Makassar Bukan Untukmu
Oleh: Dands Mann Diamonds
SUARA UTAMA. Pagi itu, Andi Baso memacu motor bebek lawasnya membelah kemacetan di Jalan Perintis Kemerdekaan.
Selepas menyandang gelar sarjana dari Kampus Merah, ia memilih tetap menetap di indekos lamanya di kawasan Pintu Nol. Demi mengabdi sebagai tutor bimbingan belajar (bimbel).
Pekerjaan ini dijalankan dengan tekun. Hiruk-pikuk Fly Over Pettarani dilewati setiap hari menuju lokasi bimbel untuk berbagi ilmu kepada para siswanya di pusat Kota Daeng.
Tiba-tiba getaran ponsel dari saku celana memaksanya menepi ke bahu jalan yang berdebu.
Nama Diajeng Tari muncul di layar, tertulis dengan huruf kapital berhias emoji hati. Sosok kekasih terpatri kuat dalam relung hatinya.
Jarak dari desa asalnya di Padende, Kabupaten Sigi ke Makassar tempat pujaan hatinya tinggal, bukanlah sebuah sekat. Jauh di mata, selalu dekat di doa.
Ponsel segera ia angkat. Dari seberang, bukan sapaan hangat yang menyambut, melainkan suara sesenggukan tertahan. Nadanya dingin serupa kabut pagi yang menggigit, parau dan terasa menjauh.
“Maaf, kita putus mi. Hubungan kita berakhir mi. Tolong jangan cari-cari saya lagi.”
Sambungan terputus seketika. Jemari Baso gemetar menekan kembali nomor itu berkali-kali.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi,” suara mesin menyahut datar, memenggal sisa harapannya. Ia menatap layar ponsel dengan pandangan kosong—seolah sinyal cinta benar-benar terputus tepat saat koneksi rasa sedang hangat-hangatnya membuai jiwa.
*
Pertemuan itu bermula di sebuah lembaga bimbel ternama di jantung kota Makassar, tempat Baso mengabdikan ilmunya sebagai tutor.
Diajeng gadis asli Kota Daeng, datang ke bimbel dengan harapan yang membuncah. Sambil menunggu hari ujian masuk perguruan tinggi negeri, ia mengikuti persiapan intensif dengan semangat menyala. Baginya, lulus di PTN ternama di kotanya sendiri adalah pertaruhan masa depan.
Di sana, Baso hadir bukan sekadar sebagai pengajar. Ia membawakan materi matematika tanpa sedikit pun sikap menggurui. Caranya menjelaskan rumus begitu sabar dan tenang—seolah angka-angka rumit itu bukanlah beban, melainkan ruang bernapas di tengah tekanan besar meraih cita-cita yang menghimpit dada.
Ketulusannya saat mengajar perlahan meruntuhkan sekat antara tutor dan siswa. Sebulan belajar intensif menemani Diajeng, Baso jatuh hati.
Gayung pun bersambut. Di sebuah warkop kecil yang dipenuhi aroma kopi Toraja di sore hari, Baso akhirnya memberanikan diri mengucap kata cinta. Kalimat yang sesungguhnya telah lama dinantikan Diajeng diam-diam.
Tatapan mereka bertaut, menemukan muara ketulusan yang sama. Diajeng teringat sebait puisi lama yang pernah ia baca: “Di indah matamu berbinar, kutemukan hariku esok hari.”
Sambil tersenyum tipis, ia mengangguk pelan, menyerahkan hari-hari mendatang pada keyakinan yang mulai tumbuh subur di tengah bimbel.
*
Beberapa hari berselang, kabar itu datang tanpa aba-aba. Di sela keriuhan bimbel, Diajeng berpamitan untuk belajar mandiri. Suaranya tenang, meski matanya tak mampu menyembunyikan pergulatan batin yang hebat.
“Tabe‘, Ayahku sakit. Saya harus jagaki di rumah sakit,” ucapnya singkat.
Baso hanya mengangguk—menahan tanya. Ia kagum pada keteguhan Diajeng yang memilih berbakti tepat saat mimpi masuk PTN dan jadual sudah di ambang waktu.
Dari sikap itu, ia melihat sebuah nilai yang juga ia pegang teguh di desanya, Padende. Berbakti kepada orang tua bukanlah pilihan, melainkan jalan hidup.
Di antara genggaman tangan tertahan dan janji lirih untuk saling menjaga hati, mereka sepakat bahwa jarak dan perpisahan hanyalah jeda, bukan akhir.
*
Seminggu berlalu, kabar baik menyapa lewat layar ponsel. “Dad is getting better,” tulis Diajeng singkat. Lengkap dengan emoji hati menandakan pulih.
Ujian PTN dipersiapkan di sela-sela merawat ayahnya. Meski tidak maksimal, Diajeng bisa menyelesaikan tes dengan keyakinan dapat lulus ujian. Tinggal menunggu pengumuman.
Pesan-pesan berikutnya mengalir lebih ringan, berbalut rindu yang tak lagi tertahan.
“Don’t you miss me? I miss you badly!” goda Diajeng. “I miss you, too,” balas Baso sarat makna.
Suatu malam, sambil menatap langit Kota Daeng, yang bintangnya kian meredup oleh lampu kota, Baso menulis, “Kalau rindu, saya menulismu.”
Diajeng membalas cepat, “If I miss you, I just read our old chats.” Rindu mereka tumbuh, menjaga ingatan tetap hangat di tengah kesibukan masing-masing.
*
Kabar baik mewarnai penerimaan ujian PTN. Diajeng diterima di prodi bahasa Inggris. Kabar ini disambut suka cita oleh Baso.
Pernah suatu waktu, Diajeng berkisah tentang kemegahan Taj Mahal—simbol kesetiaan Shah Jahan kepada Mumtaz Mahal yang abadi oleh waktu. Pesan itu ditutupnya dengan tanya yang dalam, “When I speak of Shah Jahan’s love for Mumtaz, do you sense it within us?”
Baso membacanya berulang kali. Ia menangkap isyarat bahwa Diajeng mendambakan cinta yang tangguh, bukan sekadar persinggahan sesaat.
Demi mengimbangi dunia kekasihnya, Baso perlahan belajar merangkai kata dalam bahasa Inggris. “Mungkin saya harus upgrade isi hati supaya bisa terus sefrekuensi denganmu,” gumamnya sambil tersenyum sendiri.
Cinta, baginya, menjadi tantangan untuk terus memantaskan diri.
Hingga akhirnya, dengan keyakinan untuk mengetuk pintu restu, Baso memacu motornya menuju rumah Diajeng.
Dari kampung halamannya, ia membawa fermentasi apel India khas Sigi. Buah tangan yang ia harap bisa menjadi penawar sakit bagi ayah Diajeng.
Harapan itu didekapnya erat dalam doa, sembari menyiapkan batin untuk segala kemungkinan yang menanti di depan sana.
Baso akhirnya memberi kabar tiba di depan pagar rumah Diajeng. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk, memecah kesunyian. “Finally you are here. Welcome to my home, Sweetheart.”
Sambil menenangkan debar jantung, ia membalas, “Feels like a dream just to be here.” Hatinya menghangat, meski langkahnya terasa kecil di bawah bayang-bayang bangunan kota yang menjulang tinggi.
Senyum Baso getir, beradu antara harap yang ia rawat dan ragu yang perlahan mengendap.
Jauh di lubuk hati, ia merasa seperti pemuda desa yang tersesat di kemegahan Kota Daeng, walau ia adalah sarjana dari kampus ternama di sini.
Kemeja sederhana, sepatu yang biasa menyusuri tanah, dan aroma fermentasi apel India dari tas ranselnya seolah menjadi penanda perbedaan yang nyata. Namun, ia tetap ingin percaya bahwa cinta adalah jembatan yang sanggup melampaui segala jarak status.
Kenangan masa kecil tiba-tiba melintas: hidup yang berpindah-pindah sekolah, berganti atap dari rumah nenek ke rumah kerabat, seolah rumah hanyalah persinggahan sementara.
“Hidup telah mengajarkanku arti kehilangan yang tak pernah memiliki nama,” desisnya.
Diam-diam ia kerap bertanya: di mana sebenarnya tempat untuk pulang?
Baginya, keinginan itu sederhana: mencintai dan dicintai dalam sebuah keluarga, meski hanya di dalam gubuk sederhana.
Baso datang dari masa lalu yang tak pernah benar-benar utuh, dan justru dari sanalah ia belajar bahwa cinta bukanlah alasan untuk pergi, melainkan dalih terkuat untuk tetap menetap.
Keluarga Diajeng menyambutnya dengan ramah. Namun, di balik keramahan itu, Baso menangkap jarak yang halus—bisik-bisik samar tentang asal-usulnya dari Sigi. Ia tahu niatnya telah terbaca jelas; seorang lelaki dari daerah perkebunan datang membawa segenggam kesungguhan.
Waktu berlalu, dan mereka berhasil menjaga nyala api kisah itu tetap membara selama tiga tahun penuh.
Diajeng kini sangat menikmati masa kuliahnya di Sastra Inggris, sebuah isyarat bahwa cinta juga berarti memberi ruang luas bagi pasangan untuk meraih cita-cita.
Di kampusnya, banyak wajah baru yang terang-terangan menaruh hati pada Diajeng.
Di kantin kampus, sambil menikmati suasana sore, Diajeng bercerita ringan tentang itu.
“Banyak memang yang suka ganggu, tapi tidak ada yang satu ji yang saya tanggapi. Janganki khawatir,” ucap Diajeng meyakinkan.
“Jangan biarkan hatimu bersama yang lain, nah?” balas Baso lembut—separuh canda, separuh cemburu.
Akan tetapi, mulai saat itu, ada sesuatu yang berubah dalam hubungan mereka. Saat mereka berjalan santai di sekitar kampus lalu singgah ke pusat perbelanjaan di jantung kota, Diajeng menolak diantar meski sampai ke depan pagar rumahnya.
Sebuah tanda yang samar, seolah ada jarak tak bernama yang mulai membentang di antara mereka.
Intensitas pesan whatsApp kian menyusut. Kata-kata berubah singkat, dan jeda balasan terasa makin panjang dan menyiksa.
*
Tentu ada bagian dari diri Baso yang terus menyangkal kenyataan. Ia mencoba menepis logikanya sendiri. Pemutusan melalui ponsel itu mungkin hanyalah kesalahpahaman, atau barangkali esok Diajeng akan menelepon kembali dan berkata bahwa semuanya hanyalah kekeliruan.
Harapan kecil itu bertahan mati-matian, rapuh serupa nyala korek di tengah hantaman angin kencang.
Suatu hari, seorang senior sesama tutor berbisik pelan, seolah memberi petuah pahit, “Perempuan yang berani meninggalkan laki-laki, biasanya sudah ada laki-laki lain di hatinya.” Kalimat itu menancap layaknya duri—tak terlihat kasat mata, namun perihnya menetap di dalam dada.
Baso menunduk dalam, menolak untuk percaya. “Saya belum benar-benar meninggalkanmu,” ucapnya pada sepi yang merayap.
“Saya masih berharap kamu kembali,” bisiknya pada mimpi yang kian menjauh. Namun, gema kalimat “sudah ada laki-laki lain” perlahan menyurutkan langkahnya yang sempat berencana mengejar dan memastikan.
Kini, setiap bunyi notifikasi ponsel membuat jantungnya berdegup kencang. Lalu runtuh seketika saat menyadari bukan nama Diajeng yang muncul di layar.
Harapannya layu dalam penantian yang tak pasti. Ia terombang-ambing di antara sisa cinta dan amarah yang meledak tanpa penjelasan.
Di sisi lain, Diajeng seolah melepaskan ikatan itu seperti seseorang yang baru saja keluar dari ruang sempit—terasa lega dan merdeka.
Baso bertanya lirih pada bayangannya sendiri, “Mengapa se-enteng ini kamu menghapus segalanya?”
*
Satu setengah tahun berlalu sejak kata putus, Baso merasakan cinta mendalam tak pernah benar-benar pergi. Ia meninggalkan luka yang membekas, berdiam dalam sunyi menunggu waktu untuk dipahami, atau mungkin sejak awal, cintanya memang tak pernah benar-benar utuh.
Dari desas-desus alumni bimbel dan kabar burung teman lama, Baso akhirnya mendengar kabar Diajeng menikah dan kini tengah menimang buah hati.
Semua akun media sosial Diajeng yang dulu sering ia intip kini telah membisu.
Akun lama menghilang, berganti dengan profil baru yang menampilkan gaya hidup berbeda.
Di sana, Diajeng berpose di atas motor sport mewah, bersandar manja pada sosok pria lain dengan latar pemandangan metropolitan yang berkilau cahaya. Caption-nya singkat namun tajam: “Finally walking with someone who keeps my rhythm.”
Ada denyut aneh yang menjalar di dada Baso. Bukan lagi luka yang menganga, melainkan sebuah keheningan panjang—pertanda bahwa sesuatu di dalam dirinya benar-benar telah selesai.
Tiba-tiba, ia teringat petuah ibunya dulu saat mereka duduk di teras rumah: “Nak, kenapa ki’ pilih gadis kota? Makassar bukan untukmu. Sanggupkah ko kasih makan dan beli bedaknya?”
Kini, Baso hanya bisa tersenyum getir. Bukan karena ucapan ibunya terbukti benar, melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa cinta tak selamanya harus berjalan searah. Tidak semua yang indah di mata harus digenggam dalam tangan. Terkadang, mengikhlaskan seseorang tumbuh di jalannya sendiri adalah bentuk ketulusan cinta yang paling jujur.
Di sela kesibukannya sebagai tutor dan keriuhan tawa para peserta bimbel, Baso menemukan kedamaian baru.
Kedamaian yang tidak ia gantungkan pada orang lain, melainkan pada dirinya sendiri. Menatap bayangan masa lalu dari teras rumahnya di Sigi, di mana cahaya jingga menyiram hamparan sawah hijau, ia tak lagi merasa menyesal. Justru ia merasa berterima kasih.
“Cinta bukan soal memiliki, melainkan soal mengizinkan yang kita cintai tumbuh di jalannya sendiri,” tulisnya perlahan pada halaman pertama buku catatan barunya.
Pada lembar berikutnya, ia menggoreskan janji: “Let me start moving.” Sebuah komitmen pada batinnya sendiri bahwa hidup harus terus berlanjut dengan semangat yang baru.
Babak baru pun dimulai. Luka itu tak perlu lagi disembunyikan, melainkan dirawat hingga menjadi cahaya yang menuntun langkah ke depan. Cinta ia kembalikan pada fitrah sucinya. Bukan tentang seberapa kuat jemari menggenggam, melainkan seberapa ikhlas hati melepaskan tanpa sedikitpun rasa benci.
Barangkali, kemegahan sejati bukan pada puncak keberhasilan yang dipamerkan, melainkan saat ia berani menerima kerapuhannya sendiri. Baso melangkah dengan semangat dan kepasrahan, membiarkan waktu serta cahaya Ilahi bekerja menyimpan rahasia takdir yang mungkin takkan pernah terungkap.
Ibunya benar dan firasatnya tak meleset: Makassar bukan untukmu!
Catatan bahasa Inggris:
Dad is getting better (Ayah semakin membaik)
Don’t you miss me? I miss you badly! (Apa kamu tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu!)
I miss you, too. (Aku juga merindukanmu)
If I miss you, I just read our old chats (Kalau aku merindukanmu, aku cukup membaca kembali obrolan lama kita)
When I speak of Shah Jahan’s love for Mumtaz, do you sense it within us?(Saat aku berbicara tentang cinta Shah Jahan kepada Mumtaz, apakah kamu merasakannya dalam diri kita?)
Finally you are here. Welcome to my home, Sweetheart (Akhirnya kamu di sini. Selamat datang di rumahku, sayang)
Feels like a dream just to be here. (Rasanya seperti mimpi hanya untuk bisa berada di sini)
Finally walking with someone who keeps my rhythm. (Akhirnya berjalan bersama seseorang yang seirama denganku)
Let me start moving (Biarkan aku mulai melangkah)
Penulis : Dands Mann Diamonds
Editor : Didik PW
Sumber Berita: Dands Mann Diamonds











