Self Assessment dan Ilusi Kemandirian Fiskal

Selasa, 5 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Eko Wahyu Pramono – Anggota IWPI

SUARA UTAMA – Jakarta, 5 Agustus 2025 – Selama lebih dari empat dekade, Indonesia setia pada sistem self assessment dalam pemungutan pajak. Negara menyerahkan penuh tanggung jawab perpajakan kepada rakyatnya: menghitung sendiri, menyetor sendiri, melapor sendiri. Di atas kertas, ini tampak sebagai bentuk kepercayaan. Di realitas lapangan, sistem ini tak ubahnya ladang jebakan administratif yang sunyi, rumit, dan membahayakan siapa pun yang tidak cukup paham.

Saya tidak berbicara dari ruang seminar atau meja riset. Saya berbicara dari ruang konsultasi yang hampir setiap hari menjadi tempat curhat warga biasa yang stres menghadapi sistem ini. Pedagang kecil, sopir online, guru honorer, ibu rumah tangga yang buka usaha dari dapur  mereka datang bukan karena ingin lari dari pajak, tetapi karena tidak tahu lagi bagaimana cara bertahan dari tekanan sistem yang membingungkan ini.

Mereka bukan pelaku penghindaran pajak. Mereka hanya rakyat biasa yang hidup dalam bayang-bayang SP2DK, takut salah klik di e-filing, takut dikejar karena tidak tahu istilah teknis perpajakan yang terus berubah. Ironisnya, yang seharusnya merasa aman justru merasa dihantui.

 

Self Assessment: Sistem yang Dibangun di Atas Asumsi, Bukan Realita

Masalah utama dari self assessment adalah kepercayaannya yang naif: bahwa semua warga negara adalah “mini akuntan” yang paham Undang-Undang Pajak, mampu membaca PMK terbaru, dan siap mengisi SPT tanpa kesalahan. Ini adalah ilusi birokrasi yang tidak berpijak pada kenyataan sosial.

Kesadaran pajak itu penting, iya. Tapi kesadaran tanpa pemahaman justru menciptakan ketaatan semu yang rapuh. Kita menyuruh rakyat patuh, tapi tak memberi alat bantu yang layak. Kita memaksa rakyat cerdas pajak, tapi membiarkan mereka tenggelam dalam istilah teknis, kode akun, dan regulasi yang sulit dimengerti bahkan oleh mahasiswa perpajakan.

Dan ketika rakyat keliru? Negara hadir bukan untuk mendampingi, tapi menginterogasi. Bukan menanyakan, “Apa yang membuatmu bingung?” tapi langsung mengirimkan SP2DK. Sistem ini bukan membangun kepatuhan, tapi menanamkan rasa takut sistem yang tidak memanusiakan.

 

“Pak, Kalau Negara Sudah Tahu, Hitungin Aja…”

Saya ingat benar, satu klien saya seorang ibu rumah tangga yang memproduksi daging olahan dari rumah menerima surat klarifikasi karena rekeningnya terlihat aktif. Padahal, banyak transaksi hanyalah uang keluar masuk dari pelanggan yang berubah pikiran, pesanan dibatalkan, atau uang arisan keluarga. Dia menangis sambil berkata:

BACA JUGA :  Dibuka Ketua Dewan Penasehat DPP, Rapimnas Putuskan PJS Mendaftar Konstituen Dewan Pers

“Pak, kalau negara sudah bisa lihat semua data saya, kenapa nggak sekalian hitung aja? Saya tinggal bayar. Kenapa harus dibikin serumit ini?”

Itu bukan keluhan teknis. Itu teriakan minta tolong dari rakyat biasa yang kewalahan menghadapi sistem yang mestinya membantu, bukan menjerat.

 

Tinggalkan Ilusi Kemandirian, Bangun Sistem yang Berkeadilan

Sudahi glorifikasi sistem self assessment seolah-olah itu simbol kemajuan fiskal. Faktanya, banyak negara yang kini justru mempermudah warganya dengan sistem pre-filled tax atau digital official assessment di mana sistem yang sudah terintegrasi cukup mengirim notifikasi: “Pajak Anda sekian. Silakan cek dan bayar.” Selesai.

Indonesia tidak kekurangan data. Kita punya NIK yang terkoneksi ke rekening, e-commerce, sistem pembayaran digital, laporan e-faktur, hingga data aset. Kita tidak kekurangan alat. Yang kita kekurangan adalah keberanian untuk mengubah pendekatan dari “negara mengawasi rakyat,” menjadi “negara membantu rakyat memenuhi kewajibannya dengan tenang dan jelas.”

 

Pajak yang Adil Bukan yang Dibiarkan Bebas, Tapi yang Dikelola dengan Tanggung Jawab

Sebagai praktisi pajak, saya akan jauh lebih bahagia jika bisa mendampingi wajib pajak membayar pajak dengan damai daripada melihat mereka hidup dalam kegamangan administratif yang tidak mereka mengerti. Self assessment hanya berhasil bagi segelintir kalangan elit informasi. Bagi jutaan rakyat lainnya, ini sistem yang mengintimidasi diam-diam.

Kita tidak butuh sistem yang hanya tampak demokratis, tapi membiarkan rakyat kecil tersandung dalam diam. Kita butuh sistem yang jelas, presisi, dan melindungi. Pajak yang adil bukan yang diserahkan sepenuhnya kepada rakyat tanpa alat bantu, tapi yang dikelola oleh negara dengan data, logika, dan hati nurani.

Sudahi self assessment. Bangun sistem perpajakan yang berpihak pada kejelasan, bukan kerumitan. Pajak tidak hanya soal penerimaan negara. Pajak adalah soal kepercayaan. Dan kepercayaan, lahir dari kejelasan, bukan dari kebingungan.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita : Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf
Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka
AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026
Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:40

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:04

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:15

AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Berita Terbaru