Perjuangan dalam Pengkaderan: Menjadi Kader Bukan Sekadar Seragam dan Salam

- Publisher

Kamis, 1 Mei 2025 - 19:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO : Dr. Ilham Akbar, M.Si ketua Mudzakarah Suara Utama dan Andre Hariyanto, CT.ALC Pemimpin Redaksi Suara Utama

FOTO : Dr. Ilham Akbar, M.Si ketua Mudzakarah Suara Utama dan Andre Hariyanto, CT.ALC Pemimpin Redaksi Suara Utama

Oleh: Andre Hariyanto, CT.ALC, CFNLP, CLMA, CSTMI, Humas Pesantren Bisnis Indonesia Korda Malang Raya, Jawa Timur

SUARA UTAMA Pengkaderan bukan hanya proses formalitas yang diwarnai serangkaian pelatihan, diskusi, dan rutinitas organisasi. Ia adalah perjalanan panjang yang melibatkan jiwa dan raga, mental dan spiritual, serta idealisme dan realita. Dalam pengkaderan, seseorang tidak hanya dibentuk menjadi anggota—tetapi menjadi pribadi yang tahan banting, berpemikiran kritis, dan siap memikul tanggung jawab besar bagi bangsa dan umat.

Melewati Batas Nyaman

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setiap kader sejati pasti pernah merasa lelah, bahkan ingin menyerah. Mulai dari harus bangun pagi untuk agenda kegiatan, menghafal materi ideologi, hingga tugas-tugas organisasi yang tak kenal waktu. Semua itu bukan sekadar beban, tetapi ujian kesungguhan.

BACA JUGA :  Upah Rp10 Juta Belum Dibayar 8 Bulan, Pekerja Proyek RSUD Mayjen H.A. Thalib Minta Kepastian

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim)

Pengkaderan dengan sendirinya akan memaksa kita keluar dari zona nyaman—membuang ego, belajar menerima kritik, dan menata diri dengan disiplin yang kadang terasa menyiksa.

Dari Fisik ke Nurani

Pengkaderan yang baik bukan hanya melatih fisik, tapi juga membentuk nurani. Dalam dinamika forum-forum kaderisasi, seseorang ditempa untuk berpikir jernih di tengah tekanan, menyuarakan pendapat dengan adab, dan belajar mendengar dengan hati. Proses ini bisa jadi tidak instan—tetapi mereka yang menjalaninya dengan ikhlas akan merasakan buahnya: kedewasaan dalam berpikir dan kematangan dalam bersikap.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”

BACA JUGA :  Razia Gabungan Lapas Bangko Bersama TNI-Polri, Petugas dan WBP Jalani Tes Urine

(HR. Muslim)

Kesetiaan pada Nilai, Bukan pada Figur

Perjuangan kader tidak boleh berhenti pada kekaguman terhadap sosok atau senioritas semata. Loyalitas sejati dalam pengkaderan adalah pada nilai, pada prinsip yang diperjuangkan. Kader yang matang adalah mereka yang tetap tegak meski tokoh panutannya pergi, yang tetap berjalan meski jalannya sunyi.

“Kebenaran itu tidak dikenal dari siapa yang mengatakannya, tetapi dikenal dari isinya.”

– Imam Syafi’i

Karena mereka paham: yang diperjuangkan bukan manusia, tapi perubahan.

Kader Bukan Produk, Tapi Proses

Kesalahan besar dalam memandang pengkaderan adalah menganggap kader sebagai produk jadi. Padahal, kader adalah proses. Ia akan terus belajar, terus berbenah, dan terus memperbaiki diri. Bahkan setelah dilantik, diangkat menjadi pengurus, atau menduduki jabatan tinggi, proses pengkaderan sejatinya masih terus berjalan.

BACA JUGA :  Maba UNILA Diduga Dihalangi Menjalankan Salat, Masyarakat Minta Panitia Dievaluasi

“Jadilah seperti pohon yang jika dilempari batu, ia membalas dengan buah.”

– Ali bin Abi Thalib

Karena menjadi kader bukan status—melainkan komitmen hidup.

Kader Itu Pejuang

Perjuangan dalam pengkaderan memang berat, melelahkan, dan kadang membuat frustrasi. Tapi justru di situlah nilai sejatinya. Dari keringat, air mata, dan pengorbanan itulah lahir pemimpin sejati—yang tidak hanya cakap, tetapi juga berjiwa besar.

“Sesungguhnya pertolongan itu bersama kesabaran, dan jalan keluar bersama kesempitan.”

(HR. Tirmidzi)

Maka jika kau sedang berada di titik lelah dalam pengkaderan, jangan berhenti. Karena di balik semua itu, ada versi terbaik dirimu yang sedang dibentuk.

Penulis : Andre Hariyanto

Editor : Aisyah Putri Widodo

Sumber Berita: Redaksi Suara Utama

Berita Terkait

Mendekatkan Buku Kepada Pembacanya
Razia Gabungan Lapas Bangko Bersama TNI-Polri, Petugas dan WBP Jalani Tes Urine
Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk
Pemimpin Redaksi Suara Utama Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam UKW bersama KG Media
UKW Kompas, KG Media dan Google Digelar di Surabaya, Diikuti 45 Peserta
Alhamdulillah, Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam Uji Kompetensi Wartawan
Team Ngorek Audio: Sebaiknya Volume Sound Horeg Sewajarnya
Mutasi Polda Jambi, Iptu Dimas Wahyu Dipercaya Isi Posisi PS Kasat Reskrim Polres Merangin
Berita ini 119 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 20:25 WIB

Mendekatkan Buku Kepada Pembacanya

Selasa, 22 September 2026 - 14:12 WIB

Razia Gabungan Lapas Bangko Bersama TNI-Polri, Petugas dan WBP Jalani Tes Urine

Senin, 21 September 2026 - 22:38 WIB

Wartawan Wajib Taat Pasal 1 KEJ: Independen dan Tanpa Itikad Buruk

Senin, 21 September 2026 - 21:28 WIB

Pemimpin Redaksi Suara Utama Andre Hariyanto Dinyatakan Kompeten dalam UKW bersama KG Media

Minggu, 20 September 2026 - 00:50 WIB

UKW Kompas, KG Media dan Google Digelar di Surabaya, Diikuti 45 Peserta

Berita Terbaru

FOTO: Penulis Mendekatkan Buku kepada Pembacanya

Berita Utama

Mendekatkan Buku Kepada Pembacanya

Selasa, 22 Sep 2026 - 20:25 WIB

https://mancingjitu.com/