Dari Rumah ke Pesantren: Membangun Generasi Mandiri dan Berakhlak Mulia

Selasa, 14 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Ilustrasi semangat belajar santri-santri pondok pesantren (Dok. Pribadi Imanuddin/SUARA UTAMA)

FOTO: Ilustrasi semangat belajar santri-santri pondok pesantren (Dok. Pribadi Imanuddin/SUARA UTAMA)

SUARA UTAMA Menyekolahkan anak di pondok pesantren memang butuh perjuangan. Orang tua maupun anak harus kuat berjuang dan berkorban.

Perjuangan anak pesantren tentu berat dirasa. Hidup jauh dari keluarga. Merasakan tekanan dan terkekang dengan sistem pondok yang ada. Atau harus memendam rindu saat merasakan kangen suasana rumah.

Tak jarang anak putus pesantren karena tidak mampu mengelola rasa rindu ini. Akhirnya anak menyerah, tidak betah. Dan orang tua mengalah, tak kuat menahan iba.

Begitulah perjuangan penuntut ilmu. Rasulullah Saw. pun memberikan apresiasi pada penuntut ilmu dengan sabdanya: “Barangsiapa yang menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

Adapun bagi orang tua, salah satu perjuangan berat yang dirasa adalah saat mengantar anak kembali ke pondok. Apalagi jika pondoknya berada di lokasi yang jauh. Orang tua harus siap berkorban waktu, tenaga, biaya bahkan rasa lelah raga dan jiwa. Tapi, itulah namanya perjuangan dan pengorbanan, harus sama-sama dinikmati anak dan orang tua.

Ketika Harus Mengantar Pulang

Hari ini saya berkesempatan mengantar putri saya kembali ke pondoknya di daerah Malang. Perjalanan menggunakan bus dari Karawang ditempuh hampir 12 jam.

Berangkat dari Karawang sekira pukul 09.00 dan tiba di Terminal Arjosari Malang sekitar pukul 20.00. Dari Arjosari masih butuh waktu untuk sampai di pondok yang lokasinya berada menuju ke arah Kota Batu.

Belum lagi ada kebutuhan barang yang harus dipenuhi anak sebelum masuk pondok. Akhirnya perjalanan dari Arjosari ke pondok malam itu tersita waktu, sebab harus mampir ke satu-dua toko.

Singkatnya, kami tiba di pondok sementara waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 22.00. Ya, dalam suasana tengah malam, kami baru sampai di pondok yang berada di perbukitan. Hening dan senyap yang menyelimuti area pesantren tentunya menjadi cerita yang sulit diungkap dengan kata dan tulisan. Pasalnya semua aktifitas pesantren sudah off. Hanya ada security yang berjaga.

Dalam suasana dibalut sepi yang membisu, saya sepertinya harus memendam rencana langsung pulang lagi malam itu juga. Rasa iba mulai hadir menyapa saat melihat tas koper dan bawaan lainnya yang harus dijinjing sendiri putri saya ke kamarnya menaiki tangga sampai di lantai empat.

Dan benar saja, sang putri sudah nampak tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Tak ada lagi kata yang keluar saat ditanya, selain derai air matanya. Saya tak bisa memaksanya lagi bicara, sebab rasa sudah memberi isyarat. Jadi saya harus pastikan jika saya akan pulang besok pagi. Dan barang-barang yang ada biarlah tetap disimpan di bawah.

Saya antarkan putri saya sampai gerbang gedung asrama. Dengan langkah pasti dia berjalan menuju kamarnya di tingkat 4. Setidaknya malam ini putri saya bisa mengusir sepi karena abinya masih ada menemani, walaupun harus tidur di masjid pesantren.

BACA JUGA :  Sebuah Program Fenomenal Luar biasa Era Presiden Prabowo : Makan Bergizi Gratis

Suasana Subuh di Pesantren

Pukul 02.50 bunyi bel berbunyi memecah kesunyian. Geliat aktifitas pondok mulai terasa, seiring fajar subuh yang tak lama lagi menyingsing. Sepuluh menit kemudian tepatnya pukul 03.00, bacaan murattal mulai menyeruak sejuk terasa. Seperti udara pagi yang dinginnya menembus pori-pori.

Surat yang dibaca adalah surat Ali Imran mulai dari ayat pertama. Setelah tigapuluhan ayat, bacaan berhenti. Lalu tak lama muncul suara bacaan Asmaul Husna menggema. Mengingatkan saya akan sebuah nasyid legendaris, nas-aluka yaa man huwallahulladzi… Sesaat saya hanyut dalam memori masa santri dahulu.

Dua putaran dzikir Asmaul Husna menyirami kalbu di awal pagi itu. Lalu murattal kembali diputar. Sementara di gedung asrama suara-suara gaduh mulai terdengar menandakan para santri bersiap Subuh. Sebagian makan sahur menjalani shaum Senin (ini diceritakan putri saya pagi harinya).

Tepat pukul 03.52 adzan subuh berkumandang. Satu persatu santri memenuhi ruangan masjid yang telah dibatasi hijab. Saya tentu tak melihat, namun suara riuh memberi tanda, mereka sudah mulai berkumpul.

Sepuluh menit jeda menuju Iqamah digunakan menunaikan sunnah qabliyah Fajar yang istimewa. Lalu tiba waktu Iqamah. Shalat subuh pun ditunaikan, dipimpin Imam seorang ustadz muda. Shaf laki-laki subuh hari itu hanya diisi beberapa orang saja. Sangat kurang untuk ukuran satu shaf di masjid yang berukuran besar itu. Maklum pondoknya memang khusus putri.

Surat As-Syams dibaca penuh khusyu pada raka’at pertama. Dilanjutkan surat Ad-Dhuha pada raka’at kedua. Selesai shalat, para santri berdzikir dipimpin musyrifahnya. Selepas dzikir, mereka bersiap menuju kelas untuk muraja’ah sampai pukul 06.00. Dan setelah itu ada waktu satu jam untuk istirahat sampai pukul 07.00 masuk kembali ke kelas.

Di sela-sela waktu tersebut, saya baru bisa bertemu lagi putri saya yang sudah berseragam lengkap dengan name tag identitasnya. Wajahnya sudah terlihat cerah ceria secerah pagi hari di kota Malang. Alhamdulillah, artinya saya sudah bisa tenang untuk kembali pulang.

Sebetulnya pengalaman saya mengantar anak kembali ke pondok bukanlah yang pertama. Kakak lelaki putri saya itu sudah hampir enam tahun mondok di daerah Garut. Tak terhitung saya bolak balik mengantarnya pulang. Namun, rasa dan pengalaman mengantar anak perempuan memang terasa berbeda.

Entahlah, malam itu di perjalanan Malang-Karawang, ada semacam energi yang menggugah rasa. Keinginan untuk menulis tiba-tiba membuncah, lalu tertuang menjadi catatan ringan ini. Semoga menjadi penyemangat para orang tua yang anaknya di pondok.

Selamat berjuang anak-anakku, merancang masa depan dari pesantren. Juga untuk semua anak-anak pondok di Indonesia; semangat mendunia!

_Bis malam perjalanan Malang-Karawang_

Penulis : Imanuddin Kamil

Editor : Andre Hariyanto

Sumber Berita : Wartawan Suara Utama

Berita Terkait

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf
Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka
AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026
Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan
Terindikasi Mengambil Alih Kewenangan Administratif Desa, Oknum Pengacara Negara Kab. Probolinggo Jadi Sorotan
Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya
Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial
Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:40

Akui Kecorobohan Proses Pelatihan Pra Seleksi Magang IM Japan, Aris Wais Warisman Sampaikan Permohonan Maaf

Jumat, 6 Februari 2026 - 21:04

Pemerintah Kecamatan Banyuanyar Ambil Sikap, Warga Pertanyakan Sanksi dan Permohonan maaf Secara Terbuka

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:15

AR Learning Center Resmi Tetapkan Struktur Manajemen Kelembagaan Masa Kerja 2026

Jumat, 6 Februari 2026 - 12:39

Tips Menyambut Ramadhan 1447 H: Bulan Penuh Rahmat, Ampunan, dan Keberkahan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:06

Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Terasa hingga Malang dan Wilayah Sekitarnya

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:41

Kesempatan Emas! AR Learning Center Buka 10 Program Pelatihan Profesional Sekaligus dengan Promo Spesial

Sabtu, 31 Januari 2026 - 20:20

Peringatan 1 Abad Hari Lahir :NU Tanggamus Adakan Istighosah

Sabtu, 31 Januari 2026 - 15:20

Satgas Jalan Lurus Kunjungi Ponpes Al Fatah, Untuk Klarifikasi Dugaan Bullying: Ponpes Al Fatah Akui Tidak Ada Bullying di Ponpes Al Fatah

Berita Terbaru