Ramadhan ke Idul Fitri, perjalanan pulang ke kampung batin

Senin, 2 Mei 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARA UTAMA Ramadhan usai sudah. Halte ilahiah yang diperuntukkan refleksi,dan juga untuk merangkum peluang dan isyarat sejarah serta ayat agama, rampung sudah. Semoga refleksi ibadah dan spirit Islam kita dapat dalam sebulan kita dilatih untuk menjadi generasi Rabbaniyah. Yaitu generasi yang mempunyai kesiapan dan kerelaan hanya untuk Allah dan menegakkan ayat-ayat-Nya.

Foto: Pamflet poster kesempatan bergabung menjadi Penulis dan Jurnalis di Media Suara Utama ID/Mas Andre Hariyanto
Foto: Pamflet poster kesempatan bergabung menjadi Penulis dan Jurnalis di Media Suara Utama ID/Mas Andre Hariyanto

Semoga pula, hasil yang disemai dari taman Ramadhan bisa memberi napas cinta dan sekaligus memberi watak dan nilai Islam yang lekat dengan teduh damai dalam keseharian kita sampai kelak saat ajal menjelang.

Baca juga: Tak mesti mewah untuk kembali Fitri

Bukankah Ramadhan adalah saat kita membasuh kembali wajah sejarah kita yang penuh debu? Menanggalkan waktu kita yang penuh daki dan dengki. Ramadhan adalah saat jarak terentang secara seimbang antara keinginan dan kewajiban agar hidup terbiasa menemukan mizan keadilan-Nya. Bukankah yang namanya keinginan seringkali merupakan hasrat yang lekat dengan ketidakpuasan? Dan seringkali ketidakpuasan yang tidak diberi ruang dengan bijak merupakan pintu dari datangnya keserakahan. Ruang waktu kita terlalu sibuk dan bising. Penuh dengan perhitungan untung rugi dari transaksi duniawi.

Di tengah keramaian yang sibuk, saat langkah tergesa gesa, berlomba mengejar ambisi yang terus berlari, kita tidak sedikitpun menyediakan jeda untuk merenung atau menata kembali langkah yang mungkin salah arah.

Padahal Allah swt telah menyediakan desain ruang dan waktu yang sangat jenius dimana keseimbangan (mizan) adalah ruhnya, keseharian kita yang dibatasi oleh lima waktu untuk intim, akrab dan mesra dalam mencumbui segala nikmat-Nya. Dan dari tahun ke tahun dalam sekalinya kita diberi halte dimana seluruh potensi kita luluhkan untuk mencari keseimbangan lahir dan batin baik itu potensi nafsu maupun kalbu.

Baca juga: Tax Basic Training Experience During a Pandemic at AR Learning Center

Ramadhan adalah isyarat betapa kita rentan dan lemah juga sekaligus menunjukan betapa kita bisa menjadi lebih mulia, disaat kita bisa menangkap isyarat ayat untuk berbagi dengan si lemah (sedekah dan zakat), lebih bisa menjaga jarak dengan ambisi, agar tidak serakah dan lebih menghayati segala ibadah kita, baik di ranah sosial kita maupun di ranah batin kita. Dengan tarawih, kita rapatkan barisan sholat dan menikmati indahnya persaudaraan dan kebersamaan yang didasari oleh keimanan.

BACA JUGA :  Inisiatif TP-PKK, Pembagian Takjil Gratis di Kampung Bumi Dipasena Agung, Lampung

Dengan tadarus kita mengetuk setiap relung hati hamba Allah, berharap untuk intim dan mesra dengan-Nya. Semua potensi Rabbaniyah yang lekat dalam bulan Ramadhan itu merupakan instrument yang kekal untuk mengumrohkan dan mabrur hakikat kemanusiaan kita. Tetapi kita selalu dihinggapi lupa dan khilaf. Terlalu sibuk dan terburu buru.

Banyak diantara kita yang tidak bisa dan gagal meletakkan hakikat bulan Ramadhan sebagai peluang dan kesempatan sebuah perjalanan menjemput kembali fitrah kita sebagai manusia yang bersih dan suci dan daki dan polusi duniawi. Sebagai manusia biasa, fitrah keterbatasan adalah milik kita. Banyak pula diantara kita yang selalu berkubang pada titik lupa dan khilaf. Selalu lupa akan hakikat jalan pulang, dan sombong karena sedikit kekuasaan dan jabatan. Selalu kurang atas nikmat-Nya, serakah dan amarah.

Baca juga: Founder AR-LC, Andre Hariyanto Sebut AR Learning Center dan YPPN DIY Hanya Wadah Perjuangan dan Pengkaderan, Selebihnya Kembangkan !!

Kini Ramadhan usai sudah. Ramadhan telah menemui batasnya, saat senja di ambang Maghrib yang penuh dengan gema takbir. Seiring gema takbir mari kita luluhkan seluruh sifat kasar kita dalam titik kesadaran primordial (asal muasal) kita di hadapan kebesaran-Nya. Semoga ldul Fitri yang kita jelang, bukan sebatas konsumtif ataupun sebatas fragmen budaya yang meriah. Tidak pula sebatas kisah berdesak desakan saat mudik.
Ataupun nikmat makan ketupat, opor ayam dan pamer baju baru. Idul Fitri menuju kampung batin, dimana dengan nikmat-Nya menikmati kemenangan besar melawan hawa nafsu dan godaan di tengah kehidupan.

Selamat lebaran saudaraku, semoga lebaran kali ini kita bisa meletakkan makna dari sebuah perjalanan rohani kita untuk kembali ke fitrah kita sebagai hamba-Nya, Amiin.

Minal Aidin Wal faizin

Mohon maaf lahir dan batin

Berita Terkait

Komunitas Muslimah Mulia Tanggamus Gelar Kajian Rezeki, Berbagi Kepedulian di RSUD Batin Mangunang
Eksorsisme atau Skizofrenia? Mengurai Ambiguitas Kerasukan dalam Perspektif Medis dan Teologis
Majelis Ilmu Sipakalebbi Bersama KKSS dan IWSS Kab. Timor Tengah Selatan
Kritikan Terhadap Kinerja BGN: Desakan Transparansi, Efisiensi, dan Keterlibatan Generasi Muda
Pemprov Sumbar Dorong Kendaraan Perusahaan Gunakan Plat BA Tambahan PAD Diproyeksikan Capai Ratusan Miliar Rupiah per Tahun
Filsafat Hukum: Antara Keadilan, Positivisme, dan Realitas di Indonesia
Pasal 1313 dan 1320 KUHPerdata: Beda Janji Moral dan Perjanjian Hukum
Saatnya Deklarasi Ekonomi Rakyat: Soemitronomics di Bawah Komando Prabowo

Berita Terkait

Sabtu, 17 Januari 2026 - 21:13

Komunitas Muslimah Mulia Tanggamus Gelar Kajian Rezeki, Berbagi Kepedulian di RSUD Batin Mangunang

Sabtu, 8 November 2025 - 21:28

Eksorsisme atau Skizofrenia? Mengurai Ambiguitas Kerasukan dalam Perspektif Medis dan Teologis

Senin, 29 September 2025 - 08:11

Majelis Ilmu Sipakalebbi Bersama KKSS dan IWSS Kab. Timor Tengah Selatan

Sabtu, 27 September 2025 - 08:14

Kritikan Terhadap Kinerja BGN: Desakan Transparansi, Efisiensi, dan Keterlibatan Generasi Muda

Kamis, 25 September 2025 - 02:39

Pemprov Sumbar Dorong Kendaraan Perusahaan Gunakan Plat BA Tambahan PAD Diproyeksikan Capai Ratusan Miliar Rupiah per Tahun

Selasa, 23 September 2025 - 20:18

Filsafat Hukum: Antara Keadilan, Positivisme, dan Realitas di Indonesia

Selasa, 23 September 2025 - 19:54

Pasal 1313 dan 1320 KUHPerdata: Beda Janji Moral dan Perjanjian Hukum

Sabtu, 20 September 2025 - 14:21

Saatnya Deklarasi Ekonomi Rakyat: Soemitronomics di Bawah Komando Prabowo

Berita Terbaru