Ketegaran Cinta: Perjuangan Seorang Istri Mendampingi Suami Melawan Stroke di Usia Senja

- Publisher

Sabtu, 16 November 2024 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumentasi saat terapi dilaut bersama Istrinya daeng Situju

Dokumentasi saat terapi dilaut bersama Istrinya daeng Situju

SUARA UTAMA, Gowa – Cinta sejati sering kali diuji di saat-saat tersulit. Hal ini dialami oleh Hj. Masriyah (63), seorang pensiunan guru, yang dengan penuh kesetiaan mendampingi suaminya, Daeng Situju (68), seorang pensiunan staf pendidikan, saat ia berjuang melawan stroke di usia senja.

Kisah ini bermula pada suatu subuh yang tampaknya biasa saja. Setelah menunaikan salat tahajjud, Daeng Situju tiba-tiba kehilangan suara. Meski masih bisa berjalan dan tidak ada tanda fisik yang mencurigakan, perubahan ini membuat keluarganya khawatir. Bahkan, pagi harinya ia sempat ke kebun untuk memetik kacang seperti biasa. Namun, ketika adzan subuh berkumandang, ia tidak pergi ke masjid seperti kebiasaannya selama ini. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar bagi keluarganya.

Dokumentasi daeng situju saat akan dibawa kerumah sakit Jeneponto
Dokumentasi daeng situju saat akan dibawa kerumah sakit Jeneponto

Kondisinya semakin mengkhawatirkan menjelang sore. Sekitar pukul 17.00, Hj. Masriyah memutuskan untuk membawanya ke RSUD Lanto Daeng Pasewang. Saat itu, Daeng Situju masih bisa berjalan sendiri, masuk dan keluar kamar mandi, dan melakukan beberapa aktivitas ringan. Namun, dua hari kemudian, kondisinya memburuk. Tangan kanannya tidak bisa digerakkan, dan kelumpuhan mulai menjalar hingga ke kakinya. Dokter memberikan obat-obatan dan terapi untuk membantunya. Setelah seminggu dirawat, ia dipulangkan untuk melanjutkan pemulihan di rumah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di rumah, Hj. Masriyah mulai menunjukkan pengabdian luar biasa. Meski dirinya juga sering merasa kurang sehat, ia tak henti-hentinya merawat Daeng Situju. Setiap kebutuhan sang suami ia penuhi dengan sabar, mulai dari makanan hingga kebersihan pribadinya. Atas saran keluarga, pasangan ini kemudian sepakat untuk melanjutkan pengobatan ke rumah sakit khusus saraf di Makassar.

Dokumentasi saat berada di Rumah Sakit Makassar
Dokumentasi saat berada di Rumah Sakit Makassar

Perjuangan mereka di Makassar berlangsung selama tujuh hari. Dalam masa perawatan ini, Daeng Situju mulai menunjukkan sedikit kemajuan. Ia mampu menggerakkan kaki kanannya kembali. Meski hasilnya tidak instan, Hj. Masriyah tetap berada di sisinya setiap saat, memberikan semangat tanpa henti. Setelah diperbolehkan rawat jalan, mereka sempat mencoba pengobatan alternatif berupa bekam dan ruqyah di rumah anak mereka di Gowa. Namun, karena Daeng Situju mulai merasakan sakit, terapi tersebut dihentikan.

BACA JUGA :  Pakopak Angkat Bicara, Diduga Ada Praktek Pungli Saat Penyaluran Insentif Guru Ngaji Wilayah Kecamatan Tegalsiwalan 

Perjuangan mereka berlanjut di Jeneponto, tepatnya di rumah anaknya, Daeng Kanang. Di sana, Daeng Situju menjalani pengobatan tradisional yang dikombinasikan dengan terapi medis dari rumah sakit. Setelah dua minggu, ia mulai menunjukkan kemajuan signifikan, seperti mampu berdiri dan berjalan dengan tegak. Namun, pengobatan ini membuat mereka harus bolak-balik antara Jeneponto dan Makassar,  Hj. Masriyah setia mendampinginya tanpa keluhan.

Kondisi Daeng Situju yang sangat bergantung pada istrinya membuat hubungan mereka semakin erat. Anak-anak mereka akhirnya memutuskan agar fokus berobat di Makassar. Di sana, selain menjalani terapi di rumah sakit, ia juga mencoba terapi akupunktur di sebuah klinik khusus. Tidak hanya itu, mereka mengikuti saran untuk menjalani terapi laut, yang dilakukan dua kali dalam seminggu.

Dokuntasi saat menunggu antrian di Klinik Terapi Akupuntur Makassar
Dokuntasi saat menunggu antrian di Klinik Terapi Akupuntur Makassar

Lebih dari dua bulan perjuangan, hasilnya mulai terlihat. Kini, Daeng Situju mampu berdiri dan berjalan sendiri, meskipun masih menggunakan alat bantu. Semangat Hj. Masriyah yang tak pernah surut menjadi kunci dalam proses pemulihan ini.

Kisah ini menjadi teladan tentang kekuatan cinta dan pengorbanan di usia senja. Hj. Masriyah membuktikan bahwa cinta sejati adalah tentang kesetiaan dan pengorbanan tanpa batas, bahkan di saat-saat tersulit dalam hidup. Di tengah perjuangan ini, mereka terus berharap dan berdoa agar kesehatan Daeng Situju terus membaik.

Pada beberapa hari penulis besama dengan keluarga tersebut hingga menyaksikan secara langsung tentang sebuah perjuangan cinta tanpa batas..

Beberapa point yang penulis ambil kisah dari perjuagan  tersebut adalah…

  1. Kesetiaan dalam Ujian Hidup
    Hj. Masriyah menunjukkan bahwa cinta sejati tidak hanya hadir dalam kebahagiaan, tetapi juga dalam masa-masa sulit. Kesetiaannya merawat suami tanpa pamrih menjadi pelajaran tentang arti mendalam dari komitmen pernikahan.
  2. Pengorbanan Tanpa Batas
    Di tengah kesehatannya yang tidak selalu prima, Hj. Masriyah tetap berjuang untuk memenuhi kebutuhan suaminya. Hal ini mengajarkan pentingnya pengorbanan bagi orang yang kita cintai, tanpa mengeluh dan dengan sepenuh hati.
  3. Semangat untuk Tidak Menyerah
    Meskipun proses pemulihan panjang dan penuh tantangan, pasangan ini tidak menyerah. Usaha yang terus-menerus, baik melalui pengobatan medis maupun alternatif, mencerminkan betapa pentingnya tidak putus asa dalam mencari solusi.
  4. Peran Keluarga yang Mendukung
    Anak-anak Daeng Situju dan Hj. Masriyah turut berperan dalam memberikan dukungan emosional dan logistik selama masa pengobatan. Ini mengingatkan kita akan pentingnya peran keluarga dalam menghadapi situasi sulit bersama-sama.
  5. Doa dan Keyakinan
    Dalam setiap usaha, pasangan ini tak pernah melupakan doa dan keyakinan kepada Tuhan. Ini mengajarkan bahwa spiritualitas adalah kekuatan tambahan yang bisa membantu kita melewati ujian hidup.
  6. Cinta sebagai Penyembuh
    Kehadiran dan dukungan Hj. Masriyah menjadi obat yang tak tergantikan bagi Daeng Situju. Hal ini menunjukkan bahwa cinta dan perhatian dapat memberikan semangat dan motivasi besar bagi seseorang untuk pulih dari sakit.
  7. Usia Bukan Halangan untuk Berjuang
    Meski sudah berada di usia senja, Daeng Situju dan Hj. Masriyah menunjukkan bahwa semangat hidup tidak mengenal usia. Perjuangan mereka menginspirasi kita untuk terus berusaha dan tidak menyerah, berapa pun usia kita.
  1. Cinta yang Tak Pernah Padam
    Kisah Hj. Masriyah adalah contoh nyata bahwa cinta sejati tidak mengenal batas waktu. Di tengah kelelahan, kesulitan, dan keputusasaan, ia tetap berada di sisi suaminya. Ini mengajarkan kita bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan, tetapi juga tentang ketulusan dalam merawat, mendukung, dan menemani orang yang kita cintai, terutama dalam saat-saat sulit.
  2. Kesetiaan yang Menginspirasi
    Ketika usia sudah lanjut, dan tubuh mulai lemah, Hj. Masriyah menunjukkan bahwa cinta sejati adalah komitmen tanpa syarat. Ia tidak memilih untuk mencari jalan keluar yang mudah, tetapi memilih untuk tetap setia mendampingi suaminya meski perjalanan pemulihan begitu berat. Ini adalah pesan penting tentang keteguhan hati dalam menjalani hidup bersama pasangan, apapun rintangannya.
  3. Kekuatan dalam Pengorbanan
    Masriyah, meski tidak dalam kondisi sehat, rela berkorban lebih banyak demi suaminya. Ini mengajarkan kita bahwa pengorbanan sejati seringkali datang tanpa berharap imbalan. Cinta yang tulus tidak mencari keuntungan pribadi, melainkan mencari kebahagiaan orang yang kita cintai, bahkan jika itu berarti melewati banyak kesulitan.
  4. Kekuatan Doa dan Harapan
    Selain usaha medis, doa dan harapan mereka kepada Tuhan menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam perjalanan panjang ini. Ini mengingatkan kita bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada sebuah harapan dan doa yang tulus. Dalam situasi yang paling sulit sekalipun, kita selalu dapat menemukan kekuatan dalam keyakinan bahwa ada yang lebih besar yang memegang kendali.
  5. Setiap Langkah Bersama Menjadi Berarti
    Setiap langkah kecil yang Daeng Situju ambil dalam proses pemulihannya menjadi sangat berarti karena ia tidak menempuhnya sendirian. Keberhasilan kecil yang terlihat, seperti bisa berdiri atau berjalan kembali, adalah hasil dari perjuangan bersama, diiringi dengan doa, cinta, dan harapan. Ini mengajarkan kita bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang tujuan akhir, tetapi tentang setiap langkah yang kita lalui bersama orang-orang yang kita cintai.
  6. Kebersamaan Adalah Kekuatan Terbesar
    Ketika Daeng Situju merasa lemah dan bergantung sepenuhnya pada istrinya, ia menemukan kekuatan terbesar dalam kebersamaan. Ini menunjukkan bahwa dalam masa-masa tersulit sekalipun, memiliki seseorang yang setia di sisi kita bisa menjadi sumber kekuatan yang tak ternilai. Ini mengingatkan kita untuk selalu menjaga dan menghargai orang yang ada di sisi kita, karena mereka adalah sumber kekuatan sejati.
BACA JUGA :  Pidato Sakral Marc Klok Bakar Mental Juara Persib : Godog Cemoohan PSM Jadi Energi Menuju Hat-Trick Sejarah Liga Indonesia!

Kisah ini bukan hanya tentang perjuangan fisik untuk kesembuhan, tetapi juga tentang kekuatan hati, ketulusan, dan pengorbanan yang membentuk dasar dari hubungan yang tak tergoyahkan. Semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua untuk lebih menghargai cinta dan pengorbanan dalam hidup kita…

BACA JUGA :  Lapas Kelas IIB Bangko dan BPS Merangin Perkuat Sinergi Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Penulis : Sahabuddin

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Hj. Masriyah

Berita Terkait

Warga Desa Gading Kulon Jadi Korban Sertifikat PRONA 2010 dan PTSL 2018, Terindikasi Cacat Administrasi dan Yuridis, BPN Jadi Sorotan Publik 
Polres Barsel Bedah Rumah Warga Keladan
Perkuat Deteksi Dini Gangguan Kamtib, Lapas Bangko Gelar Razia Rutin Blok Hunian Warga Binaan
Polres Barsel Ziarah ke TMP Abdi Kencana: Komitmen Lanjutkan Pengabdian Pahlawan
Menjadi Cahaya di Tengah Keterbatasan, WBP Lapas Bangko Diajak Menebar Manfaat bagi Sesama
Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 
HUT Bhayangkara ke-80, Polres Barsel Kumpulkan 26 Kantong Darah Lewat Donor Massal
Berkumpul tokoh sentral adat, PYM Datu Amir MA (Sultan Sambaliung), PYM Adji Raden M. Bahkrun (Sultan Gunung Tabur), serta H. Datu Dissan Hasanudin Maulana (Sultan Bulungan)
Berita ini 153 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 08:51 WIB

Warga Desa Gading Kulon Jadi Korban Sertifikat PRONA 2010 dan PTSL 2018, Terindikasi Cacat Administrasi dan Yuridis, BPN Jadi Sorotan Publik 

Kamis, 25 Juni 2026 - 21:11 WIB

Polres Barsel Bedah Rumah Warga Keladan

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:37 WIB

Polres Barsel Ziarah ke TMP Abdi Kencana: Komitmen Lanjutkan Pengabdian Pahlawan

Kamis, 25 Juni 2026 - 10:57 WIB

Menjadi Cahaya di Tengah Keterbatasan, WBP Lapas Bangko Diajak Menebar Manfaat bagi Sesama

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:37 WIB

Progam PRONA 2010 dan PTSL 2018 Desa Gading Kulon, Diduga Merugikan Negara, Masyarakat dan Ahli Waris Hingga Ratusan Juta Rupiah 

Berita Terbaru

Hukum

Keluhan Warga Soal Dugaan Antrean Solar di Barru

Kamis, 25 Jun 2026 - 21:48 WIB

Nasional

Polres Barsel Bedah Rumah Warga Keladan

Kamis, 25 Jun 2026 - 21:11 WIB

Berita Utama

Keadilan Tak Boleh Jauh, Bapelkum Bitung Perkuat Posbankum Desa

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:43 WIB