Eksorsisme atau Skizofrenia? Mengurai Ambiguitas Kerasukan dalam Perspektif Medis dan Teologis

- Publisher

Sabtu, 8 November 2025 - 21:28 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

Ilustrasi reflektif tentang konflik antara spiritualitas dan kesehatan mental. Gambar ini menggambarkan ketegangan batin antara penderitaan jiwa dan pencarian makna religius sejalan dengan tema “Eksorsisme atau Skizofrenia?” yang dibahas dalam artikel ini.

Ilustrasi reflektif tentang konflik antara spiritualitas dan kesehatan mental. Gambar ini menggambarkan ketegangan batin antara penderitaan jiwa dan pencarian makna religius sejalan dengan tema “Eksorsisme atau Skizofrenia?” yang dibahas dalam artikel ini.

SUARA UTAMA – Surabaya, 8 November 2025 — Praktik pengusiran roh jahat atau eksorsisme kembali menjadi perbincangan di berbagai kalangan akademisi dan rohaniawan. Meski eksorsisme telah dikenal sejak ribuan tahun lalu dalam berbagai kebudayaan dan agama, banyak pihak kini mulai mempertanyakan batas antara keyakinan spiritual dan penjelasan ilmiah atas fenomena tersebut.

Secara etimologis, eksorsisme berasal dari bahasa Latin exorcismus dan Yunani exorkizein yang berarti “mengusir dengan sumpah”. Dalam konteks religius, eksorsisme dilakukan untuk mengusir setan atau roh jahat dari seseorang atau suatu tempat. Namun, menurut sejumlah pengamat, praktik ini kini tak bisa lagi dilepaskan dari analisis medis dan psikologis.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gereja Katolik dan Reformasi Eksorsisme

Sejarah mencatat bahwa Gereja Katolik secara resmi membentuk tim eksorsis pada tahun 1914 untuk menangani kasus kerasukan yang dianggap sah menurut doktrin gereja. Namun reformasi besar terjadi pada tahun 1999 melalui The Order of Saint Benedict Formula.

Dalam reformasi tersebut, Vatikan menegaskan bahwa sebelum eksorsisme dilakukan, individu yang diduga kerasukan wajib melalui pemeriksaan oleh dokter, psikolog, dan ilmuwan. Tujuannya untuk memastikan bahwa tidak ada penjelasan medis atau psikis yang terabaikan.

Hasilnya mengejutkan: lebih dari 95 persen kasus kerasukan ternyata berasal dari gangguan medis atau kejiwaan seperti epilepsi, gangguan disosiatif, dan skizofrenia. Data ini menjadi dasar perubahan besar dalam cara Gereja memandang dan menangani fenomena kerasukan.

 

Komentar Pengamat: “Bisa Jadi Bukan Kerasukan, Tapi Skizofrenia”

Eko Wahyu Pramono, pengamat sosial dan perilaku keagamaan, menilai bahwa banyak kasus eksorsisme yang selama ini dianggap kerasukan sesungguhnya lebih tepat dijelaskan secara psikologis.

BACA JUGA :  Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terkesan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif Saat di Konfirmasi Media

“Bisa saja itu bukan kerasukan roh jahat, melainkan skizofrenia atau gangguan disosiatif berat,” ujar Eko kepada SUARA UTAMA, Sabtu (8/11).

“Dalam banyak kasus, individu kehilangan kontrol atas pikirannya sendiri, mengalami halusinasi pendengaran atau visual, dan menafsirkan pengalaman itu sebagai penguasaan oleh roh. Ketika lingkungan sosialnya sangat religius, narasi kerasukan menjadi penjelasan yang lebih mudah diterima ketimbang diagnosis medis.”

Menurut Eko, pandangan semacam ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada kesimpulan supranatural tanpa bukti ilmiah yang kuat. Ia menekankan perlunya peran tenaga medis dan psikolog profesional dalam menangani kasus yang disebut kerasukan, agar tidak terjadi salah penanganan yang berpotensi fatal.

 

Tiga Kasus Eksorsisme yang Diakui Vatikan

Sepanjang sejarah, Vatikan hanya mengakui tiga kasus eksorsisme sebagai otentik, yakni:

  1. Emma Schmidt (1928) – menjadi inspirasi film The Exorcist (1973).
  2. Roland Doe (1949) – dasar kisah The Exorcist II (1977).
  3. Annaliese Michel (1975–1976) – inspirasi The Exorcism of Emily Rose (2005).
BACA JUGA :  Pemkab Merangin Matangkan Penertiban Kios PKL di DMJ, Eksekusi 30 September

Namun, ketiganya pun menyisakan kontroversi.
Kasus Annaliese Michel, misalnya, menjadi sorotan dunia karena sang gadis menjalani 67 kali ritual eksorsisme sebelum meninggal akibat malnutrisi. Hasil autopsi kemudian menunjukkan bahwa ia menderita epilepsi lobus temporal.

“Kasus ini tragis sekaligus menjadi pelajaran bahwa keyakinan tanpa pemahaman medis bisa berujung fatal,” ujar Eko Wahyu Pramono menambahkan.

 

Antara Iman dan Rasionalitas

Fenomena eksorsisme menempatkan manusia di antara dua ranah besar: iman dan ilmu.
Sebagian pihak memandangnya sebagai bukti kekuatan spiritual, sementara kalangan ilmuwan menilai banyak fenomena tersebut bisa dijelaskan secara medis dan psikologis.

Meski demikian, keduanya tidak harus saling meniadakan.
Eko Wahyu Pramono menilai bahwa pendekatan paling sehat adalah mengintegrasikan keyakinan dengan ilmu pengetahuan, dengan tetap mengedepankan analisis medis dan psikologis sebelum menempuh jalan spiritual.

“Eksorsisme sejati bukan sekadar mengusir setan,” tutup Eko,
“tetapi juga mengembalikan kesadaran, keseimbangan, dan kemanusiaan seseorang.”

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Diduga Terlibat PETI di Sungai Manau, Nama Anwar Pegawai RSUD Bangko Jadi Sorotan Publik!
Aparatur Desa Tagih Janji Bank Jatim Cabang Kraksaan, Pimpinan Sibuk Full Hingga 10 Hari Kerja Tidak Bisa Temui Media
Diduga PETI Milik Budi dan Hamzah Porak-Porandakan Hutan Adat dan Geopark Merangin di Desa Guguk
Oknum Kepala SDN Sumberagung Memilih Diam, Ketua DPC Projamin Geram Atas Dugaan Praktek Pungli dan Penjualan LKS
Jokowi Perlihatkan Ijazah SD hingga S1 dalam Persidangan Kasus Polemik Ijazah
Budpar Dogiyai Matangkan Persiapan Pekan Kreasi Daerah II
Pemimpin Redaksi Suara Utama, Andre Hariyanto Soroti Dugaan Penyadapan Presiden hingga Media
Terindikasi Borong Pelanggaran, Oknum di SDN Tamansari lll Diduga Menarik Iuran Perminggu, Perbulan dan Penjualan LKS
Berita ini 237 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 17:09 WIB

Diduga Terlibat PETI di Sungai Manau, Nama Anwar Pegawai RSUD Bangko Jadi Sorotan Publik!

Jumat, 6 November 2026 - 09:51 WIB

Aparatur Desa Tagih Janji Bank Jatim Cabang Kraksaan, Pimpinan Sibuk Full Hingga 10 Hari Kerja Tidak Bisa Temui Media

Jumat, 6 November 2026 - 07:17 WIB

Diduga PETI Milik Budi dan Hamzah Porak-Porandakan Hutan Adat dan Geopark Merangin di Desa Guguk

Kamis, 5 November 2026 - 19:09 WIB

Oknum Kepala SDN Sumberagung Memilih Diam, Ketua DPC Projamin Geram Atas Dugaan Praktek Pungli dan Penjualan LKS

Kamis, 5 November 2026 - 18:13 WIB

Jokowi Perlihatkan Ijazah SD hingga S1 dalam Persidangan Kasus Polemik Ijazah

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp