Kelangkaan BBM di Jember, Warga Antre hingga Subuh

- Publisher

Selasa, 29 Juli 2025 - 09:55 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

💰 Ayo Dukung Keberlanjutan Media & Jurnalisme
+ Berpartisipasi

SUARA UTAMA – Jember, 29 Juli 2025 — Antrean panjang kendaraan terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Jember sejak Sabtu (26/7), menyusul terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM). Warga dari berbagai kecamatan harus mengantre selama berjam-jam, bahkan sejak dini hari, demi mendapatkan jatah bahan bakar.

Kelangkaan ini dipicu oleh penutupan jalur nasional Gumitir, yang selama ini menjadi jalur utama distribusi logistik dari Banyuwangi ke Jember, termasuk pengiriman BBM dari Depo Pertamina Tanjungwangi. Jalur alternatif seperti Arak-Arak dinilai tidak efektif karena kondisi medan, sementara rute melalui Probolinggo terhambat perbaikan jembatan di Klakah, Lumajang.

Lonjakan harga juga terjadi di tingkat pengecer. BBM eceran dilaporkan dijual seharga Rp17.000 hingga Rp25.000 per liter, jauh di atas harga normal. Beberapa pengendara mengaku terpaksa membatalkan kegiatan harian karena kehabisan bahan bakar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Iqbal Amanta, seorang pekerja lepas asal Gumukmas, mengaku harus mendorong motornya sejauh hampir 30 km setelah tidak kebagian bensin usai mengantre selama tiga jam.

BACA JUGA :  5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liputan Gunung Anak Krakatau, Founder YSUI Ajak Insan Pers Panjatkan Doa

 

Respons Pemerintah Daerah

Dalam wawancara yang diunggah oleh Radar Jember pada Sabtu (27/7), Bupati Jember menyatakan bahwa kelangkaan BBM bukan merupakan masalah mendasar, melainkan efek dari penutupan jalur nasional.

“Ini bukan hal yang fundamental ya, karena ini dampak dari penutupan jalan nasional. Kami akan koordinasi dengan Pertamina untuk mengambil langkah cepat agar tidak berdampak besar,” ujar Bupati.

Pernyataan tersebut memicu tanggapan publik. Berdasarkan pemantauan media sosial oleh kontributor Jember Yang Itu, sebanyak 50% komentar di unggahan video mengandung kritik langsung, sementara 25% lainnya bernada sinis. Sisanya lebih bersifat netral atau informatif.

Sebagai tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Jember pada 29 Juli 2025 menetapkan kebijakan work from home (WFH) untuk instansi pemerintah dan sekolah. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mengurangi mobilitas masyarakat selama kelangkaan BBM berlangsung.

 

Langkah Pertamina dan Dampaknya

Pertamina menjelaskan bahwa pihaknya telah mengirimkan truk tangki BBM sebelum jalur ditutup. Namun, distribusi mengalami kendala karena kemacetan panjang. Sebagai solusi, Pertamina melakukan alih suplai dari Terminal BBM Surabaya dan Malang untuk wilayah Jember dan sekitarnya.

BACA JUGA :  Kabut Asap Pekat Selimuti Padang Pariaman, Masyarakat Diimbau Waspadai Gangguan Pernapasan

“Distribusi BBM tidak hanya bergantung pada stok, tetapi juga jalur distribusi yang lancar. Saat ini kami upayakan percepatan pengiriman dari jalur lain,” ujar Hendra Saputra, Sales Brand Manager Pertamina wilayah Jember.

Kebutuhan BBM di Jember diperkirakan mencapai 700 kiloliter per hari. Gangguan pasokan ini mulai memengaruhi daerah sekitar seperti Bondowoso dan Lumajang. Beberapa aktivitas warga dan sektor informal pun terdampak.

 

Minimnya Mitigasi dan Komunikasi Krisis

Eko Wahyu Pramono, pengamat kebijakan publik, menilai bahwa krisis BBM di Jember seharusnya dapat diantisipasi lebih awal. Menurutnya, ketergantungan pada satu jalur distribusi menunjukkan lemahnya desain mitigasi logistik di tingkat daerah.

“Penutupan jalur nasional memang di luar kendali daerah, tapi dampaknya bisa diprediksi. Ini menandakan absennya rencana darurat. Padahal Jember adalah kabupaten besar dengan konsumsi BBM yang tinggi,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (29/7).

BACA JUGA :  Antrean BBM Mengular di Denpasar dan Badung, Pengelola SPBU Ungkap Kendala Pasokan

Ia juga menyoroti pernyataan pejabat publik yang menyebut krisis ini bukan masalah mendasar. Menurutnya, narasi semacam itu berisiko menimbulkan jarak dengan kondisi nyata yang dirasakan warga.

“Komunikasi publik dalam situasi krisis harus memuat empati, bukan sekadar klarifikasi. Kalimat seperti ‘bukan fundamental’ mungkin benar dalam konteks kebijakan, tapi tidak relevan bagi warga yang antre sejak subuh. Di situlah empati diuji,” tambah Eko.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa distribusi BBM bukan hanya soal teknis logistik, tetapi juga berkaitan erat dengan mobilitas, produktivitas, dan stabilitas sosial masyarakat.

“Kelangkaan BBM bisa meluas jadi krisis sosial jika dibiarkan. Pemerintah daerah perlu membangun skenario distribusi alternatif dan memperbaiki sistem peringatan dini untuk kejadian serupa,” tegasnya.

Hingga berita ini ditulis, beberapa SPBU mulai menerima pasokan BBM baru. Namun antrean masih terjadi di sejumlah titik. Warga berharap agar distribusi kembali stabil dan pemerintah lebih siap menghadapi gangguan serupa di masa mendatang.

 

Penulis : Odie Priambodo

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita: Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan
Pasca Pemberitaan Pabrik PT Sasa Inti Gending Bersihkan Sampah di Area Irigasi, Petani Meminta OPD melakukan Investigasi
Pemkot Pangkal Pinang Serbu Titik Sampah Liar di Bukit Intan: Soroti Dampak Kesehatan hingga Siapkan Opsi Sanksi Tegas
BBM Jenis Pertalite Hilang di Pasaran Pengecer, Pedagang Keliling Sebut Urat Nadi Masyarakat Pegunungan Hilang 
Kebakaran Gunung Arjuno – Welirang, Founder Persatuan Kelana Alam Indonesia Ajak Masyarakat Berdoa dan Turun Hujan
Bapelkum Bitung Edukasi Pelajar SMAN 2 Bitung melalui Program “Bapelkum Bitung Mengajar”
Oknum Kepala SDN Brani Wetan 1 Terkesan Arogansi, Anti Kritik dan Intimidatif Saat di Konfirmasi Media
PP Barokatul Hasan Desa Tegalwatu Peringati HSN 2026, Payung Hias Mempunyai Filosofi dan Makna Yang Mendalam 
Berita ini 206 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:14 WIB

Terindikasi Tidak Layak Jadi Kepala SDN Brani Wetan 1, Aktivis Desak Disdikdaya dan Inspektorat Turun Tangan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Pasca Pemberitaan Pabrik PT Sasa Inti Gending Bersihkan Sampah di Area Irigasi, Petani Meminta OPD melakukan Investigasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Pemkot Pangkal Pinang Serbu Titik Sampah Liar di Bukit Intan: Soroti Dampak Kesehatan hingga Siapkan Opsi Sanksi Tegas

Jumat, 23 Oktober 2026 - 18:33 WIB

BBM Jenis Pertalite Hilang di Pasaran Pengecer, Pedagang Keliling Sebut Urat Nadi Masyarakat Pegunungan Hilang 

Jumat, 23 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Kebakaran Gunung Arjuno – Welirang, Founder Persatuan Kelana Alam Indonesia Ajak Masyarakat Berdoa dan Turun Hujan

Berita Terbaru

Chat via WhatsApp