KHGT: Mimpi Panjang Umat Islam Menuju Kesatuan Waktu Dimulai dari Muhammadiyah

- Publisher

Kamis, 26 Juni 2025 - 13:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

seorang Muslim berdoa pada malam 1 Muharam

seorang Muslim berdoa pada malam 1 Muharam

SUARA UTAMA – Latar Belakang: Mengapa Perlu KHGT?

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah inisiatif untuk menyatukan penanggalan Islam secara global: satu tanggal berlaku di seluruh dunia. Dengan sistem ini, saat satu wilayah memasuki, misalnya, 1 Syawal, seluruh dunia akan memasuki tanggal yang sama—tanpa penundaan geografis (suaramuhammadiyah.id).

Muhammadiyah secara resmi mengadopsi KHGT sejak Muktamar ke‑47 (2015 Makassar) dan mengukuhkan kembali di Muktamar ke‑48 (2022 Solo), menandakan bahwa kalender ini masuk dalam agenda Risalah  Islam Berkemajuan sebagai program prioritas (suaramuhammadiyah.id).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

*Pendapat Ahli dari Majelis Tarjih dan Tajdid

  1. Dr. Oman Fathurahman (MTT PP Muhammadiyah) KHGT memberikan kepastian yang tegas dan konsisten, mencerminkan prinsip addinul qayyim (agama yang lurus) — sehingga kalender ini bukan sekadar sisi teknis, melainkan bagian dari keutuhan agama (wartaptm.id).
  2. Dr. Maskufa MA (MTT PP Muhammadiyah)Menurutnya, KHGT adalah “lompatan ijtihad Muhammadiyah” untuk menanggapi kebutuhan ibadah global. Sebelum konferensi di Istanbul 2016, ide ini telah dimatangkan sejak Muktamar Makassar 2015, dan penerapannya mengedepankan ontologi, aksiologi, serta epistemologi bahwa kalender ini bisa diterima universal (wartaptm.id).
  3. Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar‑Butar MA (MTT PP Muhammadiyah)
    Ia menekankan bahwa setelah 14 abad umat Islam belum punya kalender unifikatif—ini adalah “hutang peradaban”. KHGT telah melalui proses panjang kajian ilmiah dan dukungan luas dari ulama serta astronom global (wartaptm.id).
  4. Susiknan Azhari MA (MTT PP Muhammadiyah)Konsep KHGT didukung oleh berbagai kitab fikih klasik, seperti karya Ibn Abidin dan Ibn Rusyd. Ia mengajak umat untuk membuka diri menuju persatuan dengan KHGT, karena sistem ini tak hanya akademis, melainkan solusi mendasar untuk menjaga toleransi dan koeksistensi intra‑Islam di era globalisasi (muhammadiyah.or.id).
  5. Prof. Dr. Syamsul Anwar (profesor astronomi/fikih) Dalam seminar nasional di Unismuh Makassar, ia menyatakan bahwa akomodasi KHGT adalah implementasi dari konsep ijtihad dan tajdid Muhammadiyah, membawa kalender lokal ke ranah universal dan ilmiah (tarjih.or.id).
BACA JUGA :  Pokir Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo Tembus sekira 7,4 Milyar lebih Tahun 2025, Publik Pertanyakan Transparansi Realisasi 

*Teknologi & Sains: Fondasi Ilmiah KHGT

BACA JUGA :  Belum Seumur Jagung, Oknum Kepala PDAM  Unit Pedagangan Terindikasi Dugaan Melakukan Praktek Pungli di Dusun Nangger 

KHGT memadukan metode hisab hakiki wujudul hilal—yang telah lama digunakan Muhammadiyah—dengan parameter internasional seperti ketinggian hilal ≥ 5° dan elongasi ≥ 8°, serta UTC sebagai patokan global (suaramuhammadiyah.id). Ini menjadikan penetapan awal bulan lebih ilmiah, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan di seluruh dunia.

 *Implikasi untuk Umat Islam Indonesia

    1. Keseragaman Ibadah Nasional & Global

KHGT memungkinkan umat Indonesia merayakan puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha bersamaan dengan umat global, menguatkan identitas kebersamaan dan persatuan sebagai ummatan wahidatan (muhammadiyah.or.id).

     2. Kepastian & Perencanaan

Dengan kalender yang terpadu, masyarakat, lembaga, dan pemerintah dapat merencanakan agenda sosial, pendidikan, dan ekonomi berkaitan dengan tanggal Hijriah tanpa kebingungan karena ketidaksesuaian tanggal.

      3. Posisi Global Muhammadiyah

BACA JUGA :  Akhirnya Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Buka Suara, Pakopak Ikut Angkat Bicara Terkait Tukin P3K Tahun 2025

Sebagai organisasi Islam terbesar kedua di dunia, adopsi KHGT menjadikan Indonesia sebagai pionir dalam menyuarakan agenda peradaban Islam, berdialog dengan ulama dan negara lain, serta menunjukkan kompatibilitas antara religi dan sains (suaramuhammadiyah.id).

 *Tantangan dan Respons

  • Resistensi Mazhab & Negara

Pendekatan KHGT menjadi tantangan kontekstual karena sebagian kelompok tetap mempertahankan rukyat lokal ala mazhab Syafi‘i atau kebijakan kedaulatan nasional (suaramuhammadiyah.id).

  • Dialog & Sosialisasi

Muhammadiyah aktif melakukan diskusi publik, seminar, hingga pelibatan PTM di berbagai kota—seperti di Unismuh Makassar—untuk mendiseminasikan KHGT dan membangun pemahaman bersama .

Kesimpulan : KHGT adalah wujud ijtihad progresif Muhammadiyah: menjembatani tradisi hisab lokal dengan metodologi astronomi global untuk menciptakan kalender universal—bukan hanya sebagai idealisme, tapi kebutuhan kemaslahatan umat. Dengan dukungan kajian akademis, legitimasi fikih, dan dukungan tokoh ahli, KHGT berpotensi menyatukan umat Indonesia dengan umat global—menjawab panggilan Al-Qur’an sebagai umat yang satu (ummatan wahidatan) (suaramuhammadiyah.id).

Sumber Berita: Wartawan SUARA UTAMA

Berita Terkait

Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 
HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh
Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Perselisihan di Warung Mentawak Berujung Pemukulan, YL Lapor ke Polres Merangin  
Silatnas dan Milad 2026 Perkuat Ukhuwah, Komitmen, dan Kompetensi Anggota AR Learning Center serta Suara Utama
Raker Ma’had Ar-Rohmah Bogor Perkuat Mutu Pendidikan dan Prestasi Santri
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:37 WIB

Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:17 WIB

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:45 WIB

Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:45 WIB

Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh

Selasa, 23 Juni 2026 - 16:11 WIB

Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Berita Terbaru