Cerita Darwati, 30 Tahun Mengabdi di Daerah Terpencil Hingga Berhasil Luluskan Ribuan Siswa TK

Rabu, 4 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DARWATI Saat Temu Pamit dan Pelepasan siswa TK Dharmawanita (3/6) SUARAUTAMA.ID

DARWATI Saat Temu Pamit dan Pelepasan siswa TK Dharmawanita (3/6) SUARAUTAMA.ID

SUARA UTAMA- Kami memanggilnya Bu Dar, sebagian menyapanya Bunda Darwati. Perempuan sederhana yang datang dengan semangat besar dan cinta yang tak pernah padam.

Suaranya tegas, kadang terkesan galak, tapi siapa pun yang mengenalnya tahu: hatinya selembut embun pagi. Ia tak segan meneteskan air mata ketika melihat kesulitan yang menimpa anak-anak didiknya, atau wali murid yang sedang terhimpit beban hidup.

Bu Darwati adalah seorang guru Taman Kanak-Kanak, berstatus Pegawai Negeri Sipil. Ia memulai pengabdiannya di Lampung Selatan, hingga pada tahun 1995 dimutasi ke Lampung Utara—tepatnya di wilayah pertambakan Kampung Bumi Dipasena Jaya, pesisir ujung timur yang saat itu masih termasuk Kecamatan Menggala, sebelum akhirnya menjadi bagian dari Kabupaten Tulang Bawang.

Mulusnya jalan Mutasi ibu Darwati saat itu tidak terlepas dari peran kuat  PT Dipasena Citra Darmaja (DCD) yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan di kawasan tambak.

Peran Ibu Diah, istri Kepala Desa pada masa itu, dan HRD perusahaan sangat menentukan dalam proses perpindahan Bu Darwati. Selain itu, suami beliau memang telah lebih dahulu menjadi petani plasma di kampung ini—sehingga keputusan mutasi menjadi sebuah ketetapan yang selaras antara tugas dan keluarga.

Sebelum Kampung Bumi Dipasena Jaya memiliki gedung sekolah sendiri, anak-anak di sini harus menempuh pendidikan TK dan SD di kampung sebelah: Bumi Dipasena Agung. Itu artinya, anak-anak usia dini ini harus menumpang perahu klotak menyusuri jalur air setiap hari.

Walaupun  usaha utama perusahaan adalah budidaya udang tetapi PT. DCD menjadikan pendidikan sebagai prioritas. Di saat di luar sana masih banyak anak-anak yang belum mengenal bangku sekolah, di Dipasena hampir tak ada anak yang masuk SD tanpa lebih dulu mencicipi pengalaman belajar di TK.

Bu Darwati hadir pada masa itu—saat semuanya masih serba terbatas. Ia mengajar di TK Dharma Wanita dengan menggunakan panggung kayu di depan balai desa. Panggung itu sejatinya tempat acara hiburan saat peringatan hari-hari besar, namun di tangan Bu Dar, tempat itu menjadi panggung pertama anak-anak mengenal huruf, angka, lagu-lagu anak, dan kasih sayang dari seorang guru.

Saya sendiri mulai menjadi petambak pada Februari 1992. Saat itu, saya masih lajang. Saya tak ingat pasti kapan pertama kali berjumpa dengan Bu Darwati. Namun seiring waktu, karena aktif menjadi wakil ketua RT dan sering berkegiatan di kantor desa, saya mulai mengenal beliau lebih dekat. Hubungan kami pun terjalin, hingga akhirnya saya terpilih menjadi kepala kampung pertama pasca-reformasi, ketika peran perusahaan dalam pemerintahan mulai dikurangi.

Ada satu hal menarik yang membuat Bu Darwati begitu istimewa. Ia mungkin satu-satunya guru berstatus PNS yang memimpin TK Swasta—TK Dharma Wanita—selama puluhan tahun. Mungkin tak hanya di Tulang Bawang, bahkan bisa jadi satu-satunya di Lampung atau Indonesia. Bukan tanpa keluhan, tapi ia lakoni dengan rasa tanggung jawab penuh dan bahagia.

BACA JUGA :  Bimtek Literasi Penulisan Publikasi Kegiatan Sekolah dengan Teknologi AI di SMPN Satap 2 Rawajitu Timur

Kepemimpinan dan keteladanannya menjadikannya mentor bagi guru-guru TK di Kecamatan Rawajitu Timur dan menjadi panutan tingkat kabupaten.

Lebih dari tiga dekade mengabdi di Bumi Dipasena Jaya, Bu Darwati telah mendidik lebih dari 2.700 anak. Mereka kini tersebar di penjuru negeri, bahkan dunia. Dari anak-anak tambak yang dahulu bermain di atas panggung kayu, kini ada yang menjadi dokter, tentara, guru, pengusaha, pejabat, dan banyak lagi.

Meski memori masa TK seringkali samar dalam ingatan, namun pijakan awal kehidupan itu tetap ada. Sebab di situlah kita pertama kali belajar duduk rapi, antre, mengucap salam, dan mengenal dunia dengan riang.

Betapa jasa guru TK kerap terlupakan. Mungkin karena ingatan masa kecil yang kabur, atau karena kita merasa telah tumbuh dan tahu banyak hal. Tapi sesungguhnya, merekalah—para guru seperti Bu Darwati—yang menanam benih penting dalam hidup kita. Mereka bukan hanya mengajar, tetapi membentuk jiwa dan karakter sejak dini.

Tak hanya sebagai guru, Bu Darwati juga dikenal piawai memasak. Dalam setiap hajatan petambak, acara desa, atau kunjungan pejabat dari kecamatan, kabupaten, hingga kementerian, masakan beliau selalu menjadi andalan.

Tak terhitung berapa tamu penting yang telah mencicipi sambal dan gulai buatan tangannya. Saya pun, selama menjabat sebagai kepala kampung dua preode dan ketua P3UW, kerap menggunakan jasanya untuk menjamu tamu-tamu kehormatan.

Lebih dari itu bagi saya dan keluarga sosok Bu Darwati adalah orang yang sudah terlalu banyak jasa dan kebaikan kepada kami. termasuk mendidik anak bungsu kami Najwa Nur Fatihah sebagai alumni TK Dharmawanita Bumi Dipasena Jaya, belasan tahun lalu.

Namun waktu terus berjalan. Sepuluh tahun terakhir, kesehatan Bu Darwati mulai menurun. Sejak kepergian suaminya, Pak Buyung, terlihat bahwa semangatnya kerap diuji. Tapi ia tak pernah benar-benar menyerah. Dedikasinya tetap menyala, meski tubuh mulai menua.

Dan akhirnya, pada hari Selasa, 3 Juni lalu, dalam acara pelepasan siswa TK Dharma Wanita tahun 2025 dan serah terima jabatan kepala sekolah, Bu Darwati berpamitan. Ia resmi purna tugas sejak Mei lalu.

Kami semua menunduk haru.

Wahai Bu Darwati, guruku…

Kau cahaya pertama dalam hidup anak-anak kami,

Kau pelita di panggung kayu, tak mengenal jenuh.

Dalam diam dan kesederhanaan, baktimu terus mengalir,

Doa kami selalu menyertaimu, semoga Tuhan membalas dengan cinta yang tak berakhir.

Penulis : Nafian Faiz, Jurnalis pernah menjadi Kepala Desa 2 Preode, akitivis sosial tinggal di Lampung.

Berita Terkait

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah
Pimpinan Suara Utama Andre Hariyanto Sharing Jurnalistik bersama Mahasiswa Universitas Lampung
PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan
Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles
Cegah Luka Psikis Akibat Bullying, Mahasiswa UMAHA Lakukan Penyuluhan Hukum
Perpustakaan sebagai Ruang Alternatif Pembelajaran di Masa Liburan

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Selasa, 27 Januari 2026 - 20:56

Pimpinan Suara Utama Andre Hariyanto Sharing Jurnalistik bersama Mahasiswa Universitas Lampung

Senin, 26 Januari 2026 - 15:19

PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:47

Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Selasa, 13 Januari 2026 - 23:05

Cegah Luka Psikis Akibat Bullying, Mahasiswa UMAHA Lakukan Penyuluhan Hukum

Selasa, 6 Januari 2026 - 13:36

Perpustakaan sebagai Ruang Alternatif Pembelajaran di Masa Liburan

Berita Terbaru