SUARAUTAMA,Nabire- kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire menggelar forum belajar dan refleksi publik di Asrama Deiyai, Kalibobo, rabu (25/2) pukul 17.30 WIT.
Diskusi bertajuk “Pembacaan Situasi Konflik Horizontal di Kapiraya” ini menyoroti konflik sosial antara Suku Mee dan Kamoro serta membahas dugaan keterkaitannya dengan aktivitas investasi dan pengelolaan sumber daya alam di wilayah tersebut.
Pemantik diskusi, Kali Kabur, menyampaikan bahwa masuknya investasi dan alat berat di wilayah Gunung Yoga, Kapiraya, memicu keresahan warga. Aktivitas pembekuan tanah dan penggalian di area yang diyakini memiliki kandungan sumber daya alam bernilai tinggi disebut berlangsung tanpa penjelasan terbuka kepada masyarakat adat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, situasi tersebut memunculkan kecurigaan yang kemudian berkembang menjadi bentrokan di lapangan. Ia berpendapat konflik horizontal bukan berakar dari budaya masyarakat Papua, melainkan dipicu oleh sistem ekonomi dan kepentingan investasi yang dinilai memecah belah rakyat Papua.
Eka, salah satu peserta diskusi, menilai konflik tersebut sebagai bentuk adu domba antara kelompok masyarakat yang sebelumnya hidup berdampingan. Ia juga menyoroti pentingnya langkah pencegahan agar konflik serupa tidak terulang.
Otopianus Y menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara alam, nilai spiritual, dan adat dalam kehidupan masyarakat adat Papua.
Ia mengingatkan potensi dampak jangka panjang eksploitasi tambang seperti nikel dan emas terhadap generasi mendatang.
Amo Dougai mempertanyakan distribusi hasil kekayaan alam Papua dan perang pemimpin daerah dalam merespons persoalan sosial yang muncul. Sementara itu, Carles mengaitkan dinamika konflik dengan sejarah panjang penguasaan sumber daya alam Papua dalam konteks ekonomi global.
Ledekin dalam sesi penutup refleksi mengajak masyarakat menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh keadaan.
Forum diskusi menyimpulkan perlunya penyelidikan independen atas konflik di Kapiraya serta mendorong dialog damai yang melibatkan masyarakat adat, tokoh agama, dan lembaga representatif.
Moderator Amina T menutup kegiatan dengan ajakan memperkuat solidaritas dan memperluas ruang-ruang belajar rakyat sebagai sarana membangun kesadaran kritis dan persatuan.
Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota Nabire menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan forum diskusi publik sebagai bagian dari upaya mendorong dialog dan refleksi bersama di Papua.











