Koperasi Desa sebagai Pilar Ekonomi: Harapan Mendes Yandri Susanto kepada Apdesi Merah Putih

- Publisher

Senin, 25 Agustus 2025 - 15:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA – Pemerintah Desa (Pemdes) sering disebut sebagai garda terdepan pembangunan nasional. Dalam konteks ekonomi kerakyatan, koperasi desa hadir bukan sekadar sebagai wadah simpan-pinjam, melainkan sebagai instrumen strategis untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto menegaskan kembali pentingnya gerakan koperasi desa dengan mengajak Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Merah Putih agar berperan aktif dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Koperasi Desa dan Akar Ekonomi Rakyat

Sejak masa Orde Lama hingga kini, koperasi selalu ditempatkan sebagai soko guru perekonomian nasional. Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, menegaskan bahwa “koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan tolong-menolong.”

Dalam praktiknya, koperasi sering dipandang sebelah mata dan tidak berkembang optimal. Padahal, koperasi desa bisa menjadi instrumen penggerak ekonomi berbasis komunitas, menjaga keseimbangan antara kepentingan pasar dengan kebutuhan masyarakat kecil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Prof. Sri-Edi Swasono (ekonom Universitas Indonesia), “koperasi bukan sekadar badan usaha, tetapi jalan mewujudkan demokrasi ekonomi yang menolak monopoli.” Dengan demikian, koperasi desa dapat menjadi penopang distribusi yang adil, meningkatkan daya tawar petani, nelayan, serta pelaku UMKM desa.

BACA JUGA :  Koperasi Desa: Kesejahteraan atau Kontrol Negara?

Apdesi Merah Putih Sebagai Motor Penggerak

Harapan Mendes Yandri Susanto terhadap Apdesi Merah Putih bukan tanpa alasan. Organisasi ini memiliki basis kuat di desa-desa, menyatukan kepala desa dan perangkat desa yang bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat. Jika Apdesi Merah Putih mampu menjadi lokomotif, maka koperasi desa tidak sekadar jargon, melainkan bisa terwujud nyata.

Kepala desa memiliki posisi strategis: mereka berwenang mengelola dana desa, menginisiasi unit usaha, dan mendorong partisipasi warga. Jika setiap desa berhasil membangun koperasi yang sehat dan berdaya saing, maka terbentuklah ekosistem ekonomi yang tidak lagi tergantung penuh pada bantuan pusat.

Tantangan Nyata

Meski potensial, koperasi desa menghadapi beberapa hambatan. Pertama, masih ada stigma bahwa koperasi hanyalah wadah formalitas untuk mengakses bantuan pemerintah. Kedua, kapasitas manajerial pengelola koperasi di desa masih terbatas. Ketiga, praktik politik desa seringkali memengaruhi keberlanjutan program ekonomi.

BACA JUGA :  PERNYATAAN SIKAP TERBUKA: LSM BAKIN JAMBI AKAN SEGERA SERAHKAN LAPORAN RESMI DARURAT SABU SUNGAI BAUNG KE MAPOLRES BATANGHARI

Dr. Sutoro Eko (pakar kebijakan desa, UGM) menilai bahwa “desa sering kali menjadi arena tarik-menarik kepentingan politik, sehingga program ekonomi seperti koperasi tidak berjalan konsisten.” Hal ini menegaskan pentingnya tata kelola yang akuntabel.

Selain itu, literasi keuangan masyarakat desa perlu diperkuat. Tanpa edukasi dan transparansi, koperasi desa rentan disalahgunakan sebagai alat kepentingan kelompok tertentu.

Strategi Kebangkitan

Untuk menjawab tantangan itu, diperlukan strategi kebijakan yang terukur:

  1. Pendidikan dan pendampingan manajerial koperasi desa agar dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel.
  2. Integrasi program koperasi dengan dana desa sehingga keberlanjutan usaha dapat didukung oleh regulasi dan sumber daya yang jelas.
  3. Digitalisasi koperasi desa, misalnya melalui aplikasi keuangan berbasis teknologi, untuk memperkuat transparansi sekaligus memperluas pasar produk lokal desa.
  4. Kemitraan koperasi desa dengan BUMDes agar tercipta sinergi, bukan tumpang tindih kelembagaan.
  5. Penguatan regulasi dan perlindungan hukum agar koperasi desa tidak rentan dibubarkan atau dipolitisasi.

Sejalan dengan itu, International Labour Organization (ILO, 2019) menekankan bahwa digitalisasi koperasi merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan daya saing koperasi di era global.

BACA JUGA :  Sertijab Camat Gunung Bintang Awai: Apresiasi ASN untuk Armadi, Sambut Indra Yudi

Harapan Baru dari Desa

Dalam konteks inilah pernyataan Mendes Yandri Susanto perlu dimaknai lebih dalam. Ajakan beliau kepada Apdesi Merah Putih bukan sekadar seruan seremonial, tetapi langkah strategis untuk menghidupkan kembali roh koperasi desa sebagai pilar ekonomi nasional.

Apdesi Merah Putih memiliki kesempatan besar untuk menorehkan sejarah: menjadikan desa bukan hanya sebagai objek pembangunan, melainkan subjek yang berdaya dan mandiri. Jika koperasi desa berhasil berkembang di seluruh pelosok, maka ketimpangan kota-desa dapat dikurangi, dan cita-cita kemandirian ekonomi bangsa akan lebih dekat terwujud.

Penutup: Kebangkitan koperasi desa adalah cermin dari kebangkitan ekonomi rakyat. Mendes Yandri Susanto telah meletakkan harapan besar pada Apdesi Merah Putih. Tinggal bagaimana organisasi ini menjawab tantangan tersebut dengan langkah nyata di lapangan.

Koperasi desa bukan sekadar warisan gagasan ekonomi Bung Hatta, melainkan kebutuhan riil untuk membangun fondasi ekonomi bangsa dari akar rumput. Jika desa kuat, Indonesia akan jauh lebih kokoh menghadapi persaingan global.

Berita Terkait

Ruri Jumar Saef Ketua Team Nawacita -Astacita Presiden RI, Segera Tindak Tegas Pelaku Penganiayaan Suarni Tengger Probolinggo   
Kasus Dugaan Penganiayaan Suarni Mendapat Perhatian Ketua Team Astacita -Astacita Presiden Republik Indonesia 
Dugaan Pelanggaran Hukum Proyek Jalan Rp25,2 Miliar di Berau, Tembus Kawasan Hutan Tanpa Izin hingga Ancaman Laporan ke Kejagung
Relokasi PKL Dengan Humanis, RSUD Waluyo Jati Kraksaan Menyajikan Sentra Kuliner WJ Sejahtera 
UPT Puskesmas Klenang Kidul Pastikan  Bayi Kembar 3 Desa Gading Kulon Kondisi Bagus, BB Sesuai Umur 
Kontainer Sampah Kondisi Memprihatinkan, Keluarga Pasien UPT Puskesmas Ranugedang Ungkap Potensi Lingkungan Tidak Sehat 
HGU Lonsum Berakhir, AMAN Sulsel Fasilitasi Terbentuknya Koalisi Rebut Ruang
Konsumen Sebut Oknum Kepala Unit Pedagangan Terindikasi Tidak Berintegritas, Air Sering Mati dan Tunggakan Perlu Dikaji Penyebab Nya
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:02 WIB

Ruri Jumar Saef Ketua Team Nawacita -Astacita Presiden RI, Segera Tindak Tegas Pelaku Penganiayaan Suarni Tengger Probolinggo   

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:51 WIB

Kasus Dugaan Penganiayaan Suarni Mendapat Perhatian Ketua Team Astacita -Astacita Presiden Republik Indonesia 

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:36 WIB

Dugaan Pelanggaran Hukum Proyek Jalan Rp25,2 Miliar di Berau, Tembus Kawasan Hutan Tanpa Izin hingga Ancaman Laporan ke Kejagung

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:07 WIB

UPT Puskesmas Klenang Kidul Pastikan  Bayi Kembar 3 Desa Gading Kulon Kondisi Bagus, BB Sesuai Umur 

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:06 WIB

Kontainer Sampah Kondisi Memprihatinkan, Keluarga Pasien UPT Puskesmas Ranugedang Ungkap Potensi Lingkungan Tidak Sehat 

Berita Terbaru

mancingjitu slot thailand slot thailand https://www.marcopolodijon.com/