Membaca Diskresi dalam Kasus Pelantikan Empat Kepala Desa di Halsel

- Publisher

Kamis, 25 September 2025 - 16:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Irfandi Kamarullah., S.H (Alumni Fakultas Hukum UMMU) 

Pernah Aktif di Komunitas Menulis Independensia Ternate

Oleh: Irfandi Kamarullah., S.H (Alumni Fakultas Hukum UMMU)  Pernah Aktif di Komunitas Menulis Independensia Ternate

Di aula bupati, bendera merah putih berkibar setengah hati. Empat orang berdiri. Mengucap sumpah. Menggenggam janji. tapi di luar ruangan orang-orang sibuk dengan tanya.

“Bukankah PTUN Ambon sudah membatalkan pemilihan empat kepala desa itu? Lalu kenapa pelantikan tetap jalan?” (Putusan PTUN Ambon No. 131/G/2022-2023/PTUN.ABN).

Pertanyaan itu lahir dari warung kopi, dari emperan toko, dari obrolan WhatsApp grup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apa jawaban pemerintah? Satu kata yang selalu dipakai seperti obat manjur serba guna: diskresi.

Saya ingat ucapan S. Prajudi Atmosudirjo. Diskresi, tulisnya, adalah kebebasan seorang pejabat bertindak saat hukum tidak memberi jalan keluar. Sebuah jembatan darurat di ujung jalan buntu (Atmosudirjo, Jurnal Sasi, Vol. 23 No. 3, 2017).

Tapi bukankah jalan buntu kali ini sudah ada pintu keluar? Namanya: putusan PTUN Ambon yang terang-benderang membatalkan pemilihan empat kepala desa itu.

Maka, pertanyaan menggelayut: apakah diskresi ini masih jembatan darurat? Ataukah sebenarnya jalan tikus?

BACA JUGA :  Menjadi Manusia yang Bermanfaat dan Berjiwa Penolong

Sjachran Basah sudah lama mengingatkan. Diskresi katanya, hanya boleh digunakan untuk kepentingan umum, dan yang lebih penting: tidak boleh bertentangan dengan hukum (Basah, Hukum Administrasi Negara, 1995). Kalau sampai menabrak putusan pengadilan, itu bukan diskresi. Itu akal-akalan. Itu alasan yang dipoles agar tampak legal.

Dan di sinilah kita perlu mengingat hierarki paling sederhana dalam hukum administrasi negara: putusan pengadilan lebih tinggi daripada keputusan seorang bupati. Putusan PTUN adalah produk yudikatif yang memiliki kekuatan mengikat (res judicata pro veritate habetur “putusan hakim harus dianggap benar”). Sedangkan keputusan bupati hanyalah produk eksekutif yang posisinya bisa dibatalkan.

Dengan kata lain, ketika PTUN Ambon lewat Putusan Nomor 131/G/2022-2023/PTUN.ABN menyatakan pemilihan empat kepala desa itu batal, maka secara hukum, dasar bagi bupati untuk melantik sudah runtuh. Dalam literatur hukum, Philipus M. Hadjon menulis bahwa putusan pengadilan memiliki kekuatan mengikat dan memaksa pejabat administrasi untuk tunduk (Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, 2005). Maka, pelantikan empat kepala desa itu bukan sekadar pelanggaran etik, tapi bisa dibaca sebagai bentuk contempt of court – pengabaian terhadap otoritas pengadilan.

BACA JUGA :  Peneliti PBA FBS Universitas Negeri Jakarta Kembangkan Modul Digital Interaktif Berbasis AI untuk Pembelajaran Berbicara Bahasa Arab

Namun pemerintah Halsel punya jawabannya sendiri. Kepala Dinas DPMD, M. Zaki, kepada media mengatakan bahwa pelantikan empat kepala desa ini dilakukan setelah pertimbangan matang. Menurutnya, bupati memang punya kewenangan melantik demi mencegah roda pemerintahan desa macet (tampilNews.com, 9 September 2025).

Lalu kita bertanya: apakah “roda pemerintahan” bisa digerakkan dengan melindas putusan pengadilan?

Saya masih ingat suasana warung kopi Hotel Palm 2, seminggu setelah pelantikan. Meja plastik berlapis noda kopi dipenuhi percakapan getir. Seorang aktivis Gerakan Pemuda Marhaenisme (GPM), Harmain Rusli, melempar kalimat yang pedas:

“Kalau putusan pengadilan bisa diabaikan begitu saja, untuk apa lagi ada pengadilan?” (Wawancara penulis dengan Armain Rusli, Labuha, 16 September 2025).

Kalimat itu menancap. Membakar. Membuat saya resah. Karena hukum, bagi saya, adalah pagar terakhir. Kalau pagar itu bisa dilompati seenaknya dengan dalih diskresi, maka yang tersisa hanyalah hutan rimba bernama kekuasaan.

BACA JUGA :  Krisis Integritas dalam Negara Hukum

Empat kepala desa itu memang sudah dilantik dengan gegap gempita. Tapi di balik gegap gempita, ada getir yang menetes. Ada rasa malu yang diam-diam tumbuh di dada warga. Karena kepala desa bukan sekadar pejabat administratif. Ia adalah wajah negara yang paling dekat. Pemimpin yang harus lahir dari proses sahih, bukan dari jalan tikus.

Diskresi, mestinya, untuk rakyat. Untuk melindungi mereka. Tapi di Halsel, ia lebih mirip senjata politik. Dipakai untuk mempertahankan pengaruh, untuk menegakkan ego, untuk menutup mata dari putusan hukum.

Dan akhirnya, pertanyaan itu kembali bergaung: diskresi ini untuk siapa? Untuk rakyat, atau untuk kekuasaan?

Sejarah mungkin kelak menjawab. Tapi hari ini, di Negeri Saruma yang lembab, jawaban itu masih samar. Masih menguap di antara asap rokok dan kopi.

Penulis : Irfandi Kamarullah., S.H

Editor : Admin Suarautama.id

Berita Terkait

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah
“Quo Vadis” UU Perampasan Asset
Krisis Integritas dalam Negara Hukum
Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami
KKN UMAHA Hadir untuk UMKM Desa KarangTanjung melalui Pendampingan Penerbitan NIB
Tambang PT MTN Makin Dekat dengan Rumah Warga, 100 KK Palayo Mengeluh: Sosialisasi Dipertanyakan, Manajemen Bungkam ‎
Mubeslub Ormawa UT Surabaya Bahas dan Tetapkan AD/ART sebagai Landasan Organisasi Mahasiswa
OD Summit 2026 Dorong Pemimpin Organisasi Menemukan Arah Baru di Tengah Perubahan
Berita ini 163 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 21:11 WIB

Jangan Sekadar Menjadi Anggota, Mari Menjadi Pelaku Sejarah

Kamis, 10 September 2026 - 15:16 WIB

“Quo Vadis” UU Perampasan Asset

Kamis, 3 September 2026 - 12:19 WIB

Krisis Integritas dalam Negara Hukum

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:50 WIB

Kapan Karyawan Boleh Di-PHK Karena Mangkir? Ini Aturannya yang Sering Disalahpahami

Minggu, 16 Agustus 2026 - 17:28 WIB

KKN UMAHA Hadir untuk UMKM Desa KarangTanjung melalui Pendampingan Penerbitan NIB

Berita Terbaru

https://mancingjitu.com/