SUARA UTAMA, Palembang – Kini lebaran Idul Fithri 1446 memasuki hari keempat, yaitu Kamis 3 April 2025. Kebetulan juga, ini moment hari lahir jurnalis media online Suara Utama yang menulis berita atau artikel ini. Masih membekas, jejak-jejak sebagian ummat Islam di dunia yang mengikuti i’tikaf pada 10 malam terakhir Ramadhan lalu. Demikian juga i’tikaf di kota Palembang, salah satunya di Masjid Nurhidayah Jln. Deman Lebar Daun Ilir Barat I Palembang.
Jejak-jejak yang membekas itu sebagaimana yang ditinggalkan oleh sekelompok pemuda tuna netra yang istikomah mengikuti i’tikaf selama 10 malam terakhir Ramadhan lalu. Mereka tergabung dalam wadah Yayasan Netra Mandiri di Jalan Sukabangun II dan Pondok Pesantren Tuna Netra Cahaya Qolbu Jln Macan Kumbang IV Palembang.
Jejak mereka memberikan inspirasi bagi kita, khususnya bagi ktia yang dapat membaca tulisan ini. Karena itu artinya Anda mempunyai mata yang normal sebagai indra penglihatan sehingga dapat membaca tulisan ini. Betapa tidak, inspirasi utama dari mereka pemuda tuna netra, selain istiqomah mengikuti i’tikaf di Masjid Nurhidayah juga rajin mengisi waktu dengan tilawah Quran hingga larut malam saat sebagian yang lain sudah terlelap tidur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Erixon May Siregar (36), adalah salah satu pemuda tuna netra yang rajin tak pernah absen pada i’tikaf 10 malam terakhir Ramadhan. I’tikaf ini adalah pengalaman pertama baginya, bahkan puasa Ramadhan tahun ini juga adalah pengalaman pertama puasa baginya. Mengapa demikian ? Ia baru beberapa bulan ini memutuskan memeluk Islam, alias muallaf.
Dengan penuh haru, Erixon May Siregar yang kini merubah namanya menjadi Syaiful Islam mengisahkan pada jurnalis media Suara Utama ini perjalanan hidupnya bagai sinetron pada malam i’tikaf ke-24 di Masjid Besar Nurhidayah. Ia ditemani rekan-rekannya yang juga tuna netra, yaitu Stefen (33), Muhaimin (20), Kenziye Abiaz Alhadian (16), Muhammad Mithun Cakra Boty (25) dan Anton Wibisono (37) sebagai Ketua Yayasan Netra Mandiri dan Wakil Ketua Ponpes Tuna Netra Cahaya Qolbu.
Erixon baru 2 tahun ini mengalami tuna netra, karena glaoukoma. Ia tinggal di Medan Sumatera Utara, telah beristeri dan dikarunia 2 anak, namun kini sudah cerai. Dalam kondisi telah buta, ia ditinggalkan isterinya di hutan pada kebun jeruk. Selama 1 minggu Erixon tidak makan, cuma minum air dari saluran kebun jeruk. Setiap pagi ia berteriak-teriak meminta tolong orang.
Ia mengingat bahwa setiap Rabu dan Sabtu, biasanya ada yang menyiram kebun jeruk. Ia mendapat ide untuk mencari bantuan. Ia mengikat badannya dengan tali, kemudian menyambung tali-tali sepanjang 3 gulungan itu menghubungkan dirinya dengan pondok tempatnya tinggal.

Pada hari Rabu itu ia tidak berhasil meminta pertolongan, baru hari Sabtu bertemu orang Islam yang kebetulan sedang menyemprot kebun jeruk.Dengan bantuan orang tersebut, Erixon dikembalikan dengan adik kandungnya.
Namun niat hati mau kembali ke rumah orang tua, justru ayahnya menyuruh adiknya untuk memasukkan Erixon dalam karung dan membuangnya di sungai karena merasa tidak ada guna lagi sudah buta. Dengan ancaman akan dilaporkan pada polisi oleh malaikat penolong sang penyiram kebun jeruk itu, sehingga rencana jahat orang tua dan adiknya tidak terjadi.
Kisahnya belum usai, keluarga Erixon mendapat info adanya sebuah Yayasan Tuna Netra di Palembang yaitu Yayasan Netra Mandiri Palembang. Akhirnya adik kandung Erixon mengantarnya ke Palembang pada bulan Oktober 2024. Bukannya dititip baik-baik di yayasan ini, justru adiknya meninggalkan Erixon begitu saja di tempat ini. Erixon memang merasa sejak awal, ia akan ditinggal atau dibuang.
Selama 1 bulan Erixon tinggal di yayasan ini. Walaupun masih beragama kristen protestan, ia mengikuti kegiatan-kegiatan orang Islam seperti yasinan dan syukuran. Demikian juga mengikuti kegiatan di pondok pesantren tuna netra Cahaya Qolbu. Namun hidayah itu akhirnya datang pada Erixon, pada bulan November 2024 ia memutuskan untuk masuk agama Islam.
“Saya mendapatkan ketenangan dan keluarga baru dalam Islam. Dulu setelah saya buta saya diacuhkan dan disuruh duduk di belakang kalau ke gereja, pernah terjatuh karena tidak bisa melihat saya ditertawakan, bukannya ditolong” kisah Erixon sedih jika mengingatnya kembali.
Ia menceritakan, sejak ikrar syahadat mulai belajar Quran braille. Bulan Januari 2025 aktif belajar, masih iqro 1. Mulai belajar dan melaksanakan shalat dan puasa sunnah.
Dengan mengenal islam, Erixon yang kini dipanggil Syaiful, merasakan seluruh kenangan buruk itu lupa dan ikhlas saja. Senang lebih nyaman dan tenang. Walaupun sekarang ia putus kontak dengan keluarganya di Medan.
“Pertama kali i’tikaf hari Ahad lalu, saat shalat tarawih saya menangis. Saya seperti dihadapkan dengan 2 orang berjubah putih, menuntun ibu saya yang sudah lama meninggal. Disitulah saya bertemu lagi memandang wajah ibu saya, hingga membuat saya menangis” ujar Syaiful Islam berkaca-kaca.
Penulis : Zahruddin Hodsay
Editor : Zahruddin Hodsay
Sumber Berita : Yayasan Netra Mandiri, Pondok Pesantren Tuna Netra Cahaya Qolbu, Erixon May Siregar, Anton Wibisono