80 Tahun Sumbar: Romantisme Sejarah, Realita Keterlambatan

- Publisher

Rabu, 1 Oktober 2025 - 12:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Padang, 1 Oktober 2025 —
Memasuki usia delapan dekade sejak Republik ini berdiri, Sumatera Barat masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan. Alih-alih berlari mengejar ketertinggalan, kondisi di berbagai sektor justru menunjukkan bahwa Sumbar masih jauh dari kata maju.

Fakta di lapangan memperlihatkan realita pahit:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, dan irigasi masih banyak yang rusak.

BACA JUGA :  Hari Buruh Internasional. Serikat Pekerja PAMA Dan Unit Kerja Site. Bersama Manajemen PAMA BRCB. Penyaluran bantuan berupa 36 paket sembako, 19 paket alat pendidikan

Sektor industri tidak berkembang signifikan, membuat ekonomi daerah bergantung pada sektor konsumsi dan kiriman uang perantau.

Angka pengangguran tinggi karena lapangan kerja tidak tersedia memadai.

Generasi muda terpaksa merantau untuk mencari penghidupan, sementara tanah kelahiran belum mampu memberi peluang.

Maraknya tambang ilegal serta eksploitasi sumber daya tanpa kontrol menambah beban kerusakan lingkungan.

BACA JUGA :  Kritik menghantam Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Rp75 miliar untuk pengadaan, Kendaraan khusus. Sementara jalan dari Rantau Pulung ke Sangatta. gang-gang di pusat kota masih kupak-kapik

Sumatera Barat kerap dibanggakan karena warisan budaya, adat, dan peran sejarahnya dalam republik ini. Namun hingga kini, semua itu belum dikelola menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Romantisme masa lalu tidak cukup jika tidak diikuti dengan langkah pembangunan konkret.

Kami menegaskan, sudah saatnya pemerintah daerah dan pusat berhenti menjadikan Sumbar sekadar simbol budaya. Dibutuhkan roadmap pembangunan jangka panjang yang berpihak pada rakyat: pembangunan infrastruktur yang merata, penciptaan lapangan kerja, keberpihakan pada petani dan nelayan, serta penegakan hukum atas aktivitas tambang ilegal.

BACA JUGA :  Bapelkum Bitung Tingkatkan Kompetensi ASN Hadapi Tantangan Informasi Digital

Jika tidak ada langkah tegas, Sumatera Barat akan terus berada dalam bayang-bayang kejayaan masa lalu, tanpa mampu berdiri sejajar dengan provinsi lain yang lebih maju.

Penulis : Ziqro fernando

Editor : Ziqro fernando

Sumber Berita: Penulis

Berita Terkait

Fajar Ahmad Wahyuddin Diberhentikan, Media Suara Utama Terbitkan Stop Press Resmi
Ketika Hukum Kehilangan “RUH”
Warga Desa Gading Kulon Jadi Korban Sertifikat PRONA 2010 dan PTSL 2018, Terindikasi Cacat Administrasi dan Yuridis, BPN Jadi Sorotan Publik 
Keluhan Warga Soal Dugaan Antrean Solar di Barru
Santunan 28 Anak Yatim Piatu Warnai Peringatan 10 Muharram di Desa Tambang Baru
Polres Barsel Bedah Rumah Warga Keladan
Keadilan Tak Boleh Jauh, Bapelkum Bitung Perkuat Posbankum Desa
Perkuat Deteksi Dini Gangguan Kamtib, Lapas Bangko Gelar Razia Rutin Blok Hunian Warga Binaan
Berita ini 57 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 21:40 WIB

Fajar Ahmad Wahyuddin Diberhentikan, Media Suara Utama Terbitkan Stop Press Resmi

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:23 WIB

Ketika Hukum Kehilangan “RUH”

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:51 WIB

Warga Desa Gading Kulon Jadi Korban Sertifikat PRONA 2010 dan PTSL 2018, Terindikasi Cacat Administrasi dan Yuridis, BPN Jadi Sorotan Publik 

Kamis, 25 Juni 2026 - 21:48 WIB

Keluhan Warga Soal Dugaan Antrean Solar di Barru

Kamis, 25 Juni 2026 - 21:23 WIB

Santunan 28 Anak Yatim Piatu Warnai Peringatan 10 Muharram di Desa Tambang Baru

Berita Terbaru

(Ilustrasi)

Hukum

Ketika Hukum Kehilangan “RUH”

Jumat, 26 Jun 2026 - 14:23 WIB

Hukum

Keluhan Warga Soal Dugaan Antrean Solar di Barru

Kamis, 25 Jun 2026 - 21:48 WIB