Ngadu Kuluwung di Jonggol Bogor

Senin, 7 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antusiasme peserta dan warga masyarakat desa Anta Jaya dan Pasir Tanjung kecamatan Jonggol kabupaten Bogor, dalam kegiatan ngadu kuluwung dalam suasana berlebaran (Itam Mustopa/Suara Utama)

Antusiasme peserta dan warga masyarakat desa Anta Jaya dan Pasir Tanjung kecamatan Jonggol kabupaten Bogor, dalam kegiatan ngadu kuluwung dalam suasana berlebaran (Itam Mustopa/Suara Utama)

SUARA UTAMA – Selain silahturami bermaaf-maafan yang dikenal dalam kegiatan lebaran di setiap  hari besar keagamaan umat Islam pada Idul Fitri 1 Syawal, ternyata selain kegiatan  silaturahim yang biasa dilakukan oleh masyarakat, ada salah satu kegiatan menarik yang mengiringi kegiatan berlebaran yaitu kegiatan ngadu kuluwung.

Ngadu kuluwung adalah kegiatan bedug meriam yang diadakan oleh masyarakat di daerah tertentu dengan maksud dan tujuan untuk memeriahkan hari berlebaran. Baru-baru ini perayaan hari besar keagamaan Idul Fitri 1 Syawal 1446 Hijriah lalu tepatnya di desa Anta Jaya dan desa Pasir Tanjung kecamatan Jonggol kabupaten Bogor, diadakan kegiatan ngadu kuluwung dimana dalam kegiatan ini  masing-masing perwakilan masyarakat  dua desa tersebut mengirimkan perwakilannya sebanyak 60 peserta.

Seluruh peserta mengenakan kaos yang telah ditentukan berwarna merah, adapun meriam yang dibuat tidak jauh beda seperti halnya meriam perang yang sering digunakan oleh pasukan tentara. Bahan meriam berasal dari bambu dan diikat dari tali bambu  yang telah disusun  dengan rapi. Hal yang berbeda dengan bedug meriam ini tidak beroda, untuk sampai ke lokasi bedug meriam, masing-masing meriam digotong oleh masyarakat yang menjadi peserta dibantu oleh masyarakat lainnya pada umumnya. Masing-masing ukuran bedug meriam 7 meter diameter 50 cm.

BACA JUGA :  Partai Gelora Berduka, Selamat Jalan Coach Ferial Fera Bidpuan DPD Sleman Yogyakarta

Bahan yang digunakan untuk melepaskan tembakan terdiri dari bahan karbit dan obor sebagai pemantik meledaknya bedug meriam. Total bedug meriam yang memeriahkan kali ini ada 25  bedug meriam, suara meledak bedug meriam secara bergantian semakin bertambah semaraknya  kegiatan ngadu kuluwung ini. Masyarakat sangat antusias untuk melihat dan memperhatikan bagaimana cara kerja dan meledaknya bedug meriam.

Kegiatan ngadu kuluwung  masyarakat ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah kecamatan Jonggol, sebagai upaya menjaga dan merawat silaturahim antara warga antardesa dalam hari raya Idul Fitri. Selain kegiatan ngadu kuluwung secara bersamaan diadakan pula kegiatan pasar UMKM dan tarian  Jaipong.

Adi Pamungkas menjelaskan, kegiatan ini bukan hanya pesta rakyat namun lebih dari itu adalah sebagai ajang silaturahim antar warga dalam harmoni kehidupan bermasyarakat, warga sangat antusias menghadiri kegiatan ini dari berbagai wilayah yang ada diluar Jonggol. Pungkas Adi yang mempunyai tanggung jawab sebagai kepala desa Anta jaya.

Kegiatan ngadu kuluwung ini akan tetap lestari di kecamatan Jonggol, selama masyarakat berkesadaran akan arti pentingnya  makna rekatan ikatan siaturahim sebagai kekuatan modal sosial masyarakat di pedesaan.

Penulis : Itam Mustopa

Editor : Agus Budiana

Berita Terkait

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan
Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus
Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW
Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles
Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku
Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu
Mengapa Penulisan Berita Tidak Dianjurkan Mencantumkan Gelar Nama

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Senin, 26 Januari 2026 - 15:19

PTNBH dan Ikhtiar Membangun LBH Universitas Terbuka: Dari Otonomi Kampus Menuju Akses Keadilan

Kamis, 22 Januari 2026 - 21:16

Namanya Diabadikan: Taman Soekarno Tanggamus

Senin, 19 Januari 2026 - 16:36

Meningkatkan Kualitas Shalat: Hikmah Agung dari Perjalanan Isra Mi‘raj Nabi SAW

Minggu, 18 Januari 2026 - 23:47

Negara untuk Warga atau Warga untuk Negara? Membaca Indonesia Hari Ini lewat Cermin La Politica Aristoteles

Sabtu, 3 Januari 2026 - 23:45

Babak Baru Hukum Pidana Indonesia, KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku

Jumat, 2 Januari 2026 - 16:11

Mahasiswa Sosiologi UINSA Padukan Rekreasi dan Refleksi Sosial di Kota Batu

Selasa, 30 Desember 2025 - 14:10

Mengapa Penulisan Berita Tidak Dianjurkan Mencantumkan Gelar Nama

Berita Terbaru