SUARA UTAMA, TEHERAN—Iran merespons ultimatum Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dengan ancaman menutup permanen Selat Hormuz dan menyerang infrastruktur AS di kawasan, Minggu (23/03/2026).
Dilansir Reuters, Garda Nasional Iran siap menutup Selat Hormuz. “Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya dan tidak akan dibuka sampai pembangkit listrik kami yang hancur dibangun kembali,” ujarnya.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, siap menyerang berbagai infrastruktur energi milik AS dan Israel di Timur Tengah. “Selain peringatan-peringatan sebelumnya, jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang musuh, seluruh infrastruktur energi, teknologi infromasi, dan instalasi desalinasi milik Amerika Serikat dan entitas Zionis di kawasan akan menjadi sasaran,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan di X lembaga keuangan yang membiayai anggaran militer AS dianggap sebagai target Iran. “Selain pangkalan militer, lembaga-lembaga keuangan yang membiayai anggaran militer Amerika Serikat adalah target sah. Obligasi Amerika Serikat berlumur darah rakyat Iran. Membelinya berarti membeli serangan terhadap markas dan aset anda sendiri,” tulisnya.
Sehari sebelumnya Trump menyampaikan ultimatum melalui TruthSocial. “Jika Iran tidak membuka sepenuhnya, tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menghantam dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu,” tulisnya.
Ultimatum Trump terhadap Iran memukul pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik 0,90% ke level 113,20 dolar per barel pada Minggu malam, tertinggi sejak Juli 2022. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,63% ke 98,85 dolar per barel, naik 2,27% dari sesi sebelumnya.
Penulis : Keitaro Alfarizi
Sumber Berita: Reuterz, Truth Social & X











