Desa Kapuk Tabir Ulu Darurat PETI, Ratusan Dompeng Diduga Rusak Lingkungan

- Writer

Kamis, 19 Februari 2026 - 16:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

SUARA UTAMA,Merangin – Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Kapuk, Kecamatan Tabir Ulu, Kabupaten Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, dilaporkan semakin marak dan dikhawatirkan berdampak serius terhadap kerusakan lingkungan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ratusan set dompeng rakit dan darat terlihat berjejer di area yang diketahui memiliki potensi kerusakan lingkungan yang parah.

Di balik maraknya penambangan ini, muncul nama-nama yang diduga terlibat, yakni Yasmin, Huzairi, Anas, dan Sarnubi.

ADVERTISEMENT

IMG 20240411 WA00381 Desa Kapuk Tabir Ulu Darurat PETI, Ratusan Dompeng Diduga Rusak Lingkungan Suara Utama ID Mengabarkan Kebenaran | Website Resmi Suara Utama

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi lingkungan desa Kapuk tampak porak-poranda akibat dampak aktivitas penambangan yang tidak bertanggung jawab ini. Warga setempat melaporkan bahwa aktivitas ilegal ini dibiarkan tanpa tindakan tegas, bahkan ada dugaan pembiaran dari kepala desa.

Huzairi, yang juga merupakan aparatur sipil negara (ASN) dan seorang guru di SMP Negeri 21 Merangin, menjadi sorotan karena keterlibatannya dalam aktivitas yang merusak alam itu.

Selain Huzairi, nama-nama lain seperti Sarnubi, yang menjabat sebagai kepala dusun, Yasmin, dan Anas dikaitkan dengan praktik penambangan yang semakin marak di desa ini. Aktivitas penambangan yang selama ini berlangsung ibarat “jamur” yang tumbuh di musim hujan, menunjukkan bahwa tindakan penegakan hukum terhadap pelaku seakan tak berarti.

BACA JUGA :  PETI Menggila di Pangkalan Jambu, Asrama Santri Retak Panjang dan Terancam Roboh

Warga desa Kapuk pun mendesak aparat penegak hukum, baik dari Polsek maupun Polres, untuk segera mengambil tindakan tegas sebelum kerusakan ini semakin parah. Jika tidak, mereka meminta pada pihak Polda Jambi untuk turun langsung ke lokasi dan melakukan investigasi terkait aktivitas penambangan yang merugikan lingkungan dan masyarakat.

“Kalau dibiarkan, dampaknya bisa besar bagi desa kami. Sungai keruh, tanah rusak, dan risiko bencana meningkat,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Dengan adanya informasi ini, masyarakat Kapuk berharap agar tindakan cepat dan tepat segera diambil demi kelestarian lingkungan dan kehidupan mereka. Apakah penegakan hukum akan merespon permintaan ini? Warga menunggu langkah nyata dari aparat untuk mengatasi masalah yang telah berlarut-larut ini.

Penulis : Ady Lubis

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Diduga Tidak Mengantongi Izin, Usaha Serkel Kayu Klenang Kidul Jadi Sorotan 
PTTUN Jakarta Menangkan Kubu Slamet Ariyadi, Dualisme PB IKA PMII Resmi Berakhir
AR Learning Center dan Suara Utama Ucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadan 1446 Hijriah
Camat Banyuanyar Turun Tangan, Warga Meminta Inspektorat Audit Dugaan Rangkap Jabatan Serta Bantuan Nya
Duka di Dogiyai: Perderika Goo, Anggota KNPB Tutup Usia
SD YPPK Santo Yohanes Pemandi Goodide Rayakan HUT ke-58
Jagung Petani Merangin Ditolak Bulog, Minim Sosialisasi Diduga Jadi Biang Keluhan Warga
Semakin Krisis Kepercayaan Masyarakat, 3 Oknum perangkat desa Banyuanyar tengah Rangkap Jabatan
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 19 Februari 2026 - 16:24 WIB

Desa Kapuk Tabir Ulu Darurat PETI, Ratusan Dompeng Diduga Rusak Lingkungan

Kamis, 19 Februari 2026 - 10:41 WIB

Diduga Tidak Mengantongi Izin, Usaha Serkel Kayu Klenang Kidul Jadi Sorotan 

Kamis, 19 Februari 2026 - 09:59 WIB

PTTUN Jakarta Menangkan Kubu Slamet Ariyadi, Dualisme PB IKA PMII Resmi Berakhir

Rabu, 18 Februari 2026 - 20:17 WIB

Camat Banyuanyar Turun Tangan, Warga Meminta Inspektorat Audit Dugaan Rangkap Jabatan Serta Bantuan Nya

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:56 WIB

Duka di Dogiyai: Perderika Goo, Anggota KNPB Tutup Usia

Berita Terbaru

Artikel

Ramadhan dan Estetika Kemanusiaan

Jumat, 20 Feb 2026 - 06:32 WIB