Budaya Mundur Jepang, Budaya Lari Indonesia: Menakar Moralitas Kepemimpinan

Kamis, 11 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA – Di Jepang, seorang pejabat bisa meletakkan jabatannya hanya karena merasa gagal menjaga kepercayaan publik. Di Indonesia, pejabat justru kerap memilih bertahan mati-matian, bahkan berlari dari tanggung jawab ketika publik menuntut kejelasan. Dua wajah kepemimpinan yang kontras ini memperlihatkan perbedaan moralitas politik di Asia.

Mundur sebagai Martabat di Jepang

Di Negeri Sakura, jabatan publik dipandang sebagai amanah yang sarat beban moral. Seorang menteri bisa mundur hanya karena salah ucap, terlambat menanggapi bencana, atau tersandung kasus kecil administrasi. Bagi masyarakat Jepang, pengunduran diri bukanlah kelemahan, melainkan bentuk penghormatan kepada rakyat.

Media NHK beberapa kali menyoroti bagaimana tradisi “budaya malu” menuntun pejabat untuk bertanggung jawab penuh, bahkan sebelum hukum atau oposisi menekan. Profesor politik dari Universitas Tokyo menyebut hal ini sebagai bentuk giri—kewajiban moral untuk menjaga kehormatan negara di atas kepentingan pribadi.

Lari dari Tanggung Jawab di Indonesia

Sebaliknya, di tanah air, budaya “lari” justru lebih sering terlihat. Ketika tersandung kasus korupsi, kegagalan kebijakan, atau skandal pribadi, pejabat publik kerap memilih bersembunyi di balik klarifikasi panjang, saling menyalahkan, atau berlindung pada prosedur hukum.

Kompas dan Tempo berulang kali mencatat bagaimana pejabat di Indonesia enggan mundur, bahkan meski jelas kehilangan legitimasi moral. Pengamat politik dari Universitas Indonesia menyebut fenomena ini sebagai krisis etika kepemimpinan: jabatan dianggap hak istimewa, bukan mandat yang sewaktu-waktu bisa dilepas demi menjaga marwah.

Pandangan Tokoh dan Ormas

Ketua Umum Muhammadiyah menegaskan, pejabat publik seharusnya meneladani sikap ksatria: berani mengakui kesalahan dan mundur secara sukarela. Dari kalangan Nahdlatul Ulama, pesan serupa digaungkan: jabatan adalah amanah, bukan sekadar kursi yang harus dipertahankan dengan segala cara.

Tokoh lintas agama pun melihat ada krisis teladan. “Budaya malu nyaris hilang. Yang muncul justru budaya pura-pura tak bersalah,” ujar seorang pengamat sosial dari UGM.

BACA JUGA :  KPU Ketapang Laksanakan FGD Tahapan Pilkada Ketapang Sesuai Keputusan MK.

Sorotan Media Internasional

Fenomena ini bahkan kerap menjadi bahan sorotan dunia. BBC menulis, seorang pejabat Jepang mundur hanya karena salah mengisi laporan dana politik, sementara di Indonesia, pejabat bisa tetap bertahan meski tersandung kasus miliaran rupiah. Perbandingan ini menyakitkan, tapi sekaligus membuka mata: ada jurang besar dalam standar moralitas kepemimpinan.

Menakar Moralitas Kepemimpinan

Pertanyaannya, apakah Indonesia siap belajar dari Jepang? Demokrasi tanpa moralitas akan melahirkan pejabat yang pandai berkelit, bukan pemimpin yang bertanggung jawab. Jika budaya mundur di Jepang dimaknai sebagai kehormatan, maka budaya lari di Indonesia justru memperlihatkan wajah kekuasaan yang rapuh.

Moralitas kepemimpinan tidak hanya ditakar dari seberapa lama seseorang duduk di kursi kekuasaan, tetapi dari keberanian mundur demi menjaga marwah bangsa. Dan di titik inilah, Indonesia masih tertinggal jauh.

Kesimpulan dan Penutup

Budaya mundur di Jepang lahir dari etika politik yang menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya, sementara budaya lari di Indonesia tumbuh dari mentalitas mempertahankan jabatan dengan segala cara. Kontras ini memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar dalam membangun politik berbasis moralitas, bukan sekadar politik prosedural.

Jika Indonesia ingin keluar dari lingkaran ketidakpercayaan publik, maka diperlukan keberanian kolektif: keberanian pejabat untuk mundur saat gagal, keberanian partai politik untuk menegakkan disiplin moral, dan keberanian masyarakat untuk menuntut standar kepemimpinan yang lebih tinggi.

Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal bertahan di kursi kekuasaan, melainkan soal kejujuran pada diri sendiri dan tanggung jawab pada rakyat. Jepang sudah lama mengajarkannya. Pertanyaannya: kapan Indonesia berani mengikuti?

Berita Terkait

Lagi Lagi Oknum Aslap SPPG Tiris Terkesan Menuduh Team Media Tidak Jelas Saat Konfirmasi Video MBG Sayur Viral
Bantaian Adat Sambut Ramadan 1447 H, Warga Desa Bukit Batu Sembelih 13 Kerbau
Ulang Tahun Trabas ke 4 Sangat Sederhana dan Penuh Makna, Ini Harapan Kordinator dan Pembina
Viral Video MBG Sayuran, Oknum Aslap SPPG Tiris Terkesan Menuduh Team Media Membuat Konten Tidak Bijak 
Predator Koruptor Sebut Tidak Ada Audensi, Gubernur Jatim di Periksa Sebagai Saksi Korupsi Dana Hibah
Desa Kapuk Darurat PETI: Sarnubi Seorang Kadus Disinyalir Terlibat, Alam Terancam Bencana
Pemuda Katolik Komcab Dogiyai Desak Pemprov Papua Tengah Segera Selesaikan Sengketa Tanah Ulayat Mee & Kamoro
Aksi Damai, Kantor Gubernur Jatim Bergetar, Suara Wapres LIRA Lantang dan Menggelegar 

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 15:24

Lagi Lagi Oknum Aslap SPPG Tiris Terkesan Menuduh Team Media Tidak Jelas Saat Konfirmasi Video MBG Sayur Viral

Sabtu, 14 Februari 2026 - 14:33

Bantaian Adat Sambut Ramadan 1447 H, Warga Desa Bukit Batu Sembelih 13 Kerbau

Sabtu, 14 Februari 2026 - 12:56

Ulang Tahun Trabas ke 4 Sangat Sederhana dan Penuh Makna, Ini Harapan Kordinator dan Pembina

Sabtu, 14 Februari 2026 - 08:33

Viral Video MBG Sayuran, Oknum Aslap SPPG Tiris Terkesan Menuduh Team Media Membuat Konten Tidak Bijak 

Jumat, 13 Februari 2026 - 09:05

Predator Koruptor Sebut Tidak Ada Audensi, Gubernur Jatim di Periksa Sebagai Saksi Korupsi Dana Hibah

Jumat, 13 Februari 2026 - 06:29

Pemuda Katolik Komcab Dogiyai Desak Pemprov Papua Tengah Segera Selesaikan Sengketa Tanah Ulayat Mee & Kamoro

Kamis, 12 Februari 2026 - 14:31

Aksi Damai, Kantor Gubernur Jatim Bergetar, Suara Wapres LIRA Lantang dan Menggelegar 

Kamis, 12 Februari 2026 - 06:31

Rehabilitasi Ruang Kelas SMAN 10 Merangin Disorot, Pekerjaan Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

Berita Terbaru