lk21slot777slot777slottoto 4dslot thailandslotslot gacor hari inislot gacorslot gacorslot thailandzonawin777zonawin777zonawin777slot777link slot gacor hari inizonawin777slot777slot gacorslot gacorslotzonawin777slot thailandslot gacorslot thailandslot thailandslot thailandsitus totositus totozonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777Zonawin777tempur777slot gacorslot gacorslot gacorslot gacorslot gacoratatotoatatotototo 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtoto 4dtogel 4dtogel 4datatotototo 4dtoto 4dtoto 4datatotototo 4dtoto 4d

Koperasi Desa sebagai Pilar Ekonomi: Harapan Mendes Yandri Susanto kepada Apdesi Merah Putih

- Publisher

Senin, 25 Agustus 2025 - 15:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA – Pemerintah Desa (Pemdes) sering disebut sebagai garda terdepan pembangunan nasional. Dalam konteks ekonomi kerakyatan, koperasi desa hadir bukan sekadar sebagai wadah simpan-pinjam, melainkan sebagai instrumen strategis untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto menegaskan kembali pentingnya gerakan koperasi desa dengan mengajak Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Merah Putih agar berperan aktif dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Koperasi Desa dan Akar Ekonomi Rakyat

Sejak masa Orde Lama hingga kini, koperasi selalu ditempatkan sebagai soko guru perekonomian nasional. Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, menegaskan bahwa “koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong.”

Dalam praktiknya, koperasi sering dipandang sebelah mata dan tidak berkembang optimal. Padahal, koperasi desa bisa menjadi instrumen penggerak ekonomi berbasis komunitas, menjaga keseimbangan antara kepentingan pasar dengan kebutuhan masyarakat kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Prof. Sri-Edi Swasono (ekonom Universitas Indonesia), “koperasi bukan sekadar badan usaha, tetapi jalan mewujudkan demokrasi ekonomi yang menolak monopoli.” Dengan demikian, koperasi desa dapat menjadi penopang distribusi yang adil, meningkatkan daya tawar petani, nelayan, serta pelaku UMKM desa.

BACA JUGA :  Kebakaran Lahan di Desa Pamangka Dipadamkan

Apdesi Merah Putih Sebagai Motor Penggerak

Harapan Mendes Yandri Susanto terhadap Apdesi Merah Putih bukan tanpa alasan. Organisasi ini memiliki basis kuat di desa-desa, menyatukan kepala desa dan perangkat desa yang bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat. Jika Apdesi Merah Putih mampu menjadi lokomotif, maka koperasi desa tidak sekadar jargon, melainkan bisa terwujud nyata.

Kepala desa memiliki posisi strategis: mereka berwenang mengelola dana desa, menginisiasi unit usaha, dan mendorong partisipasi warga. Jika setiap desa berhasil membangun koperasi yang sehat dan berdaya saing, maka terbentuklah ekosistem ekonomi yang tidak lagi tergantung penuh pada bantuan pusat.

Tantangan Nyata

Meski potensial, koperasi desa menghadapi beberapa hambatan. Pertama, masih ada stigma bahwa koperasi hanyalah wadah formalitas untuk mengakses bantuan pemerintah. Kedua, kapasitas manajerial pengelola koperasi di desa masih terbatas. Ketiga, praktik politik desa seringkali memengaruhi keberlanjutan program ekonomi.

BACA JUGA :  UPT Puskesmas Klenang Kidul Pastikan  Bayi Kembar 3 Desa Gading Kulon Kondisi Bagus, BB Sesuai Umur 

Dr. Sutoro Eko (pakar kebijakan desa, UGM) menilai bahwa “desa sering kali menjadi arena tarik-menarik kepentingan politik, sehingga program ekonomi seperti koperasi tidak berjalan konsisten.” Hal ini menegaskan pentingnya tata kelola yang akuntabel.

Selain itu, literasi keuangan masyarakat desa perlu diperkuat. Tanpa edukasi dan transparansi, koperasi desa rentan disalahgunakan sebagai alat kepentingan kelompok tertentu.

Strategi Kebangkitan

Untuk menjawab tantangan itu, diperlukan strategi kebijakan yang terukur:

  1. Pendidikan dan pendampingan manajerial koperasi desa agar dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.
  2. Integrasi program koperasi dengan dana desa sehingga keberlanjutan usaha dapat didukung oleh regulasi dan sumber daya yang jelas.
  3. Digitalisasi koperasi desa, misalnya melalui aplikasi keuangan berbasis teknologi, untuk memperkuat transparansi sekaligus memperluas pasar produk lokal desa.
  4. Kemitraan koperasi desa dengan BUMDes agar tercipta sinergi, bukan tumpang tindih kelembagaan.
  5. Penguatan regulasi dan perlindungan hukum agar koperasi desa tidak rentan dibubarkan atau dipolitisasi.

Sejalan dengan itu, International Labour Organization (ILO, 2019) menekankan bahwa digitalisasi koperasi merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan daya saing koperasi di era global.

BACA JUGA :  Pemimpin Redaksi Suara Utama Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam UKW bersama KG Media

Harapan Baru dari Desa

Dalam konteks inilah pernyataan Mendes Yandri Susanto perlu dimaknai lebih dalam. Ajakan beliau kepada Apdesi Merah Putih bukan sekadar seruan seremonial, tetapi langkah strategis untuk menghidupkan kembali roh koperasi desa sebagai pilar ekonomi nasional.

Apdesi Merah Putih memiliki kesempatan besar untuk menorehkan sejarah: menjadikan desa bukan hanya sebagai objek pembangunan, melainkan subjek yang berdaya dan mandiri. Jika koperasi desa berhasil berkembang di seluruh pelosok, maka ketimpangan kota-desa dapat dikurangi, dan cita-cita kemandirian ekonomi bangsa akan lebih dekat terwujud.

Penutup: Kebangkitan koperasi desa adalah cermin dari kebangkitan ekonomi rakyat. Mendes Yandri Susanto telah meletakkan harapan besar pada Apdesi Merah Putih. Tinggal bagaimana organisasi ini menjawab tantangan tersebut dengan langkah nyata di lapangan.

Koperasi desa bukan sekadar warisan gagasan ekonomi Bung Hatta, melainkan kebutuhan riil untuk membangun fondasi ekonomi bangsa dari akar rumput. Jika desa kuat, Indonesia akan jauh lebih kokoh menghadapi persaingan global.

Berita Terkait

Antrean BBM Mengular di Denpasar dan Badung, Pengelola SPBU Ungkap Kendala Pasokan
Aktivis Siapkan Pengaduan Dugaan Pembiaran dan Kelalaian Oknum Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Probolinggo
SMPN 14 Denpasar bersama Unud Kembangkan Kantin Hijau untuk Tekan Sampah Makanan dan Risiko Obesitas
Patut Diapresiasi, PARAKSA Selain Berdampak Positif Bagi UMKM dan PKL, Juga Berkontribusi ke PAD Kabupaten Probolinggo 
Camat Tiris Panggil Oknum Bendahara Desa Racek, Warga Buka Suara Awal Terbongkar Nya Dugaan Poligami Ilegal 
Satpolairud Polres Lamongan Bantu Evakuasi Jenazah ABK KM Mayangsari II yang Meninggal Dunia di Perairan Masalembo
Ketua SRP Dogiyai Tegaskan Swiping Harus Sesuai SOP dan Terpusat di Moanemani
Solidaritas Rakyat Papua: Selamatkan Hutan dan Rawa Dogiyai, Hentikan Kebakaran!
Berita ini 54 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Antrean BBM Mengular di Denpasar dan Badung, Pengelola SPBU Ungkap Kendala Pasokan

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:58 WIB

Aktivis Siapkan Pengaduan Dugaan Pembiaran dan Kelalaian Oknum Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Probolinggo

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:27 WIB

SMPN 14 Denpasar bersama Unud Kembangkan Kantin Hijau untuk Tekan Sampah Makanan dan Risiko Obesitas

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:49 WIB

Patut Diapresiasi, PARAKSA Selain Berdampak Positif Bagi UMKM dan PKL, Juga Berkontribusi ke PAD Kabupaten Probolinggo 

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:42 WIB

Camat Tiris Panggil Oknum Bendahara Desa Racek, Warga Buka Suara Awal Terbongkar Nya Dugaan Poligami Ilegal 

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/