Dari Singa Kritikus Menjadi Kucing Jinak di Kursi Kekuasaan

- Publisher

Kamis, 9 Januari 2025 - 18:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Nafian Faiz . SUARA UTAMA.ID

Nafian Faiz . SUARA UTAMA.ID

SUARA UTAMA-
Tabeekpun!!!
Sering kita jumpai, seorang tokoh yang lantang mengkritik dan berapi-api dalam menyuarakan aspirasi tiba-tiba berubah biasa saja ketika menduduki jabatan. Dari pemimpin harapan yang dielu-elukan, ia mendadak menjadi sosok yang kehilangan taring. Atau sebaliknya, ada pula yang saat berkuasa justru tenggelam dalam kesunyian. Tak ada rekam jejak signifikan, tak ada suara lantang dalam menghadapi persoalan, seolah adem tanpa kepekaan sosial. Apa sebenarnya yang terjadi?

Dua Dunia yang Berbeda

Di luar kekuasaan, seseorang bebas berbicara. Ia bisa mengkritik tajam, menawarkan solusi ideal, bahkan menantang kebijakan tanpa perlu bertanggung jawab atas implementasinya. Namun, saat ia melangkah ke dalam kekuasaan, ia dihadapkan pada kenyataan yang jauh berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Birokrasi yang berbelit, anggaran yang terbatas, dan kepentingan yang saling tarik menarik menjadi “hutan belantara” yang sulit dijelajahi. Solusi sederhana yang dulu lantang disuarakan kini harus melewati proses panjang, sering kali berakhir dengan kompromi.

BACA JUGA :  Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab

Kompromi: Teman atau Lawan?

Seorang pemimpin kerap berhadapan dengan berbagai kepentingan. Ada partai politik, pendukung, hingga kelompok birokrasi lama yang sulit diajak berubah. Untuk menjaga stabilitas, kompromi menjadi sesuatu yang tak terelakkan.

Namun, di mata publik, kompromi ini sering dianggap sebagai tanda melemahnya keberanian atau lunturnya idealisme seorang pemimpin. Padahal, di balik setiap kompromi, ada pertimbangan kompleks yang sering kali sulit dipahami masyarakat luas.

Ekspektasi yang Melangit

Retorika sebelum menjabat sering kali menciptakan harapan besar. Tokoh yang berapi-api di panggung ibarat “pahlawan super” yang akan menyelesaikan semua masalah dengan cepat. Namun, kenyataan tidak sesederhana itu.

BACA JUGA :  Kolaborasi KKN UMAHA dan Posyandu Karang Tanjung, Perkuat Kepedulian terhadap Kesehatan Warga

Perubahan membutuhkan waktu, dan seorang pemimpin bukanlah penyihir yang bisa mengubah segalanya seketika. Ketika realitas tidak sesuai ekspektasi, kekecewaan muncul. Padahal, mungkin saja pemimpin tersebut tengah berusaha keras di balik layar untuk merealisasikan visi yang ia janjikan.

Mudah Mengkritik, Sulit Memimpin

Berada di luar kekuasaan adalah posisi yang nyaman. Kritik bisa dilontarkan tanpa harus menanggung konsekuensi langsung. Tetapi, saat menjabat, setiap keputusan memiliki dampak nyata.

Seorang pemimpin harus mempertimbangkan berbagai faktor sebelum bertindak, karena kesalahan kecil pun dapat membawa konsekuensi besar. Tidak jarang, pemimpin yang dulunya lantang akhirnya memilih untuk lebih berhati-hati demi menjaga stabilitas dan menghindari kesalahan fatal. Akibatnya, ia terlihat kurang berani dibanding saat menjadi kritikus.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

BACA JUGA :  Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami

Fenomena ini tidak hanya soal perubahan sikap seorang tokoh, tetapi juga mencerminkan kompleksitas sistem yang kita miliki. Konsistensi dalam menjalankan idealisme adalah tantangan besar bagi pemimpin. Sementara itu, masyarakat perlu lebih realistis dalam menilai kinerja mereka.

Kritik tetap penting, tetapi harus disertai pemahaman terhadap tantangan yang dihadapi pemimpin. Akhirnya, pemimpin sejati adalah mereka yang mampu bertahan dalam tekanan, berjuang meski harus berkompromi, dan membuktikan bahwa kata-kata yang pernah mereka lontarkan bukanlah janji kosong.

Memimpin itu tidak mudah. Kadang, mereka yang terlihat biasa saja sebenarnya sedang bekerja keras menghadapi tantangan besar yang tak terlihat. Bagi kita sebagai masyarakat, tugas utama adalah mendukung mereka yang benar-benar bekerja, sambil terus mengingatkan agar mereka tetap berada di jalur yang benar.

Penulis : Nafian faiz

Berita Terkait

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk
Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah
“Quo Vadis” UU Perampasan Asset
Krisis Integritas dalam Negara Hukum
Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami
KKN UMAHA Hadir untuk UMKM Desa KarangTanjung melalui Pendampingan Penerbitan NIB
Tambang PT MTN Makin Dekat dengan Rumah Warga, 100 KK Palayo Mengeluh: Sosialisasi Dipertanyakan, Manajemen Bungkam ‎
Mubeslub Ormawa UT Surabaya Bahas dan Tetapkan AD/ART sebagai Landasan Organisasi Mahasiswa
Berita ini 35,521 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 22:38 WIB

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk

Sabtu, 12 September 2026 - 21:11 WIB

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah

Kamis, 10 September 2026 - 15:16 WIB

“Quo Vadis” UU Perampasan Asset

Kamis, 3 September 2026 - 12:19 WIB

Krisis Integritas dalam Negara Hukum

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:50 WIB

Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami

Berita Terbaru

FOTO: Penulis Mendekatkan Buku kepada Pembacanya

Berita Utama

Mendekatkan Buku Kepada Pembacanya

Selasa, 22 Sep 2026 - 20:25 WIB

https://mancingjitu.com/