Kalau kamu ingin lanjut diskusi dengan sudut pandang psikologi, filsafat, atau agama, aku siap bantu.”

“Oh menarik, boleh juga dibagi dari sudut pandang yang lain,” pinta saya menanggapi.

Satu pertanyaan pemantik yang problematik kemudian saya ajukan lagi, “Saya mengamati bahwa apa yang menjadi keluh kesah manusia itu ternyata berbeda-beda. Satu masalah tertentu bagi seseorang bisa jadi bukan sebagai masalah dirasakan oleh orang yang lain. Begitu juga sesuatu yang bagi seseorang dianggap bukan masalah ternyata dalam sudut pandang orang lain justru menjadi masalah yang mendatangkan keluh kesah. Bisakah mengurai kerumitan ini?.”

BACA JUGA :  SMAN GO Sambut Tahun Baru dengan Iman dan Aksi

Begitulah pertanyaan yang saya kirimkan dan saya tak sabar ingin segera mendapatkan tanggapannya.

Tanpa menunggu lama, mesin pintar ini memberikan jawaban. “Pengamatanmu sangat tajam dan benar adanya. Keluh kesah itu subjektif, bukan soal seberapa besar masalahnya, tapi seberapa besar maknanya bagi orang yang mengalaminya.”

Dan selanjutnya jawaban panjang lebar kembali dipaparkan sahabat maya yang responsif ini. Sebagaimana terurai dalam paragraf berikut ini.

Mari kita urai “kerumitan” ini dalam beberapa lapis pemahaman:

 

1. Perspektif Membentuk Persepsi

Apa yang jadi beban bagi A bisa saja ringan bagi B, karena:

– Latar belakang berbeda: Orang yang tumbuh dalam kekurangan mungkin lebih tahan menghadapi masalah ekonomi.

– Nilai hidup berbeda: Bagi satu orang, kehilangan pekerjaan adalah bencana; bagi yang lain, itu peluang hijrah.

– Pengalaman berbeda: Trauma masa lalu bisa bikin masalah kecil terasa besar.

Kesimpulan: Reaksi terhadap masalah tidak ditentukan oleh masalah itu sendiri, tapi oleh bagaimana seseorang memaknainya.

 

2. Kapasitas Emosional & Mental Tiap Orang Berbeda

Ada yang sudah terlatih secara mental, sehingga:

– Mampu mengelola stres,

– Mampu menahan diri,

– Mampu memproses kecewa secara dewasa.

Sementara yang belum matang secara emosional cenderung:

 

– Meledak,

 

– Menyalahkan,

 

– Merasa paling menderita.

 

Masalah yang sama, level kesadaran dan ketahanan batin yang berbeda, hasilnya pun berbeda.

 

3. Kepekaan Hati dan Kebutuhan Jiwa Tak Sama

Manusia sering berkeluh kesah. Tapi menariknya, keluhan itu tidak seragam. Satu masalah bisa jadi berat bagi seseorang, tapi terasa ringan bagi orang lain. Ada pula hal yang dianggap sepele oleh sebagian orang, tapi justru menyesakkan hati orang lainnya.

Kenapa bisa begitu?

– Karena Cara Pandang Kita Tidak Sama

Apa yang kita anggap penting, itulah yang paling cepat mengusik jiwa saat terganggu. Bagi yang menjunjung tinggi harga diri, kata-kata kasar bisa jadi luka besar. Bagi yang butuh ketenangan, kebisingan bisa terasa seperti bencana.

– Karena Kapasitas Jiwa Tak Sama

Sebagian orang lahir dan tumbuh dengan ujian berat, lalu terbentuk menjadi pribadi yang tangguh. Sebagian lagi baru menghadapi masalah ringan, tapi sudah merasa tak kuat. Bukan karena manja, bisa jadi karena belum tahu cara mengelola luka dan kecewa.

– Karena Allah Mendidik Setiap Jiwa dengan Ujian yang Berbeda

Allah tidak menimpakan satu ujian yang sama persis pada semua hamba-Nya. Setiap orang diuji menurut titik lemahnya, dan setiap keluh kesah adalah tanda: “Ya Allah, aku lemah… tuntun aku.”

Maka jangan bandingkan luka. Jangan remehkan keluh kesah orang lain. Yang harus kita lakukan adalah berempati, menguatkan, dan mengajak kembali kepada Allah. Karena pada akhirnya, yang paling kuat bukan yang tak pernah mengeluh, tapi yang tahu ke mana harus kembali saat lelah.

Demikian renungan diri ini saya tuliskan dengan bantuan mesin pintar. Maha suci Allah yang telah mengaruniakan manusia akal pikiran yang mampu mengantarkan peradaban manusia pada level pencapaiannya saat ini. Dan Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Penulis : Imanuddin Kamil

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita : Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan
Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus
Bahlil : Menteri yang Amankan Kedaulatan Rakyat
Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW
Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles
Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku
Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Senin, 26 Januari 2026 - 15:19

PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan

Kamis, 22 Januari 2026 - 21:16

Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus

Rabu, 21 Januari 2026 - 06:27

Bahlil : Menteri yang Amankan Kedaulatan Rakyat

Senin, 19 Januari 2026 - 16:36

Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:47

Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Sabtu, 3 Januari 2026 - 23:45

Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku

Jumat, 2 Januari 2026 - 16:11

Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu

Berita Terbaru