Spirit Fiskal dan Etika Penegakan Pajak

Selasa, 11 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Spirit Fiskal dan Etika Penegakan Pajak menampilkan sosok bergaya klasik yang melambangkan kebijaksanaan dan keadilan

Ilustrasi Spirit Fiskal dan Etika Penegakan Pajak menampilkan sosok bergaya klasik yang melambangkan kebijaksanaan dan keadilan

SUARA UTAMA – Surabaya, 11 November 2025 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyerukan agar seluruh aparatur Direktorat Jenderal Pajak (DJP) tetap bersemangat mengejar target penerimaan pajak tahun 2025 sebesar Rp 2.189,3 triliun. Seruan tersebut disampaikan melalui akun resmi Kementerian Keuangan sebagai bentuk dorongan moral bagi petugas pajak di tengah tantangan ekonomi global.

“Teman pajak jangan putus asa, target pasti tercapai. Kita tetap usahakan seoptimal mungkin penerimaan pajak,” tulis Purbaya dalam unggahannya.
“Tetap jaga integritas. Jangan lupa berikan senyum kepada wajib pajak agar mereka juga tersenyum saat membayar pajak,” tambahnya.

Pesan tersebut menggambarkan semangat fiskal pemerintah untuk mempertahankan stabilitas penerimaan negara melalui peningkatan kinerja aparatur pajak. Namun, di sisi lain, muncul pula dorongan agar semangat tersebut tidak menggeser nilai etika dan keadilan dalam praktik penegakan pajak di lapangan.

 

Etika dalam Penegakan Pajak

Anggota Ikatan Wajib Pajak Indonesia (IWPI) sekaligus pemegang Izin Kuasa Hukum (IKH) Pengadilan Pajak, Eko Wahyu Pramono, S.Ak., menilai semangat fiskus harus tetap dibingkai oleh etika penegakan pajak yang berkeadilan.

“Kalau memang mau penegakan pajak, jangan wajib pajak itu-itu saja yang ditarget. Mereka sudah patuh, sudah bayar, tapi masih dicari-cari. Kalau dicari terus ya pasti ketemu. Bahkan yang sudah rapi pun kalau digali terus, ketemu juga,” ujarnya.

Menurut Eko, pendekatan pemeriksaan yang terlalu menekan dapat menimbulkan ketidakpastian dan mengganggu stabilitas dunia usaha. Ia menegaskan bahwa semangat fiskal seharusnya diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepatuhan sukarela, bukan sekadar mencari potensi tambahan secara agresif.

BACA JUGA :  Api Mengamuk di Padang Mala Sera, Tak Kunjung Padam Sejak Siang

“Spiritnya adalah kita sama-sama membayar pajak sesuai kemampuan. Kalau sudah di-assess oleh fiskus dan dianggap wajar, ya sudah. Jangan sampai pemeriksaan terlalu dalam membuat bisnis goyah atau industri collapse,” tambahnya.

 

Keadilan Fiskal sebagai Pilar Kepatuhan

Dalam konteks negara hukum, etika penegakan pajak harus berlandaskan pada prinsip kepastian hukum, keadilan, dan proporsionalitas. Pemeriksaan pajak bukan sekadar instrumen fiskal, tetapi juga mekanisme untuk membina dan melindungi kepercayaan publik terhadap otoritas pajak.
Eko mengingatkan, dalam asas hukum pembuktian dikenal prinsip actori incumbit onus probandi siapa yang menuduh, dialah yang wajib membuktikan. Prinsip ini menegaskan bahwa pemeriksa pajak tidak boleh berangkat dari asumsi kesalahan, melainkan dari data dan fakta.

 

Menjaga Spirit Fiskal dengan Nurani

Pernyataan Menkeu Purbaya dan pandangan IWPI pada dasarnya berpijak pada semangat yang sama: menjaga keberlanjutan fiskal nasional. Namun, keseimbangan antara target dan etika menjadi kunci agar penegakan pajak tidak kehilangan dimensi kemanusiaannya.
Penegakan pajak yang adil akan memperkuat kepercayaan publik, meningkatkan kepatuhan sukarela, dan menjamin stabilitas ekonomi jangka panjang.

 

Kesimpulan

Spirit fiskal tanpa etika penegakan berisiko berubah menjadi tekanan. Sebaliknya, etika tanpa semangat fiskal dapat menimbulkan kelambanan dalam reformasi.
Keduanya harus berjalan beriringan: fiskus yang berintegritas, wajib pajak yang kooperatif, dan sistem yang adil.
Hanya dengan keseimbangan itulah, pajak dapat menjadi instrumen keadilan sosial bukan sekadar alat pemungutan.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita : Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Integritas dan Akuntabilitas BK DPRD Kab. Probolinggo Sedang di Uji Publik, Perihal Pemeriksaan Prank Ulang Tahun 
Baru Selesai Dibangun Sudah Banyak Keretakan Proyek Jalan Parit 13 Rt 07 Dusun Bahagia, Desa Tungkal 1 Pangkal Babu
Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf
Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka
AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026
Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:14

Integritas dan Akuntabilitas BK DPRD Kab. Probolinggo Sedang di Uji Publik, Perihal Pemeriksaan Prank Ulang Tahun 

Jumat, 6 Februari 2026 - 23:22

Baru Selesai Dibangun Sudah Banyak Keretakan Proyek Jalan Parit 13 Rt 07 Dusun Bahagia, Desa Tungkal 1 Pangkal Babu

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:40

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:04

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:15

AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:13

Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Berita Terbaru