Inflasi Adalah Musuh Senyap, Yulianto: Saatnya Anak Muda Melek Investasi!

- Publisher

Kamis, 9 Oktober 2025 - 09:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi inflasi sebagai “musuh senyap” ekonomi. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, mengingatkan pentingnya investasi cerdas untuk melawan penurunan nilai uang.

Ilustrasi inflasi sebagai “musuh senyap” ekonomi. Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, mengingatkan pentingnya investasi cerdas untuk melawan penurunan nilai uang.

SUARA UTAMA – Jakarta, 9 Oktober 2025 — Laju inflasi Indonesia yang relatif terkendali tidak berarti masyarakat boleh abai terhadap nilai uang. Walau inflasi tahunan 2024 hanya 1,57 persen, para ahli mengingatkan bahwa menabung saja tidak cukup untuk mempertahankan daya beli.

Data Bank Indonesia menunjukkan, inflasi nasional turun dari 5,51 persen pada 2022, menjadi 2,61 persen pada 2023, dan melandai ke 1,57 persen pada 2024. Namun, bunga tabungan yang rata-rata hanya 0,5–1 persen per tahun membuat nilainya tetap tergerus inflasi.

“Menabung itu penting untuk menjaga likuiditas, tapi tidak untuk menjaga nilai uang. Inflasi itu musuh senyap. Kalau bunga tabungan lebih rendah dari inflasi, artinya uang kita sebenarnya berkurang nilainya,” ujar Yulianto Kiswocahyono, SE., SH., BKP, Konsultan Pajak Senior sekaligus Ketua Komite Tetap Bidang Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur, Rabu (9/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Instrumen Investasi yang Mampu Melawan Laju Inflasi

Menurut Yulianto, masyarakat perlu mulai memahami instrumen investasi produktif yang dapat menjaga bahkan menumbuhkan nilai uang melebihi laju inflasi tahunan. Berikut beberapa pilihan instrumen yang disarankannya:

  1. Saham dan Reksa Dana Saham

Dalam jangka panjang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pertumbuhan rata-rata 8–12 persen per tahun, jauh di atas inflasi nasional. Saham menjadi instrumen efektif untuk meningkatkan nilai riil kekayaan.

BACA JUGA :  Ketua STAI Samarinda: Akreditasi Program Studi Bukan Sekadar Formalitas, Ini Kewajiban Hukum

“Pasar saham memang fluktuatif, tapi kalau horizon investasinya panjang, hasilnya hampir selalu positif. Investasi di saham bukan untuk cepat kaya, tapi untuk menjaga agar uang kita terus tumbuh di atas inflasi,” jelas Yulianto.

 

  1. Surat Berharga Negara (SBN Ritel dan Sukuk)

Instrumen seperti ORI025 dan Sukuk Ritel SR020 menawarkan kupon tetap 5–6,5 persen per tahun, dengan risiko rendah karena dijamin oleh negara.

“SBN adalah pilihan realistis dan aman bagi masyarakat umum. Selain menguntungkan secara individu, ini juga membantu pembiayaan pembangunan nasional,” terang Yulianto.

 

  1. Emas

Sebagai aset pelindung nilai (hedging asset), emas Antam mencatat kenaikan rata-rata 6–9 persen per tahun selama satu dekade terakhir. Saat inflasi tinggi atau rupiah melemah, emas terbukti menjadi aset stabil.

“Emas itu sederhana tapi efektif. Tidak menghasilkan bunga, tapi menjaga daya beli dengan baik. Cocok bagi mereka yang ingin investasi tanpa repot,” tambahnya.

 

  1. Properti

Harga tanah dan rumah di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung tumbuh 6–10 persen per tahun, menurut indeks properti Bank Indonesia.

“Properti mengikuti inflasi secara alami karena biaya bahan bangunan dan nilai tanah selalu naik. Tapi jangan asal beli, pastikan lokasinya strategis dan bernilai jangka panjang,” jelas Yulianto.

 

  1. Reksa Dana Campuran
BACA JUGA :  SMKN 3 Makassar Gelar Pameran P8, Gandeng Pertamina Enduro Tumbuhkan Jiwa Wirausaha Siswa Otomotif

Reksa dana campuran yang berisi portofolio saham dan obligasi menawarkan imbal hasil 6–9 persen per tahun dengan risiko sedang. Instrumen ini cocok bagi investor pemula yang ingin mengalahkan inflasi tanpa risiko tinggi.

 

Tabungan dan Deposito Masih Kalah

Sementara bunga deposito kini hanya 3–4 persen per tahun, hampir setara dengan inflasi, namun tidak memberikan margin keuntungan yang signifikan.

“Kita sering merasa aman hanya karena uangnya tidak hilang, padahal nilainya turun perlahan. Aman itu bukan berarti diam aman itu kalau nilainya tetap tumbuh,” tegas Yulianto.

 

Saran untuk Generasi Muda

Yulianto juga menekankan pentingnya edukasi finansial sejak dini agar generasi muda memahami cara kerja uang dan nilai waktu terhadap uang (time value of money).

“Anak muda sekarang harus melek investasi. Jangan tunggu mapan dulu baru berinvestasi. Justru dengan mulai sejak muda, efek bunga berbunga (compound interest) bisa bekerja maksimal,” sarannya.

Ia menambahkan, pemerintah dan lembaga keuangan seharusnya lebih aktif menggalakkan literasi investasi di sekolah dan kampus, agar budaya menabung bisa bergeser menjadi budaya berinvestasi.

“Kalau generasi muda sudah terbiasa menabung produktif melalui instrumen legal seperti SBN, reksa dana, atau saham, maka ketahanan ekonomi nasional juga akan semakin kuat. Investasi bukan hanya soal uang pribadi, tapi juga kontribusi pada pertumbuhan ekonomi,” tutup Yulianto.

BACA JUGA :  Sinergi Arsari Tambang dan Pemkot Pangkalpinang: Dorong Kesejahteraan Warga Lewat Program PPM 2027

 

Komentar Eko Wahyu Pramono: Inflasi Adalah Musuh Senyap

Pandangan senada disampaikan oleh Eko Wahyu Pramono, praktisi hukum sekaligus investor saham, kripto, dan emas, yang menilai bahwa mempelajari dunia investasi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar setiap orang.

“Kita semua punya musuh yang sama, yaitu inflasi. Tanpa disadari, setiap tahun nilai uang terus menurun. Karena itu, memahami dunia investasi bukan gaya hidup, tapi kebutuhan. Siapa yang tidak belajar, dia akan kalah dalam jangka panjang,” ujar Eko.

Eko menekankan pentingnya diversifikasi portofolio dan pemahaman risiko agar masyarakat tidak sekadar ikut tren, terutama dalam aset digital seperti kripto.

“Investasi bukan sekadar ikut-ikutan. Harus paham risiko dan strategi. Tapi yang paling penting, mulai dulu. Karena waktu adalah aset terbesar investor,” tambahnya.

 

Kesimpulan

Secara empiris, saham, reksa dana, SBN, emas, dan properti terbukti memberikan hasil yang mampu mengalahkan inflasi dalam jangka panjang. Sementara tabungan dan deposito hanya cocok untuk dana darurat, bukan untuk membangun kekayaan.

Dengan proyeksi inflasi 2025 di kisaran 2,5 ±1 persen, para analis menilai bahwa tahun ini menjadi momentum tepat bagi generasi muda untuk mulai berinvestasi sejak dini, memperkuat literasi keuangan, dan membangun ketahanan ekonomi individu menghadapi “musuh senyap” bernama inflasi.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Polda Sulsel Gelar Ziarah Rombongan, Teguhkan Semangat Pengabdian di Hari Bhayangkara Ke-80
Siswi SMAIT Darul Fikri Makassar Raih Juara 3 Duta Baca Pelajar 2026
HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Posbankum Jadi Jembatan Keadilan, Bapelkum dan BNN Ajak Warga Lawan Narkoba
Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh
Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Berita ini 365 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:41 WIB

Polda Sulsel Gelar Ziarah Rombongan, Teguhkan Semangat Pengabdian di Hari Bhayangkara Ke-80

Rabu, 24 Juni 2026 - 11:44 WIB

Siswi SMAIT Darul Fikri Makassar Raih Juara 3 Duta Baca Pelajar 2026

Rabu, 24 Juni 2026 - 10:17 WIB

HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal

Rabu, 24 Juni 2026 - 03:03 WIB

Posbankum Jadi Jembatan Keadilan, Bapelkum dan BNN Ajak Warga Lawan Narkoba

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:43 WIB

Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru

Berita Terbaru

Berita Utama

Aliansi Lingkungan Soroti Rencana PT Conch di Barru

Selasa, 23 Jun 2026 - 21:43 WIB