Harmoni Nyepi dan Idulfitri di Tengah Pencemaran Cahaya Buatan

- Publisher

Minggu, 22 Maret 2026 - 13:54 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Harmoni Nyepi dan Idulfitri di Tengah Cahaya Buatan
Oleh: Didik P. Wicaksono

Pemerhati sosial digital dan budaya kontemporer

SUARA UTAMA—Maret 2026 menghadirkan momen langka dalam kalender nasional: Nyepi (19/3) dan Idulfitri (20–21/3) jatuh hampir bersamaan, membentuk rangkaian sepekan libur nasional dan cuti bersama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedekatan dua perayaan ini mengingatkan bahwa tradisi keagamaan yang berbeda sering memiliki tujuan serupa: melatih pengendalian diri dan kepedulian terhadap sesama.

Hidangan opor ketupat dan kue lebaran, misalnya, kerap diterima warga lintas agama, termasuk komunitas Hindu. Di Bali juga ada tradisi “ngejot”: umat Hindu dan Muslim saling berbagi makanan atau hasil bumi—cermin kehidupan toleransi.

Hari Raya Nyepi dikenal sebagai hari sunyi ketika masyarakat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian: tidak menyalakan api atau cahaya (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).

Aktivitas publik hampir berhenti total—bandara ditutup, jalan raya lengang, dan langit Bali jauh lebih gelap dari biasanya—sementara masyarakat menjalani mulat sarira, “bercermin” tentang hubungan manusia dengan alam dan kehidupannya.

BACA JUGA :  BEM STIKES Bina Bangsa Majene Bawa Aspirasi Sulawesi Barat di Pratemu Nasional XV BEM Nusantara 2026

Nyepi dan Idulfitri tahun ini memperlihatkan praktik toleransi. Malam takbiran di Bali tetap diperbolehkan dengan batasan: di masjid atau musala, tanpa pengeras suara luar dan takbir keliling, berlangsung pukul 18.00–21.00 WITA dengan berjalan kaki—sebuah penghormatan terhadap keheningan Nyepi di tengah perayaan kemenangan Idulfitri.

Idulfitri menandai berakhirnya Ramadan, bulan ketika umat Islam berpuasa sejak fajar hingga matahari terbenam untuk mengekang hawa nafsu, emosi, dan ucapan—menuju takwa, kesadaran etis yang menuntun hidup.

Nyepi dan Ramadan sama-sama menghadirkan ruang batin: Nyepi menghentikan aktivitas dan cahaya, sementara Ramadan melatih disiplin pengendalian diri—ruang reflektif yang kian langka di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat.

Kajian kesehatan menunjukkan meningkatnya paparan cahaya buatan pada malam hari—fenomena yang dikenal sebagai light pollution. Lampu jalan, papan reklame digital, televisi, dan terutama layar ponsel membuat malam tidak lagi benar-benar gelap.

Berdasarkan kajian neuropsikologi cahaya biru dari layar dapat menghambat produksi melatonin yang mengatur siklus tidur manusia, sehingga gangguan seperti insomnia semakin umum. Dampaknya juga meluas: polusi cahaya memengaruhi navigasi burung migrasi, perilaku serangga malam, hingga siklus pertumbuhan sejumlah tumbuhan.

BACA JUGA :  Lapas Kelas IIB Sarolangun Klarifikasi Dugaan Keterlibatan Petugas, Kalapas: Kami Masih Lakukan Pendalaman Secara Menyeluruh

Perhatian terhadap fenomena ini juga muncul dalam pemikiran sosial dan budaya. Pemikir humanis Erich Fromm (1976) membedakan dua orientasi dasar kehidupan: “memiliki” (having) dan “menjadi” (being). Orientasi memiliki mendorong manusia terus mengumpulkan benda, status, dan pengakuan—logika yang mudah berkembang dalam ruang publik modern yang menilai popularitas dan visibilitas. Sebaliknya, orientasi menjadi menempatkan pengalaman hidup sebagai proses batin yang reflektif dan tidak selalu memerlukan pengakuan publik.

Sementara itu, sosiolog Jerman Hartmut Rosa (2019) menyoroti percepatan kehidupan modern—dari teknologi hingga komunikasi—yang membuat ritme hidup semakin padat. Arus informasi yang terus mengalir sering kali menipiskan hubungan manusia dengan dunia. Rosa menyebut hubungan yang hidup dan bermakna itu sebagai “resonansi”, yakni keterhubungan manusia dengan waktu, lingkungan, dan pengalaman hidupnya sendiri.

Perubahan tersebut tampak pada kebiasaan sehari-hari: waktu tidur semakin larut, interaksi sosial banyak berpindah ke ruang daring, dan layar hampir selalu menyertai aktivitas manusia. Kehidupan modern pun menjadi semakin terang, cepat, dan terus terhubung.

Situasi ini membuat tradisi keagamaan seperti Nyepi dan Ramadan semakin relevan. Nyepi menghadirkan penghentian aktivitas eksternal melalui keheningan sehari penuh, sementara Ramadan melatih pengendalian diri melalui puasa dan disiplin hidup sehari-hari.

BACA JUGA :  Komnas PA Kota Batu Berikan Edukasi Perlindungan Anak pada Pertemuan Forum Anak Desa Tlekung

Kajian etika modern menyebut praktik semacam ini sebagai asketisme—latihan pembatasan diri untuk menjaga keseimbangan hidup.

Dari gagasan ini pula muncul istilah asketisme digital, yakni upaya sadar membatasi penggunaan perangkat dan media digital agar tidak sepenuhnya mendominasi kehidupan manusia.

Nyepi dan Ramadan lahir dari tradisi religius yang berbeda, tetapi keduanya menunjukkan pola serupa: penciptaan ruang sunyi di tengah ritme kehidupan. Jeda semacam itu bukan penolakan terhadap dunia, melainkan kesempatan menata kembali hubungan manusia dengan dirinya, sesama, dan alam.

Konteks Indonesia memperlihatkan bahwa kedekatan Nyepi dan Idulfitri tahun ini menunjukkan tradisi spiritual tidak hanya menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjadi cara masyarakat merawat keseimbangan hidup di tengah percepatan zaman. Pada akhirnya, ritme manusia selalu bergerak antara aktivitas dan keheningan, antara terang yang terus menyala dan ruang sunyi yang memberi kesempatan mengenali diri.

Selamat merayakan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri bagi umat yang merayakannya.*

 

Penulis : Didik P. Wicaksono

Editor : Didik PW

Berita Terkait

Tambang PT MTN Makin Dekat dengan Rumah Warga, 100 KK Palayo Mengeluh: Sosialisasi Dipertanyakan, Manajemen Bungkam ‎
Fakta Sidang Kasus 997 Ekstasi Samarinda: Advokat Krissandi & Partners Buktikan Kliennya Hanya Sopir Carteran Tanpa ‘Mens Rea’
Bapelkum Bitung Bekali 15 Peserta MagangHub dengan Etos Kerja dan Integritas
Mubeslub Ormawa UT Surabaya Bahas dan Tetapkan AD/ART sebagai Landasan Organisasi Mahasiswa
Pelatihan Menulis Digelar di MTS Mamba’ul Ulum Pekon Margoyoso, Tanggamus
Diakon Alex Pigai Apresiasi Kadis Pendidikan Dogiyai Bantu 50 Sak Semen
Minggu Biasa XIV, Umat Paroki Idakebo Diajak Tetap Pegang Tangan Tuhan.
Dinas PUPR Dogiyai Bangun Bronjong di Kali Wani
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:50 WIB

Tambang PT MTN Makin Dekat dengan Rumah Warga, 100 KK Palayo Mengeluh: Sosialisasi Dipertanyakan, Manajemen Bungkam ‎

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:43 WIB

Fakta Sidang Kasus 997 Ekstasi Samarinda: Advokat Krissandi & Partners Buktikan Kliennya Hanya Sopir Carteran Tanpa ‘Mens Rea’

Selasa, 11 Agustus 2026 - 02:19 WIB

Bapelkum Bitung Bekali 15 Peserta MagangHub dengan Etos Kerja dan Integritas

Senin, 10 Agustus 2026 - 17:25 WIB

Pelatihan Menulis Digelar di MTS Mamba’ul Ulum Pekon Margoyoso, Tanggamus

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:38 WIB

Diakon Alex Pigai Apresiasi Kadis Pendidikan Dogiyai Bantu 50 Sak Semen

Berita Terbaru

Berita Utama

Bang Nahar Strategis Wafat, Sulbar Kehilangan Putra Terbaiknya

Selasa, 11 Agu 2026 - 16:33 WIB

Berita Utama

15 Peserta MagangHub Mulai Jalani Pemagangan di Bapelkum Bitung

Selasa, 11 Agu 2026 - 12:15 WIB

mancingjitu slot thailand slot thailand https://www.marcopolodijon.com/